fbpx

MOJOK.COLihat mata kucing yang dingin dan angkuh itu. Kamu seakan-akan bisa mendengar mereka berbicara: “Apa kamu manusia mecicil! Mau memberontak!” Dasar angkuh!

Izinkan saya membuka tulisan ini dengan sebuah kutipan dari Aulia Adam, jurnalis Tirto:

“Pemilik anjing sadar bahwa, jika Anda menghidangkan makanan, dan air, dan tempat tinggal, dan kasih sayang, maka anjing-anjing itu akan menganggap Anda dewa mereka. Sebaliknya, para pemilik kucing, sudah tentu sadar bahwa dengan menyajikan makanan, dan air, dan tempat tinggal, dan kasih sayang, maka kucing-kucing itu akan menganggap diri mereka sendirilah sang dewa.”

Kutipan itu bukan milik Aulia Adam, tetapi Christoper Hitchens, penulis cum jurnalis Inggris. Dia menuliskannya di dalam bukunya yang berjudul The Portable Atheist: Essential Readings for Nonbelievers. Rasanya, kalimat tersebut amat tepat menggambarkan keangkuhan makhluk bernama kucing itu.

Mereka memang punya citra buruk. Misalnya, angkuh, sombong, pemalas, dan tak setia. Namun memang, nggak bisa ditampik, kucing tetap jadi salah satu hewan peliharaan paling populer di dunia ini. Sungguh susah masuk akal sehat.

Bahkan, Pete Marra, kepala divisi Smithsonian Migratory Bird Center, pernah bilang begini: “Tidak ada orang yang menyukai ide untuk membunuh kucing. Tapi, terkadang, hal itu diperlukan.”

Marra bilang begitu karena mereka adalah sebuah ancaman. Marra berargumen dari perspektif seorang kepala pusat penelitian burung liar di Amerika Serikat. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun menunjukkan, kucing merupakan ancaman serius bagi kelangsungan eksistensi (dan ekosistem yang dibangun) burung, bahkan melebihi manusia.

Sikap Marra memang masuk akal. Coba lihat raut muka mereka ketika sudah kenyang. Mukanya tetap angkuh, seakan-akan bilang: “Kerja bagus, budak-budakku. Makanan hari ini enak semua.” Ketika lapar, mukanya dimelas-melaskan. Matanya berbinar dan seakan-akan memaksa kita untuk beranjak dari kursi untuk memberi mereka makan.

Baca juga:  Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Agama di Situasi yang Tidak Tepat

Kalau dicuekin, mereka tidak mau tahu. Mereka tidak mau menunggu. Mereka akan mulai menggerayangi kakimu. Setelah beberapa saat, mereka akan meloncat ke atas meja dan mengganggumu ketika lagi asyik bekerja di depan laptop. Di lain hari, mereka akan memaksa duduk di pangkuan atau di belakang punggungmu.

Mereka akan membuatmu tidak jenak, untuk kemudian beranjak mengisi mangkok makanan mereka yang kosong. Ketika kamu melakukannya, kamu seakan-akan bisa mendengar mereka tertawa angkuh. “Hahaha…ayo bekerja untukku, budak-budakku.” Kamu akan menggerutu dan mereka akan menikmatinya.

Setelah selesai makan dan kamu ingin bermain dengan kucing, mereka akan cuek dan tidak menganggap dirimu ada. Mereka akan memilih meringkuk di atas keset atau mencari tempat hangat lainnya untuk rebahan. Kurang ajar betul!

Ketika kamu kesal dan menatap mata mereka, mereka akan menatap balik. Lihat mata mereka yang dingin dan angkuh ketika menatap balik. “Apa! Mau memberontak!” mungkin itu yang terbersit di benak mereka. Jika ada dua kucing saling tatap, pasti berakhir baku hantam. Ini kucing apa anak STM?

Kenapa, sih, mereka begitu angkuh, sombong, dan seperti tidak setia? BBC menulis begini: citra kucing terbentuk berawal dari proses mereka dijinakkan di zaman dahulu. Proses itu jauh lebih lama ketimbang anjing. Kucing disebut selalu berada dalam posisi “memegang kendali”.

Kucing peliharaan pertama kali mulai muncul di desa-desa Neolitik di Timur Tengah sekitar 10.000 tahun yang lalu. Mereka tidak bergantung pada manusia untuk makanan. Mereka tetap punya naluri untuk mencari makan sendiri.

Baca juga:  Ketika Kucing Naik Haji dan Cerita dari Tanah Suci

Hubungan manusia dengan kucing, sejak awal, lebih berjarak dari anjing. Dulu, adalah jamak ketika anjing membantu manusia untuk berburu. Anjing peliharaan lebih mengandalkan manusia untuk soal makanan.

Kucing yang saat ini meringkuk di sofa atau memelototi kamu dari atas rak buku mencerminkan naluri nenek moyang mereka. Mereka menguasai rumahmu. Bagaimana jika mereka ngambek? Mereka akan berak sembarangan. Bahkan ada yang mengalami kucing mereka kencing sembarangan demi menjaga teritori, terutama ketika ada kucing baru di rumah. Egois betul.

Mereka menganggap rumahmu adalah rumah mereka. mereka tidak akan pikir dua kali untuk mencuri ikan asin yang kamu simpan untuk makan malam. Lengah sedikit saja, kamu akan menyesal.

Faktor lain yang membuat mereka harus dijauhi adalah mereka dapat menularkan virus toxoplasmosis kepada manusia. toxoplasmosis berasal dari hewan parasit bersel satu, atau protozoa. Inilah yang menyebabkan kemandulan pada wanita.

Memang, bukan hanya kucing yang dapat terinfeksi toxoplasma. Namun, mereka memang inang definitif toxoplasma. Toxoplasma dapat berkembangbiak dengan kedua cara, yaitu seksual dan non seksual. Penularan dapat dicegah dengan dua cara: cuci tangan memakai sabun hingga bersih dan nggak usah memelihara kucing sekalian.

Nah, masih banyak alasan buat kamu untuk menjauhi mereka. Silakan tambahkan untuk meningkatkan awareness perihal berbahayanya mereka. Sudah saatnya kita beralih memelihara trenggiling atau ular boa sekalian.

BACA JUGA Kenapa Hidup Kucing Lebih Menyenangkan daripada Hidupmu? atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles