Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Juni 2026
A A
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Ilustrasi - Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi secara nyata kepada masyarakat. Namun, sebelum pelibatan kantin sekolah, ada hal penting yang tetap harus diperhatikan. 

***

Iklan

Baru-baru ini Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan karena mendapat dukungan luas dari siswa.

Dalam keterangannya kepada awak media, Mu’ti menyebut, sekitar 43,4 juta siswa yang menerima MBG dari juta dari total 53,5 juta murid di Indonesia (atau sekitar 80,94%-nya), sebagian besar mengharapkan program ini tetap dilanjutkan.”

Namun, dalam pelaksanaannya nanti, ada beberapa penyesuaian. Termasuk kemungkinan melibatkan kantin sekolah sebagai penyedia makanan bergizi, terutama di daerah daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Bagi Kepala BGN, Nanik S  Deyang, skema ini muncul sebagai salah satu bentuk penataan ulang terhadap skema MBG usai pimpinan BGN yang sebelumnya dijerat kasus korupsi dan berstatus tersangka.

Libatkan kantin sekolah sebagai mitra MBG: bisa menekan berbagai biaya

Merespons kemungkinan tersebut, Peneliti dari Pusat Studi Politik dan Transformasi Sosial (Puspolnas) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Syarifuddin, menilai wacana pemerintah menggandeng kantin sekolah sebagai mitra pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah strategis, realistis, dan tepat sasaran.

“Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dalam implementasi program ini, pelibatan kantin sekolah dapat menjadi alternatif kebijakan yang tidak hanya meningkatkan efektivitas program, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Syarif dalam keterangan tertulisnya di UMSURA, Rabu (17/6/2026).

Menurut penilaian Syarif, selama ini pelaksanaan MBG masih banyak bergantung pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sementara SPPG membutuhkan investasi besar, mulai dari pembangunan dapur, penyediaan peralatan, hingga biaya operasional distribusi makanan ke sekolah-sekolah.

Aspek distribusi, lanjut Syarif, menjadi salah satu komponen yang menyerap anggaran cukup besar dalam program tersebut. 

“Dengan melibatkan kantin sekolah sebagai mitra pelaksana, pemerintah dapat menekan berbagai biaya tersebut karena makanan dapat diproduksi dan disajikan langsung di lingkungan sekolah tanpa memerlukan proses distribusi yang panjang dan kompleks,” jelasnya.

Libatkan kantin sekolah di Program MBG bisa berdayakan ekonomi masyarakat

Pelibatan kantin sekolah dalam Program MBG nantinya juga tidak berhenti pada konteks efisiensi anggaran. Bagi syarif, kebijakan ini memiliki nilai strategis dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. 

Bagaimana tidak. Pedagang kantin sekolah yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem pendidikan berpeluang terlibat secara aktif dalam program nasional tersebut.

Dengan begitu, perputaran ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu yang memiliki akses modal besar, tetapi juga dapat dirasakan oleh pelaku usaha mikro dan kecil di lingkungan sekolah.

Iklan

“Pendekatan ini sejalan dengan semangat pembangunan inklusif yang memberikan ruang bagi masyarakat akar rumput untuk tumbuh dan berkembang,” beber Syarif. 

Hal penting yang harus diperhatikan

Seiring itu, Syarif mengingatkan bahwa pelibatan kantin sekolah harus dibarengi dengan persiapan yang matang. Pemerintah perlu memastikan setiap kantin yang ditunjuk memenuhi standar sanitasi, keamanan pangan, dan kelayakan fasilitas.

Selain itu, pengelola kantin bahkan perlu mendapatkan pelatihan terkait penyusunan menu seimbang, pengolahan makanan yang higienis, perhitungan kebutuhan gizi siswa, hingga manajemen keamanan pangan.

“Dengan dukungan tersebut, kantin sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berjualan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pendidikan kesehatan dan gizi bagi peserta didik,” jelas Syarif. .

Substansi utama makan bergizi: investasi jangka panjang pembangunan SDM

Lebih lanjut Syarif menggarisbawahi perihal substansi utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini: Pemenuhan kebutuhan gizi siswa merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Berbagai penelitian, papar Syarif, menunjukkan bahwa anak yang memperoleh asupan gizi memadai cenderung memiliki kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan anak yang mengalami kekurangan gizi.

Pemenuhan gizi juga sejalan dengan teori perkembangan kognitif yang dikemukakan psikolog Swiss, Jean Piaget. Dalam teorinya, Piaget menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan kognitif adalah maturation atau kematangan, yakni proses pertumbuhan biologis dan fisik yang menjadi dasar berkembangnya kemampuan berpikir seseorang.

“Kematangan fisik yang optimal sangat dipengaruhi oleh kecukupan gizi. Karena itu, keberhasilan pembelajaran di sekolah tidak hanya ditentukan oleh kualitas guru dan kurikulum, tetapi juga oleh kondisi kesehatan dan status gizi peserta didik,” jelasnya.

Oleh karena itu, pemerintah perlu terus mencari model pelaksanaan yang paling efektif, efisien, dan berkelanjutan. Salah satu opsi yang layak dipertimbangkan adalah kemitraan dengan kantin sekolah karena mampu mengintegrasikan tujuan peningkatan gizi siswa dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

“Dalam konteks ini, kantin sekolah tidak lagi sekadar tempat membeli makanan, melainkan dapat menjadi garda terdepan dalam mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis dan pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” tutupnya. 

Sumber: Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA)

BACA JUGA: Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2026 oleh

Tags: efisiensi mbgkantin mbgkantin sekolahmakan bergizi gratisMBGsppg
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil
Esai

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO
Esai

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO
Cuan

Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

21 Juni 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO
Kabar

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
WiFi di Kos MOJOK.CO

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

24 Juli 2026
Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026
Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.