Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Indonesia Darurat Rekonsiliasi

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
27 Juli 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Selama masih ada manusia, selama itu pula akan ada dunia persilatan; selama masih ada dunia persilatan, selama itu pula akan ada perselisihan.”

Itu kata orang Cina. Entah kondisi apa yang membuat orang-orang di negeri yang berpenduduk cuma 300-an juta jiwa itu—yang 1 miliar lainnya konon cuma bajakan—membuat pepatah semacam itu. Mungkin berselisih dan menyelesaikannya dengan jotos-jotosan memang kegemaran mereka sejak dulu.

Buktinya, kalau orang kita disuruh menyebut 5 nama tokoh paling terkenal dari Cina, paling-paling cuma Mao Zedong saja yang bukan jagoan kungfu. Empat yang lain kemungkinan akan diisi nama Jacky Chan, Jet Lee, Bruce Lee, Chou Yun Fat, sama Master Wong. Pesilat semua, kecuali ketua Mao tadi.

Seandainya hobi nenek-moyang orang Cina di masa lalu adalah memancing, mungkin pepatah itu akan berbunyi: “Selama masih ada manusia, selama itu pula akan ada kolam pemancingan; selama masih ada kolam pemancingan, selama itu pula akan ada Mancing Mania.” Agak nggak enak sih kedengarannya, tapi semua orang bakal mengamini: “Mantap!”

Nenek-moyang kita, orang Indonesia yang katanya dari Cina Selatan, konon punya hobi berbeda: gotong-royong. Mungkin karena hobi ini termasuk nyeleneh di Cina sana, jadi mereka memilih mengungsi ke negeri yang waktu itu dipimpin oleh duet maut Gaj Ahmada dan Ay Amwuruk.

Seandainya hobi gotong-royong ini dijadikan pepatah, bisa jadi dia akan berbunyi: “Selama masih ada manusia, selama itu pula akan ada gotong royong; selama masih ada gotong royong, selama itu pula akan ada kopi, rokok, dan gorengan gratisan.” Jauh lebih mulia daripada mengandaikan bahwa tawuran adalah sifat alami manusia.

Tapi belakangan ini negara kita rasa-rasanya kayak di ambang perang saudara. Setiap hari ada saja yang berantem di media sosial, berdebat nggak ada habisnya. Mungkin orang baru berhenti berdebat di media sosial kalau jempolnya sudah cantengan atau kram. Padahal katanya garam lagi mahal, mestinya kan tensi darah orang se-Indonesia Raya lagi turun semua.

Saya perhatikan semua ini terjadi sejak Pakde Jokowi jadi presiden. Bagi-bagi sepeda ternyata tidak bisa membuat semua orang bahagia. Salam tiga jari Jokowi-JK jadi terasa sia-sia. Saya curiga ini adalah efek samping dari kedatangan masif 10 juta tenaga kerja dari Cina. Jotos-jotosan, minimal dalam status dan komentar, menggeser hobi asli orang Indonesia yang suka gotong royong tadi.

Masih untung 10 juta pekerja Cina tadi gak menggelar aksi ngumpul bareng di Monas. Bayangkan kalau mereka semua datang ke Monas membawa tongkat dan menggunduli kepala mereka seperti biksu Shaolin di film-film silat Mandarin lama, foto Jakarta dari atas bisa dikira orang dicetak di wartel yang printernya masih dot-matrix.

Tiga tahun Pak Jokowi berkuasa, ketegangan tidak juga mereda. Malah tambah panas setelah Anies Baswedan menggusur Ahok dari kursi gubernur Jakarta. Rekonsiliasi yang didengung-dengungkan Anies dan Sandiaga pun jadi seperti hati orang-orang yang kelamaan menjomblo: kosong, nggak ada apa-apanya kecuali sarang laba-laba. Itu pun laba-labanya udah pindah nggak tahu ke mana.

