Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Nongkrong di Coffee Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
16 Februari 2026
A A
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Tukang parkir di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tukang parkir sudah jadi ketakutan bersama. Masalahnya, dia hampir ada di mana-mana. Khususnya, coffee shop di Jogja yang jadi tempat paling nyaman buat nongkrong.

Alhasil, bagi mereka yang pergi ke coffee shop lebih memilih untuk bertahan sampai pagi hari alih-alih langsung pulang di malam hari. Alasannya jelas untuk menghindar.

***

Jogja bukan cuma kota pelajar. Karena ada pelajar, ada coffee shop yang makin hari makin menjamur. Sebab, coffee shop di Jogja akan selalu ramai, terutama pada waktu mahasiswa harus mengerjakan ujiannya.

Peluang keuntungan yang membuat coffee shop di Jogja barangkali hanya akan tutup dan merugi saat kiamat inilah yang membuat tukang parkir tidak ketinggalan mengambil keuntungan.

Ngeri-ngeri sedap disambut tukang parkir di Jogja

Saat kamu datang ke coffee shop di Jogja, kamu tidak hanya disambut oleh kasir yang sudah sedia menerima pesanan dari balik meja. Kamu malah akan lebih dulu menjumpai tukang parkir.

“Ya, taruh aja di situ,” biasanya begitu katanya.

Mereka akan membiarkan kita meletakkan motor dalam posisi tidak, hampir, atau benar-benar terparkir sesuai keimanan. Nantinya, motor akan diparkirkan berjejer dalam jarak semepet-mepetnya seperti ikan asin yang perlu dijemur di bawah matahari.

Alasannya boleh jadi untuk memaksimalkan keuntungan dari kesediaan lahan yang terbatas.

Alasan lain juga bisa jadi agar mengandalkan tukang parkir saat mengeluarkan motornya. Jadi, ini semacam siasat agar tidak ada yang kabur tanpa membayar.

Padahal punya persoalan yang harus diselesaikan di coffee shop

Bayangan tukang parkir dan strategi tidak kehilangan uang senilai Rp2 ribu untuk motor dan Rp5 ribu untuk mobil ini bisa hilang sejenak setelah memasuki coffee shop.

Ada dua hal yang biasanya harus diselesaikan di coffee shop, yaitu tugas atau pekerjaan, serta obrolan bersama tongkrongan. Keduanya bisa ditamatkan dalam satu waktu.

Eka (22) biasa melakukan keduanya sekaligus. Ia sering menghabiskan 6 sampai 8 jam di coffee shop sampai jam 3 pagi untuk menuntaskan persoalan ini. 

“Biasanya bisa 6 sampai 8 jam di coffe shop, tergantung kapan mulainya. Paling malam sih pulang jam 3,” kata Eka kepada saya, Senin (16/2/206) sore di sebuah coffee shop di kawasan Kranggan.

Iklan

Sambil mengambil jeda dari tugas di laptopnya, Eka bercerita bahwa coffee shop adalah tempat paling nyaman untuk menyelesaikan tugas maupun nongkrong bersama teman. “Karena emang comfortable, ada AC segala macam kan. Soalnya, kalau di kos, bakal jadi males-malesan,” katanya.

“Kalau main di kos, gue merasa kos adalah tempat istirahat,” tambahnya.

Pengalaman yang sama dirasakan Hanung (22) yang sering singgah dan menetap di coffee shop untuk waktu yang lama. Bahkan, Hanung bisa menghabiskan waktunya sampai pagi di sana, sekalipun telah melakukan banyak aktivitas sebelumnya. Kursi dan ketenangan coffee shop terasa lebih mendukungnya dalam menunaikan kewajiban.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Unggul Tunjung (@unggults)

Sudah keluar beli kopi, bayar parkir lagi itu merugi

Menurut Hanung, mengeluarkan biaya parkir adalah rugi. Ia merasa biaya retribusi ini menggerogoti dompetnya, khususnya dengan layanan yang seadanya—hampir bisa disebut tidak ada juga.

“Rp2 ribu terlalu berharga untuk layanan nir-value,” katanya, Minggu (15/2/2026).

