Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kiat Guru Gen Z Hadapi Murid Pesimistis dan Rekan Kerja yang Kolot

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
24 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjadi Gen Z tak menjamin guru memahami muridnya yang juga Gen Z. Ada saja masalah murid yang membuat guru geleng-geleng kepala. Mulai dari sifat Gen Z yang pesimis, suka membanding-bandingkan, dan masih gagap di dunia kerja.

Guru Gen Z juga harus berhadapan dengan rekan kerja mereka yang baby boomers. Masalah style berpakaian saja dikomentari, Bos!

Tina* (25) adalah salah satunya. Dia merupakan guru Gen Z yang mengajar mata pelajaran Akuntansi di salah satu SMK swasta. Sebagai Gen Z, tak jarang dia punya nilai-nilai yang bertentangan dengan guru yang lebih senior alias baby boomers.

Guru Gen Z lebih banyak inovasi saat mengajar

Sebagai Gen Z, Tina mengaku memakai cara-cara inovatif untuk mengajar, sebab Gen Z cenderung bosan saat mendengarkan materi. Terlebih, mayoritas siswanya merasa salah jurusan, sehingga tidak semangat mengikuti pelajaran.

“Mau nggak mau akhirnya aku bilang, nggak ada ilmu yang nggak berguna. Aku lebih menekankan manfaat ilmu Akuntansi dalam keseharian mereka. Sedikit-sedikit aku tanamkan nilai bahwa Akuntansi itu menyenangkan,” ucap Tina saat diwawancarai Mojok pada Kamis (17/10/2024).

Selain itu, Tina berusaha menggunakan cara mengajar yang menyenangkan. Misalnya, satu kali dalam lima pertemuan, Tina akan membuka praktik untuk para siswa. Jadi tidak melulu mengajar soal materi. Pembelajarannya pun diusahakan yang bikin siswa tak bosan, misal mengambil contoh dari film, belajar lewat animasi atau video, dan sebagainya.

“Anak-anakku cerita, mereka kurang suka dengan guru-guru lain karena nggak mau mengulang atau ngajarin dari awal. Guru-guru di atasku menganggap murid-murid ini sudah bisa dasar ilmunya. Sementara, murid-murid di-drill doang, dikasih soal praktik, suruh jalan sendiri,” ucap Tina.

Gen Z dan mental ciutnya

Tina merasa Gen Z punya karakter yang suka membandingkan. Dalam hal jurusan saja, sebagai murid Akuntansi, mereka sering membandingkan pembelajarannya dengan jurusan lain, seperti jurusan Perhotelan atau Tata Boga.

Setiap jurusan akan belajar materi dan praktik di laboratorium. Akuntansi sendiri belajar menggunakan software atau menghitung uang seperti di bank-bank. Mereka suka iri dengan anak Tata Boga yang dianggap “hanya” memasak atau anak Perhotelan yang sering study tour ke kamar-kamar hotel.

Padahal menurut Tina setiap jurusan punya tantangan yang berbeda. Namun, para murid sering kali jadi pesimis untuk belajar. Mereka menganggap belajar tak lagi mengasyikkan.

Kalau sudah begitu, Tina lebih menggunakan pendekatan secara personal. Dia mencoba memposisikan diri layaknya teman. Namun, tetap menjaga jarak agar tak hanya menjadi pendengar tapi memberikan solusi. Bagaimanapun, dia tetap guru meski sama-sama Gen Z.

Gagap memasuki dunia kerja

Tina punya banyak keluhan soal kebijakan pemerintah mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Salah satunya program Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Program yang digagas oleh Nadiem Anwar Makarim itu terasa “di luar nurul” baginya.

Salah satu dampak yang dia rasakan bersama muridnya adalah kebijakan masa waktu magang. Pada kurikulum lama, murid kelas 12 SMK diwajibkan magang selama tiga bulan. Mereka juga masih belajar materi secara tatap muka. Namun, kebijakan itu berubah menjadi magang selama enam bulan penuh.

Sekolah memang menyiapkan sosialisasi selama satu hingga dua hari agar para murid siap bekerja nantinya. Namun, Tina merasa waktu itu tidak cukup untuk memahamkan siswa tentang dunia kerja, apalagi dengan usia mereka yang terbilang muda.

Iklan

“Nyatanya anak-anakku magang itu banyak sekali yang kaget dan bikin masalah akhirnya,” ucap Nita.

Contoh sederhana ketika muridnya belum paham tentang budaya perusahaan di jam istirahat. Murid-murid Tina menganggap ketika tugas mereka selesai, mereka bisa nongkrong di kantin dan tidak kembali ke meja kerja sampai jam pulang kantor.

Gen Z merasa tidak punya beban karena sudah menyelesaikan tugasnya. Murid Tina pernah bercerita jika dia merasa jadi bahan gunjingan di tempat magangnya.

“Anak-anakku ini kan sering bergerombol, terus kalau mereka pulang, pamit bareng. Nah mereka pernah tanya ke aku, ‘Bu ternyata kalau karyawan lain belum pulang, terus kita pulang duluan, itu jadi omongan ya?’” ucap Tina yang sedikit kaget dengan pertanyaan muridnya.

Beda prinsip guru Gen Z dan senior

Hubungan Tina dengan guru-guru senior tidak dekat. Topik pembicaraan mereka di ruang guru sering berbeda. Misalnya, guru-guru yang sudah berkeluarga seringkali membahas prestasi anak mereka atau cerita liburan keluarganya.

“Aku sih dengerin aja, nggak ikut nimbrung. Cuek bebek, kalau diajak ngomong langsung, baru iya, iya doang,” kata Tina.

Bahkan dari segi selera makan, Gen Z dan baby boomers punya perbedaan. Namun, apalah nasib menjadi Gen Z. Mau tidak mau, Tina harus mengikuti referensi mereka.

Suatu hari, salah satu murid kelas 12 yang pernah magang di suatu perusahaan. Perusahaan itu diketahui bermasalah karena mengajarkan para muridnya memanipulasi data dalam Akuntansi. Perusahaan itu juga sering didatangi pemeriksa pajak yang membuat karyawannya ketakutan.

Sebagai guru pembimbing, Tina merasa punya tanggung jawab untuk membantu muridnya agar tidak berada di lingkungan toxic. Sementara, para guru senior tidak mau menggubris.

Jika diurus, nama baik sekolah justru bisa tercoreng. Belum lagi, permasalahan dengan perusahaan yang sudah bekerja sama sejak lama. Urusannya ribet! Walaupun ditentang oleh guru-guru lain, Tina berinisiatif melakukan kajian ulang ke perusahaan.

“Aku sampaikan langsung ke perusahaan tersebut, ‘semisal murid saya, saya tarik dari perusahaan, mohon maaf apakah boleh?’” ucap Tina saat itu.

“Ya, waktu itu dengan sedikit perdebatan antara aku dan HRD yang ada di sana, tapi aku juga mau menyelamatkan anak-anakku ini,” lanjutnya.

Mau tidak mau. Sebagai guru yang juga Gen Z, Tina dianggap punya sifat memberontak. Namun, Tina tidak peduli. Dia berpegang teguh pada prinsipnya. Ketika salah, dia akan mengakuinya. Sebaliknya, yang menurut dia benar, dia akan perjuangkan.

Mulai dari situ, hal-hal sepele seperti cara berpakaian saja, guru-guru akan megomentarinya. Jahitan bajunya yang kurang sesuai karena membentuk lekuk tubuh atau model jilbabnya yang dianggap terlalu modis.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mendengarkan Alasan Para Gen Z Gemar Mengoleksi Banyak Tumbler

Ikuti artikel dan berita Mojok di Google News

Terakhir diperbarui pada 19 November 2024 oleh

Tags: baby boomersGen Zgenerasi zguruguru gen zsiswa
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle
Urban

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk
Urban

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO
Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.