Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Lulusan S2 di Jogja Memilih Jadi “Kicau Mania” karena Susah Dapat Kerja, Memelihara Burung Obat Stres Terbaik Saat Nganggur

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Februari 2026
A A
s2, kicau mania mojok.co

Ilustrasi Kicau Manis (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saking susahnya cari kerja, Alvin (27), lulusan S2 salah satu PTN di Jogja, memutuskan untuk menggeluti hobi sebagai pecinta burung kicau atau “kicau mania”.

Sehari-hari, rutinitasnya tak jauh-jauh dari memberi makan, memandikan, dan menikmati setiap kicauan burung, sambil–kata dia dengan nada bercanda–”nonton orang-orang berangkat kerja”.

“Hiburan orang nganggur ‘kan begini,” kelakarnya saat ditemui Mojok, Minggu (8/2/2026) malam.

Awalnya hanya sebuah pelarian. Namun, setelah lama digeluti, hobi ini ampuh sebagai pelepas stres di kala nganggur. Meskipun, omongan sinis dari tetangga tetap terdengar di telinganya.

“Kuliah tinggi-tinggi kok kerjaannya ngerumat burung,” ujar Alvin, menirukan kata-kata tetangga yang sering dia dengar.

Memelihara burung sedang jadi tren di kalangan anak muda

Memelihara burung kicau, atau orang-orang menyebutnya sebagai kicau mania, memang menjadi tren akhir-akhir ini. Bahkan, laman Good memasukkan hobi ini ke dalam kategori “10 hobi boomers yang mulai digandrungi milenial dan gen Z“. Bersama dengan memancing, memahat kayu, berkebung, hingga menulis surat.

Bahkan, ketika saya berkunjung ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasty) belum lama ini, salah seorang pedagang burung mengonfirmasi hal tersebut.

Kata dia, kalau 5-10 tahun lalu para pembeli burung kicau biasanya adalah bapak-bapak berumur (boomers), kini yang datang adalah kalangan anak muda.

“Yang datang ada yang masih kuliah, yang SMA juga makin banyak, Mas,” kata Agung, salah satu kicau mania yang sudah 10 tahun lebih berjualan burung di Jogja.

Burung yang dibeli pun beragam. Kata Agung, anak-anak muda biasanya mencari burung-burung kicau yang murah, seperti lovebird, parkit, dan kenari.

“Trennya pada cari lovebird sama parkit. Karena mungkin paling mudah dipeliharanya, Mas,” imbuhnya.

6 tahun kuliah sampai S2, memilih jadi kicau mania

Salah satu anak muda yang mulai hobi memelihara burung kicau adalah Alvin. Meski, pada awalnya ia memilih jadi kicau mania bukan karena hobi, tetapi pelarian.

“Awalnya dulu cuma pelarian aja. Lamar kerja di mana-mana susah, sambil nunggu biar nggak gabut ya pelihara burung. Eh, malah keterusan,” ujarnya.

Alvin kuliah di salah satu PTN ternama Jogja. Enam tahun ia habiskan untuk berhasil mendapatkan ijazah S1 dan S2. Biaya yang besar juga dikeluarkan demi meraih predikat master.

Sayangnya, setelah lulus, bukannya gampang cari kerja, ia malah ditolak perusahaan sana-sini. Kalau dia hitung, sudah ada puluhan lamaran kerja disebar, meski tak ada satupun yang menerimanya.

“Banyak yang nggak ada balasan. Ada yang beberapa kali tembus interview, tapi abis itu nggak ada kabar lagi.”

Maka dari itu, memelihara burung jadi “healing” terbaiknya buat melepas stres. Awalnya coba-coba, beli satu atau dua pasang burung. Hingga akhirnya, kini ia total memiliki delapan ekor yang dipelihara.

“Orang stres hiburannya sekarang kalau nggak main game, ya dengerin burung berkicau,” tawanya.

Iklan

Baca halaman selanjutnya…

Tak pernah diomeli ortu, meskipun kerap dapat nyinyiran tetangga.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2026 oleh

Tags: burung kicauburung parkitkampus jogjakicau manialomba kicau manialovebirdlulusan s2memelihara burungpilihan redaksis2
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
Susahnya mahasiswa di kampus tanpa working space 24 jam: kerjakan tugas kuliah di kos burnout, ke coffee shop tidak punya uang MOJOK.CO

Susahnya Mahasiswa di Kampus Tanpa Working Space 24 Jam: Nugas di Kos Burnout, Ke Coffee Shop Tak Punya Uang

12 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan?

11 Agustus 2026
Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

12 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.