MOJOK.CO Di televisi, Uya Kuya dengan mudah menghipnotis orang lain dan selalu berhasil. Tapi, giliran saya ikut hipnoterapi, kok nggak ngaruh, ya?

“Dia dulu takut balon, tapi berhasil sembuh setelah dihipnoterapi.”

Seorang teman berbicara sambil nunjuk-nunjuk teman lain yang sedang makan bakwan. Saya cuma mengangguk-angguk, membayangkan si Pemakan Bakwan tadi pasti tersiksa lahir batin kalau lagi berangkat salat id di alun-alun, soalnya di pinggir alun-alun pasti ada banyak sekali penjual balon yang targetnya adalah anak-anak kecil yang bakal nangis meraung-raung pas papa dan mamanya lagi sujud.

Yang tidak saya sangka, beberapa tahun kemudian, seorang teman menghubungi saya dan berkata:

“Aku mau ada penilaian hipnoterapi. Kamu mau jadi pasienku, ya? Biar kamu nggak takut cicak.”

Saya membaca pesannya sedikit dongkol. Bukan, bukan dongkol sama teman saya—saya dongkol pada diri sendiri; kok ya bisa-bisanya saya takut sama cicak??? Nggak keren, blas. Ingatan saya bahkan kelempar ke kenangan bertahun-tahun lalu waktu saya pingsan gara-gara ditakut-takutin mainan cicak sama salah seorang kawan.

Iya, iya, cuma dikaget-kagetin pakai mainan cicak aja saya pingsan, Gaes. Plis.

Singkat cerita, saya akhirnya tiba di tempat penilaian: sebuah ruang besar dengan banyak kursi. Semua mahasiswa duduk bersebelahan dengan kelinci percobaan pasien mereka masing-masing. Teman saya—sebut saja namanya Salju—mengajak saya duduk di tengah-tengah.

Pasien-pasien lain punya banyak ketakutan: ada yang takut sapi, takut kangkung, bahkan takut pensil. Mata mereka berbinar-binar, seolah berkata, “Aku akan sembuh hari ini, AKU AKAN SEMBUH!!!!1!!1!!!!”

Saya menatap Salju lekat-lekat. Salju tahu betul awal mula fobia saya pada cicak. Seharusnya ini akan berhasil, kan, walaupun sekadar memenuhi nilai kuliah?

“Kamu harus percaya sama aku, Li. Jangan menolak hipnoterapi. Sugesti diri sendiri kamu akan menerima ini.”

“Oke,” jawab saya sambil memejamkan mata, sesuai perintah Salju.

Berikutnya, dimulailah hipnoterapi Salju pada saya. Atau, kalau dirangkum: proses instruksi Salju yang saya coba ikuti.

“Seberapa takut kamu sama cicak? Dalam angka 1-10, kamu bisa tunjukkin pakai jarimu.” Saya segera mengangkat kesembilan jari saya.

Baca juga:  Hidup di ‘Kota Susu’ Boyolali padahal Kamu Punya Fobia Susu

“Sekarang bayangkan ada cicak di hadapanmu, apa kamu merasa takut?”

Saya memutar mata (sambil merem) dan bertanya-tanya, ini Salju ngelindur apa gimana dah??? Ya iyalah saya takut. Tapi akhirnya, saya mengangguk.

Saya kurang bisa mengingat apa yang terjadi dalam berjam-jam sesi itu. Tapi, ada momen di mana Salju berusaha mengajak saya “masuk” ke bawah sadar (mungkin agar sugestinya bisa masuk) dengan cara membayangkan saya masuk ke ruangan bawah tanah menggunakan tangga yang panjaaaaang sekali.

“Kamu masih bisa dengar aku? Angkat jempolmu kalau iya.” Saya mengangkat jempol.

“Putar ingatanmu ke masa lalu. Bayangkan momen-momen di mana kamu pertama kali merasa ketakutan pada cicak. Bagaimana perasaanmu?”

Ingatan saya langsung lompat ke memori kelas 3 SD waktu seekor cicak dengan suksesnya mempermalukan saya di hadapan anak-anak satu sekolahan. Tentu, demi nama baik saya, kisahnya tidak akan saya tulis di sini.

