Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
22 Juni 2026
A A
PNS di desa.MOJOK.CO

ilustrasi - PNS (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Banyak orang percaya bahwa lolos menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kelurahan adalah jalan paling aman untuk hidup tenang. Gajinya pasti, saingan sedikit, dan kerjaan santai. 

Di desa, kerja dengan seragam cokelat adalah lambang keberhasilan. Namun, kenyamanan ini mengorbankan satu hal yang jarang orang sadari: otak yang pelan-pelan jadi tumpul.

Iklan

Hidup enak karena SK PNS

Bagi Galuh (30), anggapan hidup enak itu benar adanya. Sudah lima tahun ia berseragam PNS di kelurahan tempat ia lahir. 

Sebagai warga asli, atau yang sering orang sebut “akamsi”, berhasil masuk menjadi PNS di desa sendiri adalah pencapaian tertinggi bagi keluarganya. Ia bekerja tanpa perlu buru-buru.

Setiap pagi, Galuh berangkat kerja pukul setengah delapan, mengerjakan beberapa pekerjaan “template”, lalu punya banyak waktu luang untuk mengobrol dengan rekan kerjanya.

“Slow living yang sebenarnya,” ungkapnya, seraya tertawa, saat dihubungi pada Minggu (21/6/2026).

Puncak kenyamanan Galuh, ada pada Surat Keputusan (SK) PNS. Di desa, SK ini bekerja seperti kartu sakti. 

Galuh langsung membawanya ke Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk meminjam uang Rp150 juta demi merenovasi rumah dan membeli motor baru. Pihak bank memotong cicilannya secara otomatis dari gaji Galuh selama sepuluh tahun. 

Hidupnya sudah terjamin aman, tanpa perlu mencemaskan besok mau makan apa.

Gaji di bawah pekerja di kota, tapi lebih “slow living” karena hidup di desa

Di atas kertas, gaji bulanan Galuh sebagai PNS sebesar Rp3,8 juta–gabungan gaji pokok dan tunjangan–memang terlihat kecil. Namun, Galuh punya prinsip: orang mengukur kemakmuran bukan dari besarnya gaji yang masuk, tetapi dari kecilnya uang yang keluar.

Galuh membandingkan hidupnya dengan sang kakak yang bekerja di perusahaan swasta di Jakarta bergaji Rp6 juta. Sekilas kakaknya terlihat lebih kaya, tetapi hitungan aslinya berbeda. 

“Ya kan karena merantau, jadi harus membayar kamar kos, uang transport, makan,” paparnya.

“Belum lagi keharusan orang kota yang biasanya nongkrong di tempat mahal.”

Sementara itu, Galuh tinggal di rumah warisan tanpa membayar uang kontrakan. Biaya hidup kecil, yang mana tiap harinya pengeluarannya untuk makan dan uang jajan anaknya tak seberapa.

Iklan

Alhasil, ia pun berhasil menghemat Rp2 juta yang mungkin bagi orang kota bakal habis dipakai untuk memenuhi tuntutan gaya hidup. 

“Kalau aku hitung ya, kalau nggak ada pengeluaran dadakan yang mendesak, ya rata-rata sebulan nggak sampai lah habis satu juta. Itu sisa banyak buat ditabung,” tegasnya.

Kenyamana bikin akal sehat mati

Namun, realitas berbeda dialami oleh Rian (26). Jika Galuh menikmati semua kenyamanan itu, Rian justru merasa tersiksa. 

Sarjana lulusan universitas negeri di Jogja ini mendaftar PNS di pemerintah kelurahan semata-mata karena “mematuhi” perintah ayahnya, seorang mantan lurah di desa tersebut.

Semasa kuliah, Rian terbiasa membaca “buku berat”, atau berdiskusi sampai malam. Dua hal ini yang sangat sulit, atau barangkali mustahil, ia temui di balai kelurahan.

“Lebih ke nggak ada sparing partner buat diskusi,” ujarnya.

Secara finansial, Rian membenarkan ucapan Galuh. Hidupnya makmur dan uangnya utuh. 

Namun setelah tiga tahun bekerja sebagai PNS di desa, Rian mendapati kenyataan yang menakutkan: kenyamanan kantor kelurahan ini pelan-pelan sedang mematikan akal sehatnya.

Budaya ABS PNS toksik dan bikin cara pandang tak berkembang

Rian menyebut dua hal yang membuat otaknya tumpul. Pertama, waktu luang yang berlebihan. 

Setiap pagi usai absen pukul 07.30, ia dan pegawai lain berjalan mencari sarapan. Mereka duduk di sana lebih dari satu jam hanya untuk membicarakan hal-hal tak penting.

“Boro-borong ngomongin program. Isinya malah gosip bapak-bapak,” jelasnya.

Ketika Rian kembali ke meja kerjanya, jobdesk dia amat template dan membosankan. Hanya berurusan dengan Microsoft Word, tak lebih.

Kedua, lingkungan kerja yang, kata dia, menolak kemajuan. Atasannya dan mayoritas rekan kerjanya sudah sepuh. Para baby boomers. 

Alhasil, mereka punya cara pandang kolot. Bahkan, cara pandang itu dimulai dari hal-hal sepele seperti menolak digitalisasi surat, pembuatan aplikasi pengaduan masyarakat, dan lain-lain.

“Di sini, nurutin boomers. Apa-apa kertas, apa-apa fotokopi,” kata dia.

Tak sampai di situ. Di balai desa, menjaga perasaan sesepuh jauh lebih penting daripada bekerja bagus. Ketika Rian mencoba kritis, misalnya, dengan menanyakan rincian dana suatu program, ia tidak mendapat rincian pengeluaran. Atasannya justru menegur Rian karena menilai anak muda itu terlalu lancang mencampuri urusan sesepuh desa.

Sebagai seseorang yang kenyang dengan kultur kritis khas mahasiswa perkotaan, ada perasaan geram melihat perilaku ini. Namun, ia sadar, bahwa sebagai PNS, kultur yang harus ia junjung tinggi adalah “asal bapak senang” alias ABS.

“Harus diakui, ada enaknya. Soal finansial kita terjamin. Tapi soal kewarasan akal, habis sudah,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Juni 2026 oleh

Tags: ASNDesagaji di desahidup di desaPegawai Negeri Sipilpekerjaan di desapilihan redaksiPNSpns desapns di desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO
Kilas

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perjalanan Kopikina menjadi kedai kopi populer di Jakarta yang dirintis oleh alumni Beasiswa LPDP MOJOK.CO

Jalan Kopikina dari Kedai Kopi Kecil dan Bukan untuk Bisnis Serius Jadi Brand Besar di Jakarta, Terapkan Ilmu dari Inggris

19 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

16 Juni 2026
Warung Kopi Aceh: Tempat Orang Terlihat Sibuk, Padahal Cuma Ngopi MOJOK.CO

Warung Kopi Aceh: Tempat Orang Terlihat Sibuk, Padahal Cuma Ngopi

19 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.