MOJOK.CO – Di layar digital, orang-orang joget bahagia dengan lagu “Kicau Mania”, tapi di alam suara burung-burung pelan-pelan hilang.
Beberapa pekan terakhir saya lumayan sering menggunakan jasa taksi online mengingat cuaca agak kurang ramah buat pesepeda ontel amatiran seperti saya. Rupanya driver memutar lagu berbahasa Jawa yang terdengar familiar di telinga saya:
“Kicau, kicau, kicau mania….”
Kejadian ini bukan sekali atau dua kali, tapi entah kenapa cukup sering saya jumpai. Sesampainya di rumah, saya lalu mencari lagu tersebut. Termasuk merapal lirik demi liriknya.
Kesan pertama saya terhadap lagu ini lazimnya warga kabupaten pada umumnya. Jujur, saya cukup enjoy. Namun, sekaligus overthinking. Apalagi lini masa media sosial saya sendiri tengah dijajah tren viral lagu garapan Ndarboy Genk feat. Banditoz Yaow 86 ini.
Di Tiktok dan Instagram Reels, dentuman irama bass bernuansa estetika jedag-jedug mengiringi dance challenge lagu “Kicau Mania”. Meski begitu, lagu ini nyatanya tak sesederhana hiburan musikal digital.
Fenomena budaya pop seperti ini sebenarnya adalah cara Gen Z dan Alfa membangun identitas diri. Mereka kini mulai meninggalkan Google atau Yahoo, dan lebih memilih mencari tren lewat konten visual di media sosial.
Namun, di balik ramainya algoritma ini, ada sisi gelap yang sering kita abaikan: sebuah tradisi sedang dijual demi konten, tanpa kita sadar ada masalah besar yang ikut terseret di dalamnya.
Lomba burung berkicau, meleburnya masyarakat tanpa melihat kelas sosial
Memelihara burung—atau kukila dalam budaya Jawa—bukan sekadar hobi iseng. Di arena gantangan, ada interaksi sosial yang sangat dalam. Tempat ini menjadi ruang pertemuan yang melampaui batas-batas status ekonomi.
Di gantangan, identitas kelas sosial tidak lagi penting. Mau direktur atau pekerja kasar, status mereka dilebur. Sebagai gantinya, mereka memburu apa yang disebut sebagai achievement status. Harga diri dan reputasi mereka murni ditentukan oleh seberapa hebat mereka merawat dan melatih kicauan burungnya agar menjadi juara.
Bagi masyarakat kelas bawah, arena ini adalah pelarian dari penatnya hidup di kota. Gantangan menjadi oase untuk melepas stres sekaligus tempat perputaran ekonomi rakyat yang sangat nyata.
Sementara itu, bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, arena ini menjadi oase psikologis penawar keterasingan hidup dalam sistem kapitalistik perkotaan, sekaligus tempat perputaran ekonomi rakyat yang sangat nyata.
Secara kultural, masifnya penerimaan publik terhadap lagu bernuansa jedag-jedug dan hipdut (hip-hop dangdut), seperti “Kicau Mania” ini juga menandai pergeseran paradigma yang cukup menarik. Genre ini secara historis selalu distereotipkan secara peyoratif sebagai kebudayaan Jamet atau kampungan oleh struktur masyarakat kelas menengah atas.
Walakin, daya dobrak media sosial nyatanya telah membalikkan hierarki tersebut. Alhasil, genre ini secara drastis dinormalisasi sedemikian rupa, hingga sah menjadi sentral budaya pop arus utama masa kini.
Namun, romantisasi di media sosial dan kehangatan interaksi antar-kelas ini menjadi masalah besar saat kita melihat realitas lingkungan.
Sisi gelap pasar burung
Sebuah riset di Pasar Depok Surakarta (2023) mencatat perputaran uang mencapai hampir Rp 1 miliar dalam waktu hanya tiga bulan, dengan lebih dari 7.000 burung diperdagangkan, termasuk jenis endemik dan dilindungi.
Di balik besarnya perputaran uang yang mencapai miliaran rupiah di pasar burung seperti Pasar Depok Solo, ada ancaman nyata yang tersembunyi. Terutama terhadap keberadaan burung di alam.
Keriuhan kontes dan cantiknya sangkar burung sering kali hanya jadi etalase atau pajangan depan. Memang, di dunia lomba burung berkicau ada aturan tegas, burung yang dilombakan wajib hasil penangkaran. Terutama jenis-jenis yang dilindungi.
Namun, di belakangnya, terdapat praktik gelap yang jauh lebih besar: perdagangan satwa liar tanpa izin, termasuk burung kicau. Hal ini sejalan dengan temuan Indraini Hapsari (2020) di artikel berjudul Negara Dan Ilegalitas: Studi Kasus Perdagangan Burung Di Wilayah Jakarta.
Baca halaman selanjutnya














