Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
6 April 2026
A A
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Ilustrasi - Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Persoalan menyelesaikan tugas kuliah, para mahasiswa akan berargumen bahwa banyak faktor berpengaruh terhadap hal tersebut. Dimulai dari niat, motivasi, sampai dengan lokasi untuk nugas. Untuk yang terakhir, coffee shop atau kafe masih menjadi andalan mahasiswa, tak terkecuali mahasiswa Jogja.

Bahkan, kegiatan nugas di coffee shop tidak lagi dianggap hanya sebagai selingan kalau sedang suntuk menyelesaikan tugas di kos-kosan atau perpustakaan. Kini, nugas di kafe dianggap sebagai kebutuhan.

Iklan

Kebutuhan itu juga dialing-alingi dengan dalih investasi. Pertanyaannya, investasi macam apa yang terjadi antara mahasiswa Jogja dan coffee shop?

Dalih “investasi” untuk nugas di coffee shop

Krisna (25) adalah salah satu mahasiswa Jogja yang membenarkan alasan ini. Menurutnya, melakukan kegiatan nugas di coffee shop itu bukan lagi sebuah bentuk fasilitas dalam menyegerakan tugasnya cepat selesai. 

Coffee shop, baginya, justru telah menjadi sebuah investasi.

Setidaknya sekali setiap harinya, Krisna akan menuju coffee shop selepas dari kampus atau pada akhir pekan untuk dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Ia lebih memilih keluar dari kos, lalu duduk di kafe, karena menilai dirinya lebih berhasil dengan metode ini.

Dalam perhitungan Krisna, kisaran uang senilai Rp20 ribu hingga Rp50 ribu yang dikeluarkannya untuk memesan satu kopi tidak terbuang sia-sia. Nominal tersebut berbalik dalam bentuk tugas dan pekerjaan yang bisa selesai saat itu juga sehingga dianggap sebagai investasi.

Karena itu, perempuan asal Sulawesi ini menganggap kegiatannya di coffee shop menguntungkan alih-alih merugikan karena merogoh koceknya.

“Aku udah coba bandingin aku kalau kerja dari kos sama aku kalau kerja dari coffee shop untuk uang Rp20 ribu sampai Rp50 ribu yang aku keluarkan sehari sekali ke coffee shop, aku dapat banyak keuntungan,” kata dia kepada Mojok, Jumat (3/4/2026).

Mahasiswa Jogja lebih produktif di coffee shop, kerja di kos malah bikin tugas terbengkalai

Dibandingkan dengan mengerjakan tugas di kosnya, Krisna mengaku tidak merasa terlalu produktif. Produktivitasnya lebih meningkat ketika sudah duduk dengan secangkir kopi di coffee shop. 

Seringkali, Krisna mengaku, langsung dapat berfungsi optimal di kafe. Ia bisa langsung membuat to-do-list atau daftar tugas yang harus diselesaikan, setidaknya 4 hingga 5 pekerjaan sekaligus. Hasilnya pun tidak begitu mengecewakan, dari 5, dirinya kerap bisa menyelesaikan hingga 3 tugas.

Produktivitas yang meningkat di coffee shop membuat Krisna tidak hanya bisa menuntaskan tugas kuliah, tetapi juga pekerjaan dan organisasi dalam satu waktu.

“Sampai kafe, aku bakal langsung buat to-do-list 4 sampai 5 task yang harus aku selesaikan selama berjam-jam aku di kafe. Dari 4 sampai 5 yang selesai bisa minimal 3, dan maksimal ya, kuselesaikan semua, entah itu tugas-tugas ataupun kerjaan dan organisasi,” akunya. 

Sedangkan, saat harus mengerjakan tugas di kos, Krisna merasa tidak terlalu bersemangat dalam menyelesaikannya. Ia juga malah merasa malas dan kembali ke kasur untuk beristirahat, berujung mengabaikan tugas-tugasnya.

Iklan

Kalau pun berhasil menyelesaikan satu tugas di kos, tak jarang Krisna merasa lebih cepat lelah karena berada di dalam ruangan tertutup dan harus menatap layar laptop saja selama berjam-jam. 

“Kalau di kosan, selain terdistraksi sama nyamannya kasur, aku juga jadi ada distraksi kalau lagi burn out atau matanya capek di layar laptop,” kata dia. 

Sementara itu, coffee shop menawarkan keramaian yang tetap menenangkan dan menyenangkan untuknya. Ia bisa beristirahat, tanpa takut menyeret dirinya secara tidak sadar untuk kembali tidur, sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.

“Di kafe aku nggak mungkin dong rebahan,” kata dia.

“Aku suka keramaian juga soalnya, enak aja istirahatnya sambil liat-liatin dan review orang,” kata dia menambahkan.

Uang habis tak masalah, segelas kopi mahal ditukar ide sudah dianggap untung

Meski merasa lebih nyaman di coffee shop, Krisna menyadari kalau dirinya harus mengeluarkan uang lebih banyak, bahkan menyisihkan sebagian dari uangnya untuk berinvestasi ke coffee shop.

Namun sebenarnya Krisna tidak sendiri, sebuah survei yang dilakukan GoodStats menunjukkan bahwa mayoritas pengunjung kafe adalah mereka yang berada dalam rentang usia 18-24 tahun. Artinya, mahasiswa dan pelajar menjadikan coffee shop sebagai tempat favorit mereka melakukan berbagai kegiatan, seperti nugas, bekerja, atau sekadar nongkrong.

Alasan utama coffee shop diminati oleh mahasiswa pun, 57,1 persen mengatakan untuk menikmati kopi. Sementara itu, 50,2 persen mengatakan untuk bekerja atau nugas. Alasannya sama seperti Krisna, suasana coffee shop dinilai dapat memberi kenyamanan dan mendukung produktivitas.

Survei yang sama juga menunjukkan rata-rata pengeluaran per kunjungan berada dalam kisaran Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Di Jogja, spesifiknya, Survei Biaya Hidup Mahasiswa (SBHM) 2024 yang dilakukan UPN Veteran Jogja dan Bank Indonesia menunjukkan sekitar 22 persen uang saku bulanan mahasiswa dihabiskan untuk kebutuhan pergi ke coffee shop, yakni senilai Rp153 ribu.

Kisaran harga yang dihabiskan rata-rata mahasiswa di Jogja untuk segelas kopi itu dapat memberikan mereka coffee shop kelas menengah, bahkan atas, mengingat harga yang dipatok kafe kelas merakyat jauh lebih bersahabat. Setengah harga tersebut sudah dapat memberikan segelas kopi, tetapi tidak dengan kenyamanan yang bisa mendukung produktivitas.

Menurut Krisna, kerelaannya dan mahasiswa Jogja untuk membayar mahal hingga mengeluarkan hampir seperempat persentase uang bulanan untuk kopi di coffee shop adalah karena mereka merasa dapat balik modal.

Sebagai contoh, Krisna bisa mendapatkan lebih banyak ide ketika sedang duduk di kafe ketimbang di kamar kosnya. Ide ini, kata dia, adalah bentuk keuntungan dari investasi dengan membayar harga segelas kopi.

“Kalau di coffee shop aku jadi suka banyak ide deh, ada aja tuh mau ikut ini dan ikut itu. Banyak kerjaan dan lomba-lomba yang berhasil aku dapatkan dan dapat duitnya karena aku bisa totally produktif di kafe,” kata dia.

“Balik modal besar deh,” tutupnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 April 2026 oleh

Tags: cara mahasiswa investasicoffee shopCoffee shop Jogjagaya hidup mahasiswa jogjaInvestasiMahasiswa Jogjamahasiswa jogja lifestylenugas di coffee shop
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO
Esai

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Pelajaran mahal setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI MOJOK.CO
Cuan

Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

9 Juli 2026
Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO
Cuan

Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

21 Juni 2026
Bagi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Dahlan Iskan, iklim investasi di Jateng sangat cocok bagi pengusaha untuk investasi MOJOK.CO
Kilas

Iklim Investasi di Jawa Tengah Menarik Hati, Bikin Puluhan Pengusaha Melirik untuk Kolaborasi

19 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.