Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
13 April 2026
A A
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - slow living (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bosan dengan rutinitas yang serba cepat dan tekanan kerja yang bikin stres setiap hari, banyak orang kota berkhayal bahwa pindah ke desa adalah jalan pintas menuju kedamaian. Kehidupan desa tergambar sangat sempurna. Ekspektasinya hidup tenang, jauh dari tekanan, tidak ada bos yang cerewet, dan bisa mempraktikkan gaya hidup slow living dengan damai.

Banyak yang merasa bahwa dengan pindah ke tempat yang sepi, semua masalah hidup di kota akan otomatis hilang. Nyatanya, alih-alih mendapat ketenangan yang diidam-idamkan, banyak pendatang dari kota yang malah kena mental dan menderita setelah menetap di desa. 

Penyebabnya, dan seringkali dilupakan, adalah anggapan bahwa desa merupakan “panti rehabilitasi” buat healing orang kota yang kelelahan. Padahal desa adalah sebuah ruang hidup yang punya aturan main, ritme sosial, dan hukum tak tertulisnya sendiri.

Jadi, kalau kamu merasa termasuk dalam satu atau beberapa dari empat tipe orang di bawah ini, sebaiknya kubur dalam-dalam niat tersebut daripada ujung-ujungnya malah menderita di tempat baru.

#1 Orang yang introvert, pikir dua kali buat slow living di desa

Di kota besar, kamu bisa saja tinggal di sebuah apartemen atau perumahan selama bertahun-tahun tanpa tahu siapa nama tetangga sebelah rumah. Kamu bisa menutup pintu rapat-rapat setelah pulang kerja, tidak ikut campur urusan warga, dan tidak ada satu pun orang yang peduli. Privasi di kota adalah hal yang lumrah dan dijunjung tinggi.

Namun, di desa, hal itu nyaris mustahil terjadi. Desa adalah tempatnya srawung. Secara sosial, nyaris tidak ada tembok tebal yang membatasi urusan antartetangga. Warga desa punya ikatan kolektif yang sangat kuat, yang berarti kehidupan pribadi kamu mau tidak mau akan bersinggungan dengan warga lain.

Kegiatan sosial di desa itu sangat padat dan menuntut kehadiran fisik. Mulai dari kewajiban ronda malam, kerja bakti, tahlilan, arisan RT, menjenguk tetangga yang sakit, hingga kewajiban rewang.

Kalau kamu adalah tipe orang introvert yang butuh banyak waktu sendiri untuk mengisi ulang energi, rutinitas desa ini akan sangat menyiksa. Tentu saja, kamu bisa memilih untuk tidak memedulikan tetangga, menutup pintu rumah rapat-rapat, dan fokus pada slow living. Namun, siap-siap saja kena mental karena pasti akan dicap sombong dan perlahan dikucilkan dari pergaulan kampung.

Realitas soal benturan kebutuhan privasi dan budaya srawung ini tergambar sangat jelas dalam pengalaman Kevin. Ia adalah seorang pekerja asal Jakarta yang kisahnya diangkat dalam liputan Mojok berjudul “Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung”.

Kevin nekat pindah ke Salatiga demi mempraktikkan slow living. Di sana, ia mencoba mempertahankan kebiasaan orang kota: menutup pintu rumah rapat-rapat saat sedang butuh privasi atau tidak ingin diganggu. Bukannya mendapat ketenangan, ia malah dicurigai macam-macam dan digunjingkan oleh tetangga. 

Di desa, pintu yang selalu tertutup rapat dianggap sebagai wujud kesombongan, karena nyawa utama kehidupan mereka adalah srawung alias membaur. Ketenangan yang awalnya dicari Kevin nyatanya hancur berantakan oleh tuntutan sosial yang tidak bisa dihindari.

#2 Orang di usia produktif

Seringkali, anak muda usia 20-an atau awal 30-an merasa burnout dengan pekerjaannya lalu memutuskan ingin hidup santai di desa saja. Pola pikir ini sangat berbahaya. Kalau kamu masih di usia produktif, lebih baik habiskanlah energi di kota. 

Secara logika dan hitung-hitungan ekonomi, desa bukanlah tempat utama untuk mencari uang, mengumpulkan aset, atau membangun jenjang karier.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Wonogiri, saya bisa mengafirmasi hal ini dengan sangat yakin. Di desa saya, budaya merantau ke kota besar sangatlah kuat. Anak-anak muda berbondong-bondong pergi ke Jakarta atau luar pulau setelah lulus sekolah. 

Iklan

Hal ini terjadi bukan karena kami tidak suka hidup tenang, tapi murni karena susahnya mencari lapangan pekerjaan yang layak di desa. Lapangan pekerjaan formal sangat terbatas dan standar upahnya jauh di bawah standar hidup yang nyaman. 

Bertahan di desa pada usia produktif, apalagi tanpa memiliki pekerjaan remote yang gajinya standar ibu kota, sama saja dengan siap hidup susah. Kamu bakalan stuck.

Banyak orang kota yang membantah dengan kalimat, “Lho, kan bisa buka usaha sendiri di desa? Pasti laku.”

Tunggu dulu. Berbisnis di desa punya tantangan yang bikin sakit kepala, terutama soal batas profesionalisme. Kamu akan berhadapan dengan warga yang sering meminta “harga teman” bahkan berutang tapi susah ditagih dengan dalih “masa sama tetangga sendiri perhitungan”.

Tak cuma di situ. Kamu juga bakal ketemu dengan pemuda desa yang etos kerjanya buruk. Hal ini persis seperti liputan Mojok soal orang kota yang nekat membuka usaha di desa demi slow living, tapi akhirnya malah dibikin muak oleh etos kerja warga setempat.

Liputannya bisa dibaca di sini: “Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya”

Pemilik usaha bernama Bagus (31), tersiksa karena pemuda lokal yang ia pekerjakan sering bersikap semaunya sendiri, gampang bolos, dan mengabaikan kedisiplinan dengan berlindung di balik alasan “asas kekeluargaan” atau “kan sama tetangga sendiri”. 

Sikap warga yang mengaburkan batas profesionalisme ini justru menjadi sumber stres baru. Jadi, selagi tenaga masih kuat, peras keringatlah di kota. Slow living di desa biarlah jadi agenda saat kamu sudah mendekati masa pensiun nanti.

Baca halaman selanjutnya…

Alasan mengapa kalau kamu (1) belum financial freedom, dan (2) pasangan muda belum punya anak, jangan sok-sokan berniat buat slow living di desa.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 13 April 2026 oleh

Tags: budaya desacara bisa slow livingdaerah untuk slow livingDesafinancial freedomgen z slow livingintrovertkehidupan desapilihan redaksislow livingslow living di desawarga desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Essay Contes Beswan Djarum: menulis esai memberi soft skills yang menunjang karier profesional MOJOK.CO
Eksplor

Menulis Esai Jadi Bekal Karier Anak Muda, Beri Ragam Soft Skills Vital yang Dicari Dunia Kerja Profesional

3 Juli 2026
Latihan ala penjaga warung madura dalam mengoperasikan toko kelontong 24 jam non-stop. Lebih teruji dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) MOJOK.CO
Sehari-hari

Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji

3 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi MOJOK.CO
Esai

Saya Pengurus KDMP: Koperasi Desa Lebih Butuh Literasi daripada Militerisasi

3 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Cerita awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal MOJOK.CO

Pulang Kuliah dari Skotlandia Pilih Bisnis Tas Lokal di Indonesia: Buka Lapangan Kerja hingga Terlibat Pemberdayaan Perempuan

29 Juni 2026
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, sebut inflasi di Kota Jogja pada Juni 2026 disebabkan kenaikan harga BBM non-subsidi MOJOK.CO

Transportasi Jadi Penyumbang Inflasi di Kota Jogja: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Jadi Penyebab Utama dan Wanti-wanti Naiknya Biaya Pendidikan

2 Juli 2026
Tahlilan jadi acara yang tidak empati pada perempuan. Tak punya jeda untuk berduka karena harus mikir suguhan hingga amplop kiai-tamu undangan MOJOK.CO

Tahlilan Jadi Beban Fisik dan Mental bagi Perempuan: Tidak Diberi Ruang Berduka karena Tuntutan Amplop hingga Suguhan

1 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.