MOJOK.CO Berkat kepolosan saya soal otomotif, bakul motor bekas itu sukses menipu saya ketika membeli Honda Vario 125 bekas. Nyesek banget.

Sebagai madesu kesiangan yang udah muak bepergian naik motor pinjamana milik saudara, suatu hari saya memutuskan untuk beli motor baru hasil dari menabung. Buat saya, motornya memang baru. Tapi, bagi motornya, dia bekas pakai orang lain. maklum, duitnya cuma cukup beli yang bekas.

Siang itu, saya berjalan sambil membusungkan dada menuju showroom motor bekas. Gaya berjalan saya kayak orang kaya padahal cuma megang duit sejuta rupiah. Dan showroom  yang saya tuju adalah warung semi-permanen lebih mirip warung soto ketimbang tempat jualan motor bekas di pinggir jalan. Kita sebut aja showroom biar agak keren.

Di barisan depan berderet motor sport. Di belakangnya, motor matik dijejer rapi. Dan saya sendiri langsung jatuh cinta ketika kali pertama melihat Honda Vario 125 tahun 2017. Harganya cuma Rp6 juta lebih dikit. Kenapa saya pilih motor itu? Ya karena duit saya cuma cukup buat ambil Honda Vario 125.

Karena nggak paham otomotif, bincang-bincang saya dengan orang showroom perihal Honda Vario 125 bekas itu nggak berlangsung lama, dan nggak mendetail pula. Orang showroom cuma bilang kalau Honda Vario 125 ini adalah pilihan tepat. Body mulus, mesin bagus, dan belum ada kerusakan berarti.

Baca juga:  Dibanding Citilink, Saya Pikir Batik Air Lebih Bagus

Satu omongan bakul motor bekas yang paling bikin saya percaya adalah ketika bilang, “Motor bekas ini punya teman dekat saya, Mas. Teman saya itu telaten merawat motor ini.” Kayak dihipnotis, saya iya-iya aja. Kayak cowok yang manut ketika dinasehati pacar, tapi ngambek kalau dibilangin sama ibunya.

Saat itu, saya sempat mencoba Honda Vario 125 itu. Saya, yang nggak ngerti otomotif, merasa nggak ada masalah dengan motor bekas ini. Rasanya kayak sama aja seperti saya mengendarai motor saudara saya yang mesinnya tokcer itu. Tolong kegoblokan laki-laki polos ini jangan ditiru.

Merasa sudah nyaman, dengan polosnya, saya bayarin tuh Honda Vario 125 bekas. Pergi jalan kaki, pulang bawa motor. Udah berasa crazy rich.

Satu minggu kemudian, saudara saya iseng pengin nyobain motor baru saya. Setelah test drive melewati tiga kecamatan, akhirnya dia kembali lalu bilang:

“Kamu yakin motor ini sehat?”

“Loh emang kenapa? Ada yang salah?”

Saudara saya tidak menjelaskan lebih lanjut. Bukan karena malas, tapi saya yang nggak bakal paham soal permesinan Honda Vario 125. Dia mengajak saya untuk ganti oli di bengkel resmi.

Kembali, saya iya-iya aja.

Di bengkel resmi Honda, setelah ganti oli, pak montir geleng-geleng ketika berjalan ke arah saya. Dia menyuruh saya untuk mencoba motor bekas itu. Setelah saya coba, gimana ya, nyesek deh kalau diceritain.

Baca juga:  Honda CS1, Motor yang Hampir Bikin Saya Kapok Jadi Montir

Saya yang nggak paham otomotif saja langsung ngerasa motor bekas ini nggak sehat. Saya ketipu sama tampilan body sementara mesinnya ancur parah.

Jadi, setelah diperiksa, ternyata motor bekas ini punya banyak masalah. Pak montir mendirikan motor ini dengan standar ganda, nah ketika mesin dinyalakan, roda belakang Honda Vario 125 ini berputar terlalu kencang menandakan ada komponen per puli dalam CVT sudah kendur. Selain itu, oli shockbreaker Honda Vario 125 ini ternyata bocor. Dan masih ada beberapa masalah lainnya yang saya nggak paham istilahnya.

Pak montir menyarankan saya untuk mengajukan garansi. Namun, sayangnya, showroom laknat itu tidak memberikan garansi. Jangankan memberi, membahas pun tidak.

Setelah itu, pak montir yang budiman itu memberikan penjelasan tentang “belangnya” beberapa showroom. Saya tuliskan di sini biar kalian juga bisa belajar dari kesalahan saya.

Pertama, ada banyak penjual motor bekas yang cuma mikirin keuntungan. Mereka sengaja menghaluskan suara motor agar pembeli yang polos macam saya mudah percaya.

Sering terjadi, motor bekas kayak Honda Vario 125 ini dijual dengan komponen mesin yang sudah aus. Untuk itu, beberapa pedagang motor bekas menambahkan oli yang tingkat kekentalannya tinggi. Dengan begitu suara bising dan kasar pada motor tidak terdengar lagi.

Kedua, mengganti suku cadang asli dengan yang palsu. Suku cadang yang asli dijual terpisah. Suku cadang yang sering diganti, biasanya adalah slebor, lampu, velg, dan yang paling sering adalah komponen pengapian dan mesin, serta spedometer.

Baca juga:  Isuzu Panther, Mobil yang Istikamah dan Penuh Pengertian seperti Pacar Dunia Akhirat

Angka odometer pada spedometer sering diganti dengan yang angkanya lebih rendah. Main rendah angka odometer, harga jual motor bekas makin tinggi.

Pak montir juga memberikan tips memilih showroom motor bekas yang bisa dipercaya. Pertama, pilih showroom motor bekas yang terpercaya. Kamu bisa menemukan banyak ulasan showroom terpercaya di internet.

Kedua, pilih yang berani memberi garansi. Biasanya, pedagang yang jujur pasti berani kasih garansi bila ada kerusakan (kecuali human error). Rata-rata, garansi yang disediakan oleh pedagang itu selama dua bulan.

Ketiga, ajak orang lain yang ngerti motor. Jangan ketipu sama harga, tampilan luar, dan bacotan tipu muslihat pedagang motor bekas kayak saya. Dari luar, Honda Vario 125 ini terlihat keren. Eh, dalamnya udah uzur.

“Kasihan, kamu, Mas, kena tipu bakul motor bekas,” kata pak montir.

“Kalau Bapak kasihan, servisnya gratis, dong.”

“Ya nggak, toh, Mas. Habis banyak, lho, ini servisnya.”

Saya cuma bisa nyengir. Asudahlah.

BACA JUGA 5 Motor Bekas yang Paling Diburu dan tulisan lainnya di rubrik OTOMOJOK.