ADVERTISEMENT

Lulusan S2 di Jogja Memilih Jadi “Kicau Mania” karena Susah Dapat Kerja, Memelihara Burung Obat Stres Terbaik Saat Nganggur

s2, kicau mania mojok.co

Saking susahnya cari kerja, Alvin (27), lulusan S2 salah satu PTN di Jogja, memutuskan untuk menggeluti hobi sebagai pecinta burung kicau atau “kicau mania”.

Sehari-hari, rutinitasnya tak jauh-jauh dari memberi makan, memandikan, dan menikmati setiap kicauan burung, sambil–kata dia dengan nada bercanda–”nonton orang-orang berangkat kerja”.

“Hiburan orang nganggur ‘kan begini,” kelakarnya saat ditemui Mojok, Minggu (8/2/2026) malam.

Awalnya hanya sebuah pelarian. Namun, setelah lama digeluti, hobi ini ampuh sebagai pelepas stres di kala nganggur. Meskipun, omongan sinis dari tetangga tetap terdengar di telinganya.

Kuliah tinggi-tinggi kok kerjaannya ngerumat burung,” ujar Alvin, menirukan kata-kata tetangga yang sering dia dengar.

Memelihara burung sedang jadi tren di kalangan anak muda

Memelihara burung kicau, atau orang-orang menyebutnya sebagai kicau mania, memang menjadi tren akhir-akhir ini. Bahkan, laman Good memasukkan hobi ini ke dalam kategori “10 hobi boomers yang mulai digandrungi milenial dan gen Z“. Bersama dengan memancing, memahat kayu, berkebung, hingga menulis surat.

Bahkan, ketika saya berkunjung ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasty) belum lama ini, salah seorang pedagang burung mengonfirmasi hal tersebut.

Kata dia, kalau 5-10 tahun lalu para pembeli burung kicau biasanya adalah bapak-bapak berumur (boomers), kini yang datang adalah kalangan anak muda.

“Yang datang ada yang masih kuliah, yang SMA juga makin banyak, Mas,” kata Agung, salah satu kicau mania yang sudah 10 tahun lebih berjualan burung di Jogja.

Burung yang dibeli pun beragam. Kata Agung, anak-anak muda biasanya mencari burung-burung kicau yang murah, seperti lovebird, parkit, dan kenari.

“Trennya pada cari lovebird sama parkit. Karena mungkin paling mudah dipeliharanya, Mas,” imbuhnya.

6 tahun kuliah sampai S2, memilih jadi kicau mania

Salah satu anak muda yang mulai hobi memelihara burung kicau adalah Alvin. Meski, pada awalnya ia memilih jadi kicau mania bukan karena hobi, tetapi pelarian.

“Awalnya dulu cuma pelarian aja. Lamar kerja di mana-mana susah, sambil nunggu biar nggak gabut ya pelihara burung. Eh, malah keterusan,” ujarnya.

Alvin kuliah di salah satu PTN ternama Jogja. Enam tahun ia habiskan untuk berhasil mendapatkan ijazah S1 dan S2. Biaya yang besar juga dikeluarkan demi meraih predikat master.

Sayangnya, setelah lulus, bukannya gampang cari kerja, ia malah ditolak perusahaan sana-sini. Kalau dia hitung, sudah ada puluhan lamaran kerja disebar, meski tak ada satupun yang menerimanya.

“Banyak yang nggak ada balasan. Ada yang beberapa kali tembus interview, tapi abis itu nggak ada kabar lagi.”

Maka dari itu, memelihara burung jadi “healing” terbaiknya buat melepas stres. Awalnya coba-coba, beli satu atau dua pasang burung. Hingga akhirnya, kini ia total memiliki delapan ekor yang dipelihara.

“Orang stres hiburannya sekarang kalau nggak main game, ya dengerin burung berkicau,” tawanya.

Baca halaman selanjutnya…

Tak pernah diomeli ortu, meskipun kerap dapat nyinyiran tetangga.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.