Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Eksperimen Menghitung Penghasilan Tukang Parkir Kafe Estetik di Jogja: 2 Kali Gaji Karyawan Kafe Itu Sendiri

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
17 Oktober 2025
A A
parkir jogja dan bali.MOJOK.CO

Ilustrasi tukang parkir (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Melalui sebuah eksperimen kecil, saya mengetahui bahwa penghasilan tukang parkir kafe estetik di Jogja mencapai Rp150-200 ribu sehari, atau Rp5 juta sebulan. Dua kali lipat gaji karyawan kafe itu sendiri.

***

Iklan

Saya sering nongkrong di sebuah kafe estetik di Jogja. Kafe-nya nggak besar, cuma ada dua ruangan: indoor yang sempit dan outdoor yang kalau penuh sedikit saja sudah bikin kursi saling bersenggolan. 

Dindingnya ala-ala industrial. Sementara musiknya indie-pop dan garage-rock kesukaan anak-anak skena.

Saya sering ke sana karena salah satu pengelolanya teman saya sendiri. Di sana, kadang ngetik kerjaan, atau cuma ngobrol ngalor-ngidul soal hidup susah sebagai WNI. Tapi saya menyukai tempat ini karena suasananya tenang, harga kopi masih rasional, dan pelayannya sudah akrab aja, sih.

Sampai suatu sore, saya tanpa sengaja memperhatikan seseorang yang selama ini mungkin luput dari radar: tukang parkir.

Kafe ini punya area parkir kecil, hanya muat sekitar 15-20 motor kalau ditata rapi. Tapi sore itu, saya lihat arus motor keluar-masuk cukup ramai. Dalam dua jam saya nongkrong, saya hitung kira-kira lebih dari 15 motor berganti posisi. Tarif parkirnya standar: Rp2 ribu per motor. 

Artinya dalam dua jam saja, sesuai hitungan saya, tukang parkir itu sudah mengantongi Rp30 ribu.

Saya sempat berhitung dalam hati: “Kalau dua jam bisa 30 ribu, berarti kalau seharian? Wah, lumayan juga.” Tapi tentu itu baru kira-kira. Maka, saya memutuskan untuk bikin “eksperimen kecil” di kemudian hari.

Saat jam prime time, bisa dapat lebih banyak

Beberapa malam setelahnya, saya datang lagi. Kali ini di jam prime time–sekitar pukul tujuh sampai sepuluh malam–saat mahasiswa dan pekerja mulai menyerbu kafe dengan laptop dan keresahan masing-masing. 

Saya duduk di pojokan outdoor. Kopi saya taruh di sebelah laptop yang saya biarkan menyala. Misi saya malam itu sederhana: menghitung jumlah motor yang masuk dan keluar.

Saya hitung satu per satu secara teliti dan presisi. Niat banget untuk melakukan riset. Hasilnya? Dalam tiga jam, total ada 40 motor keluar-masuk.

“Kalau satu motor dua ribu, berarti tukang parkir itu menghasilkan 80 ribu rupiah. Delapan puluh ribu dalam tiga jam,” kata saya dalam hati.

Itu belum termasuk uang recehan dari pelanggan yang “bayar lebih” atau yang keburu cabut tanpa ambil kembalian. 

Iklan

Penghasilan tukang parkir 2 kali lipat karyawan kafe

Saya coba bandingkan dengan gaji teman saya yang kerja di kafe itu. Katanya, dia digaji Rp2,3 juta per bulan. Kerjanya enam hari seminggu, delapan jam per hari. Kalau dibagi rata, berarti ia mendapatkan penghasilan Rp95 ribu per hari.

Artinya, si tukang parkir dalam tiga jam kerja sudah dapat hampir setara pendapatan harian karyawan kafe. Dan kalau malam-malam lain seramai itu, berarti dalam sehari ia bisa dapat lebih dari Rp100 ribu, bahkan mungkin Rp150-200 ribu rupiah.

Untuk memastikannya, saya tanya teman saya lagi.

“Tukang parkir itu bagi hasil nggak sama pengelola?” kira-kira demikian pertanyaan saya.

 “Setahuku ya nggak. Parkir dipegang sendiri. Nggak ada sistem bagi hasil,” jawabnya.

Saya sempat bengong. Jadi selama ini, tiap malam si tukang parkir mungkin membawa pulang uang harian setara dua kali gaji karyawan yang kerja delapan jam di bawah AC.

Saya coba bayangkan perhitungan kasarnya: 

Kalau rata-rata sehari Rp100 ribu (50 motor), sebulan (katakanlah kerja 26 hari) berarti Rp2,6 juta. Kalau Rp150 ribu per hari (75 motor), bisa Rp3,9 juta. Atau, pas bener-bener ramai, sehari Rp200 ribu (100 motor), tukang parkir bisa mendapatkan Rp5,2 juta.

Dan itu tanpa slip gaji, tanpa tunjangan, tanpa cuti tahunan. Tapi uangnya tunai. Langsung di tangan.

Margin of error

