Supra X 125 itu sampai di rumah selepas sore. Warnanya biru dan putih. Masih memakai tromol, bapak saya beli yang versi paling rendah. Namun, meskipun paling rendah, kelak, motor ini justru lebih memuaskan ketimbang Honda Beat yang dibeli oleh kakak saya.
Sebagai keluarga yang sangat mencintai Honda, bapak saya tidak akan melewatkan begitu saja untuk membeli produk terbaru mereka. Ketika Honda Karisma pensiun, versi terbaru lahir. Ia adalah Supra X 125 dan bapak saya mendapat kesempatan untuk membelinya “secara gratis”.
Jadi, saat itu 2005, bapak saya berhasil membantu temannya menjual sebidang tanah. Salah satu bonus dari keberhasilan tersebut berupa sepeda motor. Maka, bapak saya tidak perlu berpikir lebih lama. Supra X 125 itu datang hanya berselang dua hari setelah bonus penjualan tanah resmi cair.
Sementara itu, Honda Beat adalah motor kakak saya. Kakak membelinya pada 2008 untuk menggantikan Yamaha Mio lawas. Jadi, antara Supra X 125 dan Honda Beat berselang tiga tahun. Namun, kelak, justru “sang kakak” yang lebih tahan banting ketimbang si adik matik.
Supra X 125 paling bisa memberi kenyamanan
Sebelum menunggangi Supra X 125, saya sudah pernah membawa Honda Supra lawas. Kedua motor ini punya satu kesamaan, yaitu nyaman. Sebagai penggemar Honda, saya bisa memastikan satu kelebihan ini. Pasalnya, saya sudah dan menemukan kelebihan yang sama ketika membawa Honda C-70, Astrea Grand, dan Supra.
Supra X 125 membawa kenyamanan, khususnya ketika jalan santai di dalam kota. Kamu akan mendapatkan kenikmatan berkendara santai, di antara 30 sampai 50 km/jam pakai motor ini. Apalagi berkendara ketika Jogja sedang hujan, kala tengah malam, atau menjelang subuh. Sedap sekali.
Saya sendiri tidak bisa menemukan rasa nyaman dari Honda Beat. Saya setuju kalau Beat generasi awal bukan Beat yang jelek banget. Semua motor pasti punya kelemahan. Kalau Beat, salah satunya adalah jok teramat kecil untuk mereka “pengendara XL”.
Pantat pasti panas dan pegal. Saya mengalami ujian hidup ini ketika membawa Honda Beat untuk perjalanan Jogja-Solo-Jogja. Sudah pantas sangat panas, ban Beat dua kali bocor di tengah perjalanan. Sial betul naik motor matik satu ini. Kenapa, sejak awal, desainer Honda tidak membuat Beat lebih enak untuk dikendarai?
Baca halaman selanjutnya: Motor terbaik yang pernah diproduksi oleh Honda.














