Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Jagat

Perburuan Burung Kicau untuk Penuhi Skena Kicau Mania Tinggi: Jawa Jadi Pasar Besar, Bisa Ancam Manusia dan Bumi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 Mei 2026
A A
Perburuan burung kicau untuk penuhi pasar skena kicau mania tinggi, ternyata bisa ancam manusia dan bumi MOJOK.CO

Ilustrasi - Perburuan burung kicau untuk penuhi pasar skena kicau mania tinggi, ternyata bisa ancam manusia dan bumi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Skena kicau mania memang banyak dijumpai di banyak daerah. Terutama daerah-daerah di pulau Jawa. Namun, tingkat perburuan burung kicau yang tidak terkendali ternyata bisa mengancam bumi. Begitu yang dipaparkan pemerhati satwa sekaligus Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Donan Satria Yudha. 

Perburuan burung kicau di skena kicau mania tinggi: merusak ekosistem

Kicau mania (adu kicau burung) sebagai hobi yang terus memiliki banyak peminat membuat burung kicau masih menjadi komoditas unggulan yang meningkatkan angka perburuan burung di Indonesia. 

Donan mencoba berkaca dari kasus di Sumatera. Menghimpun data dari Flight (Protection Indonesia’s Birds), sepanjang tahun 2023-2025, penyitaan burung kicau diketahui mencapai hingga 134.515 ekor. Dari jumlah tersebut, sebesar 70,21% burung berasal dari wilayah Sumatera.

Seturut pengamatan Donan, fenomena perburuan burung kicau terjadi karena beberapa faktor, yakni budaya, ekonomi, hingga lemahnya pengawasan di kawasan habitat konservasi.

Perburuan tersebut, lanjut Donan, juga didasari berbagai alasan yang telah mengakar di masyarakat. Salah satunya memang karena maraknya hobi skena kicau mania. 

Namun yang menjadi masalah adalah ketika burung-burung yang diburu termasuk dalam spesies langka yang mengancam ekosistem. 

“Perburuan legal sebenarnya bisa menguntungkan apabila diatur dengan baik. Melalui sistem perizinan dan pengelolaan yang tepat, aktivitas tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian habitat. Namun, perburuan ilegal yang tidak terkontrol justru akan merusak keseimbangan ekosistem,” jelas Donan dalam keterangan tertulisnya di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Nilai jual burung kicau tinggi di Jawa dan ancaman bagi manusia dan bumi

Tingginya perburuan burung kicau di Sumatera tidak berdiri sendiri. Tapi sejalan dengan tingginya permintaan pasar. 

Donan menyebut, Jawa menjadi pelabuhan bagi burung-burung hasil buruan dari Sumatera. “Burung kicau memiliki nilai jual yang tinggi. Permintaan pasar, terutama di wilayah Jawa juga tinggi, alhasil rantai pasok burung hasil buruan terus berjalan,” jelasnya.

Selain itu, kerusakan habitat akibat alih fungsi hutan juga ikut mempersempit ruang hidup burung. Krisis habitat burung ini membuat spesies mereka lebih mudah tertangkap manusia, masuk ke pemukiman, dan lebih mudah diburu. 

Padahal dalam rantai ekosistem, burung memiliki peran penting pada proses penyerbukan, penyebaran biji, sekaligus sebagai pengendali hama alami. 

Ketika terjadi penurunan populasi burung, maka bisa dipastikan tidak hanya ekosistem yang terdampak, tetapi juga manusia. Apabila populasi burung menurun drastis, itu bisa mengganggu regenerasi hutan.

“Jika populasi burung menurun tajam, maka regenerasi hutan akan terhambat, yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya suhu bumi dan ancaman ledakan jumlah hama yang akan mengganggu sektor pertanian,” papar Donan.

Konservasi harus makin gencar dan melibatkan masyarakat lokal 

Atas situasi tersebut, Donan menggarisbawahi betapa pentingnya menggencarkan pendekatan konservasi. 

Iklan

Pendekatan konservasi tersebut, kata Donan, harus dilakukan secara inklusif dengan melibatkan masyarakat sebagai subjek. 

Tidak hanya itu, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menetapkan kawasan konservasi perlu digalakkan agar masyarakat dapat memiliki sudut pandangan lingkungan dan saling menjaga satu sama lain. 

“Biasanya, pemburu itu datang dari luar daerah dan justru masyarakat lokal yang benar-benar menjaga suatu kawasan. Untuk itu, mereka perlu dilibatkan sejak awal, misal melalui peraturan desa,” jelas Donan. 

“Jika masyarakat sudah memiliki sudut pandang lingkungan, bisa saja akan ada potensi ekowisata sebagai alternatif sumber penghasilan yang berkelanjutan,” sambungnya. 

Bagi Donan, masyarakat butuh pendekatan yang tidak hanya melarang, tetapi juga memberdayakan. Edukasi kepada generasi muda serta patroli rutin juga menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan upaya konservasi burung.

Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)

BACA JUGA: Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2026 oleh

Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Menormalisasi memberi bintang 5 ke driveri ojek online (ojol) meski tidak memuaskan. Bintang 1 bikin rezeki mereka seret MOJOK.CO
Catatan

Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga

2 Mei 2026
Bahaya Dolar ke Rupiah Tembus 17 Ribu Negara Makin Gila! MOJOK.CO
Cuan

Bahaya Dolar ke Rupiah Makin Gila dan Tembus 17 Ribu, Lalu Menjadi Gambaran Negara Sakit yang Semakin Kritis, Masyarakat Kecil dan Perintis Perlahan Mati

2 Mei 2026
1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa MOJOK.CO
Kilas

1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa

2 Mei 2026
Muhammad Rizky Perwira Zain, lulusan termuda S2 UGM kantongi gelar S2 Kesehatan Masyarakat dan S1 Kedokteran sebelum usia 25 tahun
Sekolahan

Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun

1 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh MOJOK.CO

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa MOJOK.CO

1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa

2 Mei 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.