Di tengah musim hujan yang tidak henti mengguyur Jogja, saya dapat kiriman video meme dari seorang teman. Video itu merakam pengendara Supra X 125 yang membelah jalanan yang tergenang air setinggi foot step motor. Terlihat hanya pengendara itu yang berani melaju di tengah banjir. Kendaraan lain terekam menyaksikan kejadian itu dari pinggir.
Video meme itu jelas mengundang respon dari banyak netizen. Mulai dari mengomentari alas kaki pengendara yang beda sebelah hingga membanggakan kualitas Supra. Teman saya, sebagai pengguna Supra X 125 sejak 16 tahun lalu jelas masuk jenis netizen yang bangga. Berkali-kali dia menyebut “Supra Bapak” dengan bangga. Sebutan di kalangan pencinta otomotif untuk menyebut motor Supra yang bakoh.
Tidak kapok memilih Supra X 125 jadi kendaraan pribadi
Teman saya tidak pernah menyesal sudah membeli Supra X 125. Kondisi motornya sekarang memang sudah tidak prima seperti dahulu, catnya mulai pudar dan suspensi mulai keras. Namun, semua keluhan itu masih sangat wajar mengingat usia motornya yang sudah mencapai dua digit.
Ada lebih banyak keunggulan Supra X 125 yang bisa diceritakan daripada cat dan suspensi kaku dimakan usia. Salah satu yang paling terasa adalah bahan bakarnya yang irit. Bayangkan saja, untuk mobilitas sehari-hari rumah ke kantor yang berjarak 10 km pulang pergi, dia hanya menghabiskan duit Rp40.000 untuk bensin. Irit kan?
Belum lagi perawatannya yang gampang dan nggak mahal. Masih banyak tukang bengkel yang paham memperbaiki motor ini. Selain itu, sparepart-nya juga masih mudah didapat sehingga harganya nggak melambung di pasaran.
Ada satu momentum lagi yang membuat kawan saya ini begitu bangga dan nggak nyesel sudah membeli Supra X 125 belasan tahun lalu. Dia pernah mudik Bali-Semarang tanpa halangan yang berarti. Benar-benar motor bandel yang pantas dijuluki “Supra Bapak”.
Baca halaman selanjutnya: “Supra bapak” menemani …