Meski boleh disebut kecil, hanya Rp2 ribu, biaya ini sebenarnya bernilai lebih. Tidak bisa dikeluarkan secara cuma-cuma. Perhitungan ini didasari pengeluaran dalam satu malam di coffee shop yang paling sedikit akan merogoh kocek Rp20 ribu kalau hanya untuk kopi, kemungkinan bertambah menjadi setidaknya Rp50 ribu untuk makan atau jajan. Karena itu, penilaian layak tidak membayar tukang parkir, kata Hanung, harus sesuai dengan tupoksi.

“Service lengkapnya jukir (juru parkir) kan menempatkan motor dan merapikannya saat kita datang, lalu merapikannya kalau kita mau pulang. Kebanyakan jukir coffee shop tidak memberikan layanan yang lengkap, kayak cuma malak duit doang,” jelasnya.

Yang dimaksudnya adalah kendaraan yang telah terparkir, khususnya sempurna, sering harus dikeluarkan sendiri. Alhasil, tukang parkir tidak benar-benar mempunyai fungsi, tetapi tetap menagih bayaran atas ilusi jasanya.

Parkir di Jogja sendiri telah diatur dalam Perda Kota Jogja Nomor 2 Tahun 2019. Tukang parkir berhak mendapat bagi hasil, tetapi mereka juga tidak boleh bekerja tanpa surat tugas resmi yang dapat ditunjukkan melalui karcis resmi.

Permasalahannya, kendaraan aja boro-boro diparkirin. Uang parkir belum tentu dikembalikan, dapat karcis jelas hanya hayalan.

Lebih baik pulang pagi dari coffee shop di Jogja asal nggak bayar parkir

Keenggakrelaan Hanung mengeluarkan uang parkir tidak sendiri. Ada Dhea (26) juga merasa tidak rela untuk membayar tukang parkir yang sering hanya menerima uang, lalu meninggalkan kendaraan dan pengemudinya tanpa diarahkan.

“Agak nggak rela kalau cuma nerima uang terus ditinggal,” kata Dhea, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, ia masih akan merasa ikhlas apabila kendaraannya diparkir mepet dan dalam kondisi ramai. Lalu, mereka membantunya untuk benar-benar mengeluarkan kendaraan dari parkiran.

Apalagi, untuk tukang parkir, yang akan membantu merapikan dan mengeluarkan motor dengan inisiatif, bahkan mengelap kendaraan apabila kehujanan. Dhea merasa membayar parkir adalah sebuah keharusan. Biayanya digunakan seperti seharusnya.

Namun, kondisi yang sering terjadi adalah sebaliknya. “Di tempat yang parkir dan keluarnya emang gampang banget dan jalan depan cafe nggak rame sama sekali rasanya nggak usah bayar parkir aja,” ungkapnya.

Kondisi inilah yang mendorong sebagian orang bersiasat untuk menghindar, membalas strategi tukang parkir dalam menghindari pengunjung tidak membayar. Karena mereka hanya akan bertahan sampai malam hari, pulang di pagi hari adalah keputusan paling tepat ketimbang mengeluarkan Rp2 ribu dengan cuma-cuma.

Setidaknya dua kali saya menyaksikan secara langsung beberapa teman yang sudah menyisihkan uang parkir di dalam coffee shop akan tersenyum lebar saat mengetahui tidak ada tukang parkir begitu keluar ruangan.

Meski kecil kemungkinan mereka benar-benar tidak tahu, ekspresi riangnya seakan-akan berhasil lolos dari jebakan mematikan.

“Nah, kalau pulang pagi kan, nggak ada  tukang parkir,” kata salah satu teman saya saat kami pulang pagi pertama kali dari coffee shop di Jogja.

Begitu saya menanyai Eka yang juga pernah mengalami ini, dirinya bilang perasaan ini tanpa alasan khusus. Tapi, ia juga membenarkan perasaan senang ini. “Ya, happy, karena nggak perlu kena pungli yang ibaratnya cuma kayak ‘sini, sini’,” tutupnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Eksperimen Menghitung Penghasilan Tukang Parkir Kafe Estetik di Jogja: 2 Kali Gaji Karyawan Kafe Itu Sendiri dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 April 2026 oleh

Tags: anak nongkrongbayar parkircoffe shop di jogjacurhat parkiranjuru parkirpilihan redaksistrategi parkirtarif parkirtukang parkir
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.