Pak Anies bukannya tidak berusaha. Walaupun nggak bagi-bagi sepeda, minimal salah satu jurkamnya Pandji Pragiwaksono yang dulu selalu bicara nasionalisme itu jadi rajin menjelaskan program-program gubernur baru ibukota. Ditambah lagi Tim Sinkronisasi yang dipimpin oleh Sudirman Said yang dulu sempat dianggap orang pahlawan di kasus papa minta saham. Toh nyatanya masih belum ada hasilnya juga.

Pakde Jokowi juga sama, beliau juga berusaha menyatukan Indonesia lagi. Minimal sekarang di mana-mana ada jalan tol, jadi Indonesia secara harfiah memang nyambung jadi satu. Selain bagi-bagi sepeda tadi, Pakde Jokowi menunjuk Pak Wiranto jadi Menkopolhukham. Mungkin karena beliau jago nyamar, jadi dikira Pak Jokowi beliau akan mudah diterima semua kalangan.

Celakanya, Pak Wiranto bergurunya sama Pak Harto yang dulu punya Kopkamtib untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Jadinya ya Perppu Ormas. Ide dilawan ide itu jargon jadul, sekarang ide harus dilawan pakai perppu. Kalau kata Bung Hatta, itu persatean, bukan persatuan. Soalnya, kalau persatean, jangankan ormas, rombongan manten dari Padjajaran saja bisa disikat sama Gaj Ahmada.

Celakanya lagi, Cak Nun sempat kepeleset juga. Buat yang non-muslim kayak saya, ini agak lucu-lucu gimana gitu. Lah, yang mau dibubarkan HTI tapi yang spaneng malah Jamaah Maiyah sama NU. Ini sama lucunya—sekali lagi dari kacamata seorang non-muslim—dengan rebutan klaim Aswaja. Padahal kalau nonton debat-debat di media sosial, yang satu nuduh lawannya Wahabi, yang dituduh balas menuduh lawannya Syiah atau liberal.

Tidak bisa tidak, negara kita sekarang ini sedang darurat rekonsiliasi.

Sebenarnya, salah satu kunci keberhasilan sebuah usaha rekonsiliasi, pertama sekali, adalah menunjuk orang yang tepat untuk jadi penengah. Nyatanya nama-nama tenar seperti Sudirman Said, Panji Pragiwaksono, atau Wiranto, masih belum berhasil menurunkan ketegangan di antara rakyat Indonesia, entah karena pilpres atau pilkada atau ormas keagamaan yang berbeda pandangan.

Lha wong kedatangan raja Arab ke sini saja tidak berhasil menghentikan bersliwerannya tuduh-tuduhan Wahabi, Syiah, liberal, dan lain sebagainya. Malah pada rebutan salaman dan ejek-ejekan lagi di media sosial.

Kalau boleh usul, satu nama yang layak dipertimbangkan oleh Pak Anies atau Pak Jokowi untuk mendamaikan rakyatnya adalah: Uya Kuya. Dengan slogan “yang punya problem kirimkan ke kami dan kami akan coba bantuin atau selesaikan”, nanti pihak-pihak yang bersitegang bisa diundang ke rumah beliau. Di sana uneg-uneg bisa disampaikan, semua ganjalan di dada akan jadi plong.

Iklan

Jadi, balik ke soal pepatah tadi, kalau boleh usul lagi, untuk meredakan semua ketegangan di antara kita sebaiknya kita juga memasyarakatkan semboyan: “Selama masih ada manusia, selama itu pula akan ada perselisihan; selama masih ada perselisihan, datang saja ke Rumah Uya.”

Tinggal satu hal lagi yang harus kita pastikan bersama: Umi Yuyun di Rumah Uya adalah benar Umi Yuyun. Jangan sampai Umi Yuyun ternyata Pak Wiranto yang menyamar. Bisa-bisa nasihat yang seharusnya menyejukkan dan berbeda-beda untuk permasalahan yang berbeda pula dari Umi Yuyun jadi sama semua di setiap episodenya: bubarkan!

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Anies BaswedanjokowiPersatuanRekonsiliasiUya Kuya
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.