Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
13 April 2026
A A
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - slow living (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

#3 Orang yang belum financial freedom bakal kelabakan hidup di desa

Ada satu kesalahpahaman yang sangat umum dipercaya di kalangan kelas menengah kota: hidup di desa itu pasti murah meriah. Kalau bicara harga makanan, misalnya, harganya jelas lebih miring dibanding di Jakarta. Namun, kalau kamu benar-benar hidup menetap dan membaur di desa, kamu bakal sadar bahwa “biaya sosial” di lingkungan perdesaan itu sangat mahal.

Hampir setiap minggu selalu ada pengeluaran tak terduga yang menuntut untuk merogoh kocek. Nominalnya mungkin sering disebut “seikhlasnya”, tapi di desa ada standard gengsi dan kepantasan yang mau tidak mau harus kamu ikuti agar tidak jadi bahan omongan.

Coba bayangkan saat memasuki “Musim Hajatan”. Dalam tradisi Jawa, bulan-bulan tertentu seperti bulan Besar (Zulhijah) adalah bulan favorit untuk menggelar pernikahan atau sunatan. 

Di bulan ini, undangan hajatan bisa datang bertubi-tubi. Dalam satu minggu, kamu bisa saja harus pergi menyumbang ke tiga sampai lima tempat yang berbeda. Kalau satu amplop standarnya diisi Rp50.000 hingga Rp100.000, ya silakan dihitung saja.

Belum lagi biaya sosial lain yang berhubungan dengan kegiatan rukun desa yang bisa kapan saja ditagih. Jadi, kalau kamu nekat pindah ke desa padahal belum financial freedom, atau tabungan belum tebal, ya bakal kelabakan. Alih-alih bisa menikmati slow living dan duduk santai di teras, yang ada malah menderita karena uang gaji terus tergerus habis untuk membayar pajak sosial ini.

#4 Kalau kamu belum punya anak atau menunda punya anak, jangan sok slow living di desa

Di kota, keputusan untuk punya anak, menunda momongan, atau bahkan memilih childfree adalah hak prerogatif pasangan suami istri. Orang di sekeliling tidak akan terlalu peduli atau banyak bertanya. 

Namun, bersiaplah menghadapi kalcersok kalau kamu tinggal di desa, karena di sana urusan rahim seringkali dianggap sebagai urusan publik yang bebas dikomentari siapa saja.

Warga desa punya kebiasaan ikut campur urusan privat orang lain, yang biasanya dibungkus dengan nada basa-basi saat bertegur sapa. Kalau kamu adalah pasangan muda yang nekat pindah ke desa tapi tak kunjung punya anak, siap-siap saja dihakimi setiap hari.

Hal ini menimpa Dimas dan istrinya, yang ceritanya bisa dibaca dalam liputan Mojok berjudul “Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa”.

Secara ekonomi, pasangan ini sebenarnya memiliki kehidupan yang sangat makmur di desa karena punya pendapatan besar dari bisnis online dan freelance. Namun, mereka akhirnya menyerah, rela minggat, dan memilih pindah ke perumahan biasa demi menyelamatkan kewarasan. 

Pemicunya tidak lain adalah mulut tetangga desa. Istri Dimas stres berat karena terus-terusan diburu-buru, ditanya, dan dihakimi warga sekitar untuk segera punya anak. Parahnya, sampai pada tuduhan-tuduhan halus yang mengarah pada urusan kesuburan, hingga disodor-sodori jamu atau disuruh pijat ke dukun beranak setempat.

Kemapanan finansial yang mereka bawa dari kota nyatanya tidak ada artinya jika mental terus dihancurkan oleh lingkungan sendiri.

Pada akhirnya, meromantisasi kehidupan desa hanya dari tayangan video pendek yang estetik adalah sebuah jebakan ekspektasi. Tak semua orang bisa dan tak semua desa cocok sebagai tempat slow living.

Kamu butuh mental baja untuk bisa berbaur dengan warga, butuh kebebasan finansial untuk menanggung tingginya biaya sosial, dan butuh kematangan usia untuk benar-benar bisa menikmatinya.

Iklan

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 13 April 2026 oleh

Tags: budaya desacara bisa slow livingdaerah untuk slow livingDesafinancial freedomgen z slow livingintrovertkehidupan desapilihan redaksislow livingslow living di desawarga desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.