Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Ibu Jadi Sayang Kucing padahal Awalnya Benci: Dirawat Seperti Anak Sendiri, Terpukul dan Trauma saat Anabul Mati dalam Dekapan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Maret 2026
A A
Membuat ibu sangat menyayangi kucing padal awalnya sangat tak suka. Setelah memelihara malah merawat seperti anak sendiri dan sangat terpukul ketika si anabul mati MOJOK.CO

Ilustrasi - Membuat ibu sangat menyayangi kucing padal awalnya sangat tak suka. Setelah memelihara malah merawat seperti anak sendiri dan sangat terpukul ketika si anabul mati. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Wacana memelihara kucing awalnya tidak pernah bisa terwujud karena selalu ditentang keras oleh ibu. Sebab awalnya ibu benar-benar sangat membenci peliharaan tersebut. Namun, setelah akhirnya memelihara, ibu justru memerlakukan si anabul seperti anak sendiri. Bahkan sangat terpukul saat si anabul mati. 

***

Berkali-kali ibu Nizam menyatakan kalau ia sangat membenci kucing. Ada saja alasannya. Misalnya, takut kencing, poop, atau muntah sembarangan di dalam rumah lah, makanannya kelewat mahal lah, dan lain-lain. 

Kata ibu Nizar, buat apa keluar uang banyak hanya buat memelihara dan merawat anabul. Mending uang buat ngurus diri sendiri. 

“Padahal aku sudah berulang kali bilang, soal itu nanti bisa dilatih. Soal makanan juga aku yang akan beli dari nyisihkan uang saku sekolah,” kata remaja 16 tahun tersebut, Kamis (26/3/2026).

Sekian kali membujuk, baru pada pertengahan 2025 lalu Nizar mendapat izin memelihara kucing oleh ibunya. Nizar sebenarnya agak terkejut. Karena ketika membujuk, ia sebenarnya sudah menebak bakal ditentang. Tapi saat itu sang ibu justru luluh dan malah membolehkan. 

Melihat anak-anak anabul, seperti melihat anak manusia yang lucu dan tanpa dosa

“Titik balik” ibu Nizar terjadi saat suatu ketika Nizar dan sang ibu mampir di rumah saudara yang selama ini dikenal sebagai pencinta kucing. Mereka mampir ketika anabul milik saudara baru seminggu melahirkan tiga ekor anak kucing. 

Tiga anak kucing itu tampak lucu-lucu. Apalagi suara “miaw-miaw”-nya yang masih terdengar imut. 

Di rumah saudara, Nizar mengelus-elus tiga ekor anak kucing itu dengan manja. Adegan itu memantik saudara untuk menawarkan satu anak kucing untuk Nizar adopsi. 

“Nggak, Mbak. Ibu nggak suka memelihara kucing,” ujar Nizar saat itu, setengah menggerutu. 

“Ya kalau mau bawa pulang satu. Tapi pokoknya kamu yang rawat. Ibu nggak ikut-ikut. Pokoknya pastikan nggak kencing, berak, atau muntah sembarangan,” jawab sang ibu. 

Nizar kaget. Di saat bersamaan juga kegirangan. Dalam benaknya saat itu, Malaikat siapa yang nyasar dan membisiki ibu agar membolehkannya memelihara kucing? Hewan yang selama ini tidak ibu sukai? 

Alasan sang ibu sulit dijelaskan. Namun, di kemudian hari akhirnya Nizar tahu, intinya ibu Nizar mengaku “tersentuh” melihat anak-anak kucing itu. Rasanya seperti melihat anak-anak manusia. Pada dasarnya lucu-lucu dan tanpa dosa. Bahwa kelak menjadi sosok menyebalkan, itu karena lingkungan yang membentuknya. 

Memelihara dan merawat kucing seperti anak sendiri: poop diceboki, dimandikan, hingga dikeloni

Siapa nyana, di rumah Nizar di sebuah desa di Jawa Tengah, si ibu yang justru lebih aktif merawat anak kucing tersebut. Lebih aktif ketimbang Nizar sendiri. 

Iklan

“Ibu sampai nyindir-nyindir. Yang ngebet memelihara siapa, eh yang mengurus siapa hehe. Karena diam-diam, dia memang kelihatan sayang banget sama si anabul,” kata Nizar. 

Misalnya, sehabis si anak kucing itu poop, ibu Nizar dengan telaten membersihkan area pantatnya. Rutin membersihkan kandangnya. Bahkan tak pernah absen untuk memandikannya.

Sesekali juga saat si anabul menerobos masuk kamar ibu Nizar, alih-alih mengusir, ibu Nizar membiarkan saja si anabul ndusel-ndusel. Bahkan sampai mengeloninya. Benar-benar seperti anak sendiri. 

Ibu Nizar memang melakukan itu sambil ngedumel. Namun, Nizar tahu, ibunya sebenarnya tulus melakukannya. 

“Pas masih bocil banget si anabul, hal pertama yang dilakukan ibu kalau bangun tidur itu ngecek ke kandang. Terus bukain kandang biar anabul main-main di halaman rumah,” ujar Nizar. 

Selalu mencari-cari kalau si kucing tidak kelihatan di rumah

Kucing peliharaan Nizar itu tumbuh menjadi kucing yang sangat aktif. Yang menggemaskan adalah: dia sering menemani ibu Nizar saat sedang masak atau saat makan. Benar-benar seperti keluarga sendiri. 

Kalau Nizar pulang sekolah atau saat sang ibu pulang kerja, si anabul menjadi sosok pertama yang akan berlari keluar rumah—menyambut. 

Lama-lama itu memberi ikatan tersendiri antara si kucing dengan Nizar dan ibu Nizar. Sehingga, ketika kucing itu tidak kelihatan agak lama, ibu Nizar pasti akan mencari-cari: mendesak Nizar agar mencari. 

“Ibu takut si anabul diracun orang, atau ditabrak kendaraan kalau main-main di jalan,” kata Nizar. 

“Tapi memang sebegitu sayangnya ibu sama si anabul. Makanan kalau udah hampir habis, pasti ngasih uang ke aku buat beli. Padahal dulu kan kesepakatannya aku yang beli pakai uang sendiri. Bahkan minta aku kalau ada susu khusus kucing, beli saja sekalian,” lanjutnya. 

Terpukul saat anabul diracun orang, mati dalam dekapan ibu

Hari yang buruk itu tiba. Dalam 24 jam kucing Nizar tidak kelihatan di rumah. Dipanggil-panggil tidak mendekat, dicari-cari di sekitar rumah tidak ketemu. 

Esok harinya, kucing tersebut ditemukan tekapar lunglai dengan mulut berbusa di tepi jalan. Seorang teman Nizar bersaksi: sebelum terkapar, kucing Nizar sempat main-main di rumah seorang tetangga. 

Kucing itu dipulangkan dalam kondisi napas yang sudah patah-patah dan mata yang sudah tidak merespons cahaya. Ibu Nizar tampak mendekapnya. Menatap sendu kondisi si anabul. 

Ibu Nizar tidak banyak bicara. Hanya menatap detik demi detik kondisi si kucing keracunan yang menuju ajal tersebut. Sampai akhirnya si kucing mengembuskan napas terakhir dalam dekapan ibu Nizar. 

“Ibu sendiri yang menggali kubur Nizar. Ditaruh di belakang rumah, dekat aliran air. Terus ditanami mangga,” jelas Nizar. 

Sejak hari itu, ibu Nizar masih belum mau memelihara kucing lagi. Katanya sih malas repot. Walaupun Nizar tahu belaka, sang ibu trauma dengan kematian kucing peliharaan sebelumnya. Trauma karena nyatanya, di dunia ini, masih banyak orang yang tidat suka kucing. Tidak hanya sekadar tidak suka, tapi benar-benar punya hasrat melenyapkan nyawa. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2026 oleh

Tags: anabulkucing aktifkucing keracunankucing peliharaanmakanan kucingmemelihara kucingMerawat Kucingpembenci kucingpencinta kucingpilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO
Esai

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO
Esai

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
papua.MOJOK.CO
Jagat

Masyarakat Adat di Tengah Krisis Iklim: Hak-Hak Dijegal Birokrat, Hutan Dibabat demi Konglomerat

15 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Jika kantin sekolah dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka bisa meningkatkan efektivitas dan memberi dampak ekonomi nyata. MOJOK.CO

Jika Kantin Sekolah Dilibatkan MBG: Bisakah Tekan Anggaran dan Apa Dampaknya bagi Ekonomi Warga?

17 Juni 2026
Kiandra Ramadhipa Juara di MotoJunior Championship Portugal!

Kiandra Ramadhipa Juara di Race Moto3 Estroil 2026!

14 Juni 2026
5 tips dapat tiket murah untuk liburan keluarga di Pantai Pandawa Bali MOJOK.CO

5 Tips Dapat Tiket Murah untuk Liburan Keluarga di Pantai Pandawa Bali

11 Juni 2026
Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon.MOJOK.CO

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon

15 Juni 2026
Tips Membuat Utang Tidak Lagi Menjadi Beban Kehidupan MOJOK.CO

Nggak Semua Utang Itu Buruk: Cara Mendeteksi Utang yang Baik dan Tidak Menjadi Beban

15 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.