Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mendengarkan Alasan Para Gen Z Gemar Mengoleksi Banyak Tumbler

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
31 Mei 2024
A A
Alasan Gen Z Gemar Mengoleksi Tumbler alias botol minum Menggemaskan, Cuma Fomo Atau Karena Melek Isu Sampah.MOJOK.CO

Ilustrasi Alasan Gen Z Gemar Mengoleksi Tumbler Menggemaskan, Cuma Fomo Atau Karena Melek Isu Sampah? (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Awalnya, Nina (32) hanya memiliki satu botol minum, atau yang kita kenal dengan istilah tumbler. Itu pun yang fungsinya standard saja, sekadar buat diisi air minum. Tidak lebih.

Namun, belakangan koleksi tumbler-nya menjadi empat buah. Dua lagi ia beli karena bentuknya yang lucu. Sedangkan satu lagi karena fungsinya bisa bikin es batu dalam botol tak mencair.

Iklan

Nina tak ingat secara pasti sejak kapan hobi mengoleksi tumbler ini muncul. Yang pasti, dosen salah satu PTS Jogja ini mengaku mulai gemar membeli tumbler baru karena “diracuni” oleh para mahasiswanya.

“Mahasiswaku banyak yang tumblernya gonta-ganti. Desainnya lucu-lucu. Fungsinya pun juga beda-beda. Nggak tahu kenapa gara-gara lihat itu aku jadi kena racun ngoleksi tumbler,” ungkapnya kepada Mojok, Kamis (30/5/2024).

Alasan Gen Z Gemar Mengoleksi Tumbler Menggemaskan, Cuma Fomo Atau Karena Melek Isu Sampah.MOJOK.CO
Netizen membagikan curhatan mereka di X soal obsesi mengoleksi tumbler (Tangkapan layar X @leyareen)

Senada dengan Nina, Putri (20), mahasiswa UNY, bahkan punya delapan tumbler di kosnya. Satu tumbler ia punya sejak masih SMA. Sedangkan tujuh yang lain dia beli sejak mulai kuliah dua tahun lalu.

“Candu kali, ya. Lihat yang lucu dikit bawaannya ingin check out,” jelas Putri.

Awalnya beli tumbler karena gengsi, lama-lama jadi kecanduan

Minat Putri pada tumbler muncul pada 2022. Sebelumnya, mahasiswa asal Jakarta ini mengaku kalau pandangannya soal botol minum itu biasa-biasa aja. Bahasa sederhananya, “yang penting bisa buat minum”.

Namun, semua berubah ketika dia hendak datang ke sebuah konser di Jakarta pada tahun tersebut. Pihak penyelenggara mengumumkan kalau pihaknya bakal menyediakan air minum gratis, sehingga penonton disarankan agar membawa alat minum sendiri.

Putri datang ke konser tersebut bersama teman-temannya. Acara, yang awalnya adalah ajang “adu outfit”, malah berubah jadi adu lucu-lucuan tumbler.

Teman-teman putri datang dengan tumbler yang beragam. Bentuknya pun beda-beda. Rata-rata terlihat menggemaskan.

“Masalahnya tumbler-ku standar aja. Nggak bagus-bagus banget, jadi nggak tahu ada rasa minder aja,” ungkapnya.

Sepulang konser, Putri kepikiran terus dengan bentuk tumbler teman-temannya yang menawan tadi. Sehingga, ia  akhirnya mulai mencari-cari tumbler sejenis di e-commerce supaya nggak minder lagi.

“Ya gitu, awalnya nemu satu yang lucu akhirnya check out. Jadinya keterusan, kalau ada yang lucu lagi, check out lagi. Sampai punya delapan.”

Wajar kalau Gen Z fomo sama botol minum ini

Perasaan kecanduan Putri atas tumbler berbentuk menggemaskan sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Perilaku yang kalau kata Putri, “Fomo”, tersebut nyatanya juga dialami banyak orang.

Masing-masing generasi memang memiliki kecenderungan yang tinggi untuk memiliki benda tertentu. Biasanya faktornya amat beragam, bisa jadi karena lingkungan, tren, maupun media sosial.

Soal obsesi Gen Z terhadap tumbler, sebenarnya bisa dilacak sejak memasuki masa pandemi Covid-19 lalu. Muaranya adalah Stanley Tumbler, merek botol minuman berbahan stainless asal AS, yang mencapai popularitasnya pada awal 2020 lalu.

Melansir laporan Dazed, sejak pertama dirilis pada 2016 lalu, Stanley sebenarnya tak terlalu diminati. Namun, sejak kehadiran TikTok yang meledak sejak 2020, penjualan brand ini meningkat tajam.

Muaranya adalah video-video yang menampilkan merek botol minum ini sering FYP di TikTok. Bahkan tagar #StanleyTumbler sudah ditonton satu milyar kali sepanjang tahun. Belum lagi ada banyak influencer yang membagikan ulasan botol ini semakin menambah hasrat ingin memiliki.

Iklan

“Dengan permintaan yang begitu besar, tidak mengherankan jika pendapatan merek ini melonjak dari 70 juta dolar AS pada tahun 2019, menjadi 750 juta dolar AS pada tahun 2023,” kata laporan yang ditulis 11 Januari 2024 itu.

Pengaruh #StanleyTumbler pun bikin banyak Gen Z, tak hanya di AS tapi juga di seluruh dunia termasuk Indonesia, punya minat lebih buat memiliki tumbler. Belum lagi saat pandemi banyak siswa diminta untuk punya botol sendiri. Sehingga, permintaan pasar pun semakin banyak.

Isu lingkungan dan gerakan zero waste menambah besar minat pada tumbler

Selain karena Fomo, obsesi Gen Z terhadap tumbler makin menggila seiring dengan mengarusutamanya isu lingkungan di kalangan generasi muda. 

Menurut survei Jakpat, 78 persen generasi muda (milenial dan Gen Z), mulai sadar dengan pentingnya menjaga lingkungan. Salah satu metodenya adalah dengan gerakan zero waste, yakni konsep yang mengajak kita untuk menggunakan produk sekali pakai dengan lebih bijak untuk mengurangi jumlah dan dampak buruk dari sampah.

Dalam kehidupan sehari-sehari, gerakan tersebut dilakukan dengan cara yang beragam. Masih menurut survei Jakpat, tiga aksi yang paling sering dilakukan adalah 1) menggunakan tote bag saat berbelanja (55 persen), 2) menggunakan tumbler (55 persen), dan mengurangi penggunaan plastik (54 persen).

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Modal Tumbler Corkcicle, Perantau dari Jogja Taklukkan Kerasnya Gengsi Pergaulan Kerja Jakarta

Ikuti artikel dan berita Mojok di Google News

Terakhir diperbarui pada 11 Juni 2024 oleh

Tags: Gen Zpilihan redaksistanley tumblertumblertumbler lucutumbler menggemaskan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.