Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pengalaman Saya Kuliah di 2 Kampus Terbaik Jogja: Menjadi Liar di UNY, Menikmati Kasih Sayang Dosen dan Menjadi Mahasiswa Tertib di UAD

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
8 Desember 2025
A A
UNY Bikin Liar, Ketulusan Dosen UAD Bikin Saya Jadi Tertib MOJOK.CO

Ilustrasi UNY Bikin Liar, Ketulusan Dosen UAD Bikin Saya Jadi Tertib. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – UNY mengajarkan kebebasan. UAD mengajarkan ketertiban. Dan keduanya menguji kemampuan saya untuk bertahan sebagai manusia dewasa.

Kalau hidup akademik saya dibuat timeline, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) adalah masa muda yang liar. Sedangkan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), adalah fase “tobat akademik” yang begitu tertib sampai saya curiga bakal diminta tanda tangan pakta integritas tiap masuk kelas. 

Iklan

Dua kampus ini tidak sedang berkompetisi. Mereka cuma tidak sengaja menjadikan saya “percobaan biologis” tentang bagaimana manusia bisa berubah karakter hanya karena ganti lingkungan.

Ada orang yang kuliah empat tahun, lulus, hidup bahagia. Lurus seperti penggaris. Tapi hidup saya tidak sesederhana itu. 

Saya sempat jadi penghuni UNY lebih dari tujuh tahun, lalu pindah ke UAD lewat jalur RPL. Semacam jalur yang mengakui pengalaman hidup saya lebih valid daripada transkrip nilai saya yang carut-marut. Dua kampus itu akhirnya membentuk saya seperti uji coba laboratorium. Satu membuat saya liar, satu membuat saya tertib. Dan hingga hari ini saya masih bingung mana yang lebih “manusiawi”.

UNY: ekosistem seni yang bebas, berisik, dan indahnya tidak masuk akal

Saya kuliah di UNY, tepatnya di Fakultas Bahasa Seni dan Budaya namun demi menjaga marwah emosional kami menyebutnya tetap FBS. Dan percaya sama saya kalau FBS itu bukan sekadar fakultas, tapi bioma. Iklimnya beda dengan kampus. Ekosistem dan logika hidupnya apalagi.

Di FBS, kebebasan terjemahkan dalam sesuatu yang sangat bebas. Mahasiswa pakai kaos oblong? Biasa. Sandal jepit? Standar. Rambut gondrong? Identitas. Rokok di tangan? Networking. Ada yang bilang seni membebaskan manusia. Di FBS, seni tidak cuma membebaskan tapi mengizinkan kamu lepas kontrol.
Dan kehidupan kampusnya? Astaga. Setiap minggu ada pementasan. Teater. Musik. Pameran seni rupa. Pameran kriya. Pagelaran tari. Bahkan jathilan. Kalau fakultas lain sibuk mengurus PKM dan seminar motivasi, anak FBS sibuk menentukan naskah mana yang paling “mengguncang eksistensi”.

Kalau mau jujur, FBS itu mirip kampung seniman yang kebetulan diberi izin negara untuk meminjam bangunan beton.

Tapi kebebasan tidak datang tanpa harga. UNY, khususnya FBS, punya kultur yang secara emosional membuatmu harus mandiri tanpa perlu ditanya siap atau tidak. Di luar panggung teater dan dentuman musik, birokrasi UNY itu seperti film art-house gelap yang penuh simbol dan kamu dipaksa menafsirkannya sendiri.

Saya pernah hampir tamat dan mendapati diri saya tidak dicari siapa pun. Tidak ada dosen yang bertanya, “Kamu baik-baik saja?” atau “Skripsi kamu sampai mana?”. Bukan karena mereka jahat tapi karena kultur kami menganggap mahasiswa adalah makhluk otonom yang harus bisa bertahan hidup sendiri seperti semut rangrang.

Sayangnya, saya bukan semut rangrang. Saya lebih mirip kucing liar yang butuh dipanggil dulu baru mau makan.

UNY membersarkan saya. Tapi UNY juga membiarkan saya hanyut di lautan kebebasan yang indah sekaligus menyakitkan.

Baca halaman selanjutnya: Menjadi liar, lalu menikmati enaknya tertib.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Desember 2025 oleh

Tags: fbsfbs unyJogjaKampus di JogjaUADUniversitas Ahmad DahlanUniversitas Negeri Yogyakartauny
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Artikel Terkait

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO
Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO
Sosok

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

10 Agustus 2026
buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Konferensi pers menuju lima tahun Cherrypop sebagai lebaran skena MOJOK.CO

Cherrypop 2026: 5 Tahun Lebaran Skena, Jeda, dan Cerita-cerita di Balik Panggung yang Ubah Jalan Hidup Banyak Orang

10 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.