Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

Anwar Kurniawan oleh Anwar Kurniawan
1 Mei 2026
A A
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh MOJOK.CO

Ilustrasi Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Burung yang terancam punah di alam liar

Data terbaru dari Laporan Status Burung di Indonesia 2026 memberikan peringatan keras: dari 1.834 spesies burung di Nusantara, 159 di antaranya kini terancam punah secara global. Angka ini adalah bukti nyata bahwa hobi memelihara burung ini sedang berada di titik yang sangat kritis.

Sudah banyak penangkaran burung, tapi data menunjukkan, masih banyak burung hasil tangkapan liar terus diselundupkan melalui jaringan perdagangan gelap yang tak terjamah aturan.

Padahal, kita sudah punya dasar hukum kuat melalui UU Nomor 32 Tahun 2024. Ketegasan aparat sebenarnya mulai terlihat, misalnya saat penggagalan penyelundupan 14 ekor cucak ijo di Banyuwangi untuk direhabilitasi. Namun sayangnya, jaringan pasar gelap satwa ini sudah sangat berakar dan sistemik.

Pada akhirnya, anggapan bahwa memelihara burung adalah bentuk cinta alam justru jadi salah kaprah. Alih-alih melestarikan, hobi ini malah menjadi mesin pembunuh yang merusak keseimbangan hutan tropis. Tanpa burung-burung ini, tidak ada lagi penyebar benih alami dan pengendali hama serangga yang menjaga kesehatan hutan kita.

Lagu “Kicau Mania” menuntut pertanggungjawaban moral

Di titik persimpangan inilah, fenomena trending lagu “Kicau Mania” di layar gawai menuntut pertanggungjawaban moral. Media sosial memiliki kecenderungan mencerabut sebuah budaya dari akar materialnya. 

Glorifikasi tanpa basis literasi ekologis berpotensi besar menjadi bom waktu, sebab stimulasi konsumsi yang ditimbulkan oleh validasi budaya digital ini merupakan sinyal hijau bagi kartel pasar hitam untuk mengerahkan armada perburuan secara masif.

Tentu saya berharap, Ndarboy Genk feat. Banditoz Yaow 86 bisa menyisipkan pesan tentang pelestarian alam di setiap pertunjukkannya.

Jangan sampai viralnya lagu “Kicau Mania” memicu perilaku FOMO yang membuat orang berbondong-bondong memelihara burung hanya demi tren, tanpa dibekali literasi ekologis dan pemahaman aturan yang benar. Membeli burung tanpa tahu asal-usulnya, apalagi jika jenis tersebut termasuk satwa dilindungi, bukan hanya merusak kelestarian hutan, tapi juga bisa menyeret kita pada konsekuensi hukum yang serius.

Dalam pusaran arus informasi digital, kita tentu mendambakan proyeksi kebudayaan lokal di pentas global. Energi viralitas lagu ini semestinya mampu diorkestrasikan para pemengaruh dan kreator sebagai medium edukasi kampanye kesadaran kolektif. Perdagangan satwa liar harus ditentang dan jangan dinormalisasi.

Memang, selebrasi kelas pekerja yang berhasil menembus dominasi budaya elitis adalah sesuatu yang menggembirakan. Kendati demikian, manifestasi tradisi hobi burung ini butuh reformasi paradigmatik.  

Budaya pengerukan alam yang brutal harus hijrah menuju pemodelan agrobisnis penangkaran satwa (captive breeding) yang legal dan berkelanjutan. Ini menurut kawan dosen saya yang memang menggiati dunia perburungan, selain kesenian tradisi Karawitan.

Intinya, masalah burung ini bukan perkara remeh, kendati tampak receh. Amit-amit, joget TikTok yang saat ini berseliweran riuh di layar gawai, kelak hanya berujung pada elegi yang mengantarkan kesunyian abadi bagi langit dan hutan tropis Indonesia yang merindukan kicauan penghuni aslinya.

Penulis: Anwar Kurniawan
Editor: Agung Purawandono

BACA JUGA Lulusan S2 di Jogja Memilih Jadi “Kicau Mania” karena Susah Dapat Kerja, Memelihara Burung Obat Stres Terbaik Saat Nganggur dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.

Iklan

Tonton juga:

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2026 oleh

Tags: burung berkicauesaihobikicau maniandarboy genkpilihan redaksi
Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan, atlet ketik di bidang media and cultural studies; tertarik sama isu dan konten receh, apalagi dolar; dosen di kampus paling kalcer se-Solo Raya, ISI Surakarta.

Artikel Terkait

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO
Esai

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026
Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan MOJOK.CO

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan

24 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang "Hidup" buat Anak-anak. (sumber: InJourney)

Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang “Hidup” buat Anak-anak

23 Juli 2026
Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga MOJOK.CO

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga

25 Juli 2026
Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS MOJOK.CO

Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong

24 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.