Padukuhan Sangurejo dulunya lekat dengan citra PaKuMis alias padat, kumuh, dan miskin. Kini, kampung yang terletak di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta itu telah berbenah lewat bantuan dosen pembimbing mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tak tanggung-tanggung, Padukuhan Sangurejo bahkan memperoleh penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.
Kiprah dosen pembimbing KKN UGM di Sangurejo
Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Atus Syahbudin, ikut terlibat langsung dalam pengembangan program kampung iklim di padukuhan Sangurejo.
Atus, sapaan akrabnya, sudah lama mendengar soal kondisi Sangurejo yang terkenal sebagai kawasan kumuh dan berjuang berbenah, hingga mendeklarasikan diri sebagai kampung ProKlim tahun 2023.
Setelah mengeksplorasi kampung itu lebih jauh, semangat Atus untuk menyalurkan ilmunya pun muncul, mulai dari aspek pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, dan pengelolaan sampah hingga kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
“Berbagai pembenahan melalui pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dilakukan oleh Sangurejo,” katanya dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (19/8/2026).
Maka dari itu, dalam pendampingan ProKlim Sangurejo, Atus memfokuskan pada penguatan kolaborasi akademik, penelitian, pemberdayaan masyarakat. Sebagai dosen pembimbing mahasiswa KKN, Atus juga memberikan pembekalan dan praktikum kurator keanekaragaman hayati di kampung iklim.
Inovasi dosen pembimbing KKN yang telah diakui Belanda
Salah satu inovasi yang Atus kembangkan untuk mewujudkan Sangurejo ProKlim adalah pemanfaatan limbah kulit salak sebagai bahan ecoprint.
Produk yang dikembangkan masyarakat melalui ECSA (Ecoprint & Craft Sangurejo) tersebut telah mengikuti berbagai pameran dan menjadi koleksi di Hortus Botanicus Leiden, sebuah kebun raya tertua di Belanda.
Pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dari gerakan masyarakat. Berbagai kegiatan dilakukan melalui edukasi, pengurangan dan pemanfaatan sampah, serta penguatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan dari tingkat rumah tangga.
Tak hanya pendekatan teknis, pengembangan ProKlim Sangurejo juga mengintegrasikan pendekatan sosial dan keagamaan. Nilai-nilai ekoteologi atau dakwah ekologi digunakan untuk mendorong kesadaran, bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.
Pendekatan tersebut menempatkan prinsip amanah, keseimbangan (mizan), dan larangan melakukan kerusakan (fasad) sebagai landasan moral dalam pengelolaan lingkungan.
“Implementasinya dilakukan melalui edukasi, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi air, dan berbagai aksi lingkungan berbasis masyarakat,” ujar dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM tersebut.
Kembalikan marwah program mahasiswa KKN
Semua itu, kata Atus, tak mungkin terwujud tanpa ada partisipasi dari pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan untuk mendukung program lingkungan di Sangurejo.

“Ini bukan pekerjaan satu orang. Banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Energi dan semangat tersebut perlu disatukan agar gerakan lingkungan di Sangurejo semakin kuat dan berkelanjutan,” ujar Atus.
Atus juga menyentil aksi nyata yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa KKN. Di bawah pengawasan Atus sebagai dosen pembimbing KKN UGM, mahasiswa diikutsertakan dalam aksi mengubah wajah baru Sangurejo menjadi kawasan asri.
Bagi Atus, perjalanan Sangurejo menuju ProKlim Lestari menjadi bukti jika pengelolaan lingkungan yang dibarengi oleh keterlibatan masyarakat dapat berkembang, bila didukung oleh beberapa sektor.
Kini, status Sangurejo berubah dari PaKuMis menjadi salah satu kampung yang masuk 32 nominasi ProKlim Lestari 2026, serta menjadi perwakilan utama Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-ECOSOC).
Menurut Atus, penghargaan itu tak hanya berdampak bagi akamsi tapi juga mahasiswa KKN bimbingannya. Sesuai dengan tujuan dan marwah KKN, Atus berharap mahasiswa tidak hanya berfokus pada kegiatan pengabdian, tetapi belajar untuk mengidentifikasi potensi lokal.
Tak lupa, sebagai dosen pembimbing KKN UGM, Atus juga meminta mahasiswanya untuk mendokumentasikan praktik pengelolaan lingkungan, mengembangkan edukasi masyarakat, serta mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Dosen pembimbing KKN UGM: Pengetahuan harus berdampak
Lewat pendekatan yang Atus lakukan, pertemuan antara pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat pun akhirnya terwujud. Keduanya bisa melihat potensi keanekaragaman hayati dan saling mengedukasi soal pengelolaan sampah.
Baik mahasiswa KKN maupun masyarakat dapat belajar soal konservasi tanah dan air, penghijauan, pengembangan ekonomi berbasis lingkungan. Penguatan kelembagaan masyarakat juga turut menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pemberdayaan tersebut.
Menurut Atus, keterlibatan mahasiswa dalam ProKlim juga menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk memastikan, bahwa pengetahuan yang dikembangkan di kampus dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Program KKN menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik di masyarakat. Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi yang dapat memperkuat program lingkungan yang sudah berjalan,” jelas dosen pembimbing KKN UGM tersebut,
Lebih dari itu, menurutnya, capaian ProKlim Lestari bukan semata-mata tujuan akhir berupa penghargaan, melainkan kesempatan untuk memperkuat model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan direplikasi di wilayah lain.
“Yang terpenting bukan hanya predikatnya, tetapi bagaimana pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang sudah dibangun dapat terus tumbuh. Di sinilah perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan,” tuturnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Program KKN yang Benar Terasa Manfaatnya dan Bisa Bikin Warga Nangis Kalau Mahasiswanya Pergi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

















