Meningkatnya jumlah pengangguran dari kalangan lulusan S1, lulusan S2, bahkan lulusan S3, tidak hanya disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaan. Persoalan mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja turut menjadi penyebab sulitnya mereka memasuki pasar kerja.
***
Saya pernah menulis beberapa liputan di Mojok tentang betapa berdarah-darahnya mencari kerja di era sekarang. Dari hasil ngobrol dengan banyak fresh graduate, polanya selalu seragam. Hari-hari mereka dihabiskan dengan memelototi portal lowongan kerja, mengirim puluhan lamaran dalam bentuk PDF, dan berujung pada email penolakan.
Misalnya, pengalaman Ade, lulusan PTS Jogja yang nekat merantau ke Jakarta bermodal ijazah S1. Ujung-ujungnya apes. Karena berkali-keli ditolak perusahaan, tak ada penghasilan, ia berakhir di kos sempit. Sekalinya dapat kerja, ia “hanya” bekerja sebagai tukang parkir.
Atau, ada juga Lita, pekerja asal Magelang. Sama seperti Ade, ia nekat merantau ke Jakarta modal modal ijazah S1. Saking senangnya dapat kerja setelah lama menganggur, ia mengadakan syukuran di kampung. Sialnya, belum juga gaji bulan pertama turun, perusahaan bubar karena memang bodong.
Serta banyak liputan lain.
Mereka, narasumber yang saya wawancarai, mengira gelar akademik yang dikejar susah payah selama empat tahun adalah jalan mulus masuk dunia kerja. Namun, realitasnya, ijazah mentereng itu sering kali ditolak mentah-mentah oleh perusahaan.
Penyebab lulusan S1 hingga S3 nganggur karena
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Mei 2026, ada lebih dari 1 juta orang (tepatnya 1.033.132 orang atau 14,31%) lulusan perguruan tinggi dari jenjang D-4 hingga S-3 yang berstatus menganggur.
Ratusan ribu tenaga terdidik ini mendadak sadar bahwa teori yang mereka pelajari bertahun-tahun di kelas tak cukup “sakti” untuk bersaing di dunia kerja.
Melihat fenomena ini, Guru Besar Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Prof. Dr. Tadjuddin Noer Effendi, menyoroti satu akar masalah yang selama ini membuat perusahaan enggan merekrut.
Menurutnya, kampus terlalu sibuk menjadi pabrik teori, namun luput membekali mahasiswanya dengan keahlian yang bisa langsung dieksekusi.
“Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang ke perusahaan bawa ijazah, bukan bawa keterampilan,” sentil Prof. Tadjuddin, sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (19/8/2026).
Penyakit mismatch atau ketidaksesuaian kompetensi inilah yang, menurut Tadjuddin, membuat sarjana kita berguguran di tahap rekrutmen.
Era AI jadi tantangan lain
Tantangannya makin berat ketika industri mulai bergeser ke arah pemanfaatan AI dan robotika.
Saat ini, perusahaan tak lagi terlalu peduli seberapa mentereng IPK di transkrip nilai, melainkan skill praktis apa yang bisa dikontribusikan untuk mengejar efisiensi teknologi.
Sudah minim keterampilan, sarjana kita juga harus berhadapan dengan struktur ekonomi yang sedang tidak stabil. Sektor industri padat karya yang biasanya menjadi wadah raksasa penyerap tenaga kerja kini tengah megap-megap.
Dihantam naiknya biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat, banyak perusahaan terpaksa putar otak melakukan efisiensi yang berujung pada gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Daripada bikin kampus baru, mending selesaikan masalah dengan cara ini
Lalu, bagaimana pemerintah merespons ledakan satu juta sarjana nganggur ini? Jawabannya justru mengundang kritik.
Alih-alih membenahi kualitas lulusan yang ada, pemerintah malah mewacanakan pendirian perguruan tinggi baru bernama Universitas Republik Indonesia (URI). Bagi Prof. Tadjuddin, langkah ini adalah solusi yang tidak nyambung dengan akar masalah.
Mendirikan kampus baru butuh waktu bertahun-tahun, padahal krisis pengangguran terdidik ini butuh diselamatkan hari ini juga.
“Bangsa ini sedang menghadapi pengangguran terdidik. Itu tidak dapat diatasi dengan mendirikan perguruan tinggi,” tegasnya.
Sebagai jalan keluar yang lebih taktis, Prof. Tadjuddin menyarankan agar pemerintah dan kampus berkolaborasi membangun pusat pelatihan vokasi modern. Sebuah program intensif yang secara spesifik dirancang untuk “memoles” sarjana pengangguran agar memiliki keterampilan praktis sesuai permintaan industri.
Jika program ini dieksekusi dengan masif dan tepat sasaran, ia optimis satu hingga dua juta pengangguran terdidik ini bisa diserap pasar hanya dalam waktu dua sampai lima tahun.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
