“Malu,” jawab saya, “dan jijik.”

“Baik,” sahut Salju, “mari putar mundur lagi ingatan ke masa yang lebih lalu. Bayangkan momen yang muncul pertama kali, lebih awal dari yang sebelumnya, saat kamu takut pada cicak. Apa yang kamu lihat?”

Saya bingung. Sebelum kelas 3 SD, cicak rasanya baik-baik saja pada saya. Tapi, kenapa Salju nanya begitu, ya?

Selagi saya berpikir, saya mendengar isak tangis cukup keras. Diam-diam, saya mengintip sedikit: pasien di sebelah saya—matanya terpejam—sedang terisak sambil berbicara.

Wow. Hipnoterapi yang dilakukan berhasil. Seharusnya saya juga, dong?!

“Mmm,” jawab saya, “waktu umur 6 tahun, ada cicak di… tembok.”

“Bagaimana perasaanmu?”

“Mmm. Ta… kut?”

Salju berdeham sedikit, lalu mulai melanjutkan sugestinya. Kali ini ia membawa saya ke masa kini, bertanya soal apa yang saya rasakan saat melihat cicak.

“Sekarang bayangkan kamu melihat hal yang kamu suka setiap kali kamu melihat cicak. Sudah? Apa yang kamu bayangkan?”

Baca juga:  Rumah Uya Settingan, Boomer dan Penontonnya Sudah Tahu Kok

Yang ini, saya menjawab penuh keyakinan, “Tongkat sihir Harry Potter,” mengingat saya adalah seorang Potterhead.

“Baik, sekarang, setiap kali kamu melihat cicak, kamu akan melihatnya sebagai tongkat sihir Harry Potter.”

Saya mengamininya dalam hati, tapi juga keheranan sendiri. Gimana caranya cicak yang matanya menonjol, kecil, dan ekornya suka goyang-goyang nggak jelas itu tiba-tiba berubah jadi tongkat sihir Harry Potter??? Lagian, kenapa harus membayangkan dia jadi hal yang saya suka, sih??? Memangnya Salju nggak takut, ya, kalau tadi saya jawab hal yang saya suka adalah pacar saya??? Ngeri banget, kan, kalau tahu-tahu saya langsung menggandeng tangan “si pacar” yang ternyata adalah cicak???

Saya kembali mengintip pasien yang lain. Ada yang posisi duduknya sudah turun ke bawah saking hebohnya sugesti yang dia terima kayak di acara Uya Kuya, ada juga yang sudah selesai dan sedang menghapus air mata. Samar-samar, saya dengar seseorang berteriak, “Berhasil!”

Sesi saya dengan Salju diakhiri dengan pertanyaan, “Dari 1-10, seberapa takut kamu sama cicak?”

Saya menatap Salju waktu diberi pertanyaan ini. Matanya berbinar-binar, seakan bilang, “PLEASE, LI, PLEASE, INI PENILAIAN PENTING!”, sementara hampir semua temannya sudah bersorak gembira karena pasiennya sudah mengaku merasa “lebih baik”.

“Mmmm,” jawab saya,  “enam?”

“Yeeeesss! Kamu berhasil, kamu berhasil!” Salju memeluk saya, lalu langsung kabur memberikan data hipnoterapinya pada dosen yang berjaga di meja depan.

Sampai hari ini, saya masih merasa sedikit bersalah kalau ingat sudah “berbohong” pada Salju. Hingga detik ini, saya masih takut cicak dan tidak melihat tongkat sihir Harry Potter setiap kali hewan yang satu ini jalan mindik-mindik.

Entahlah, tapi saya rasa pengalaman ini—walaupun bukan hipnoterapi beneran yang dilakukan oleh hipnoterapis asli atau bahkan Uya Kuya—mengajarkan pada saya bahwa kadang kala kita memang tidak bakal terpengaruh pada sugesti apa pun dari luar, atau omongan orang lain, kalau kitanya memang beneran teguh.

Gitu aja, sih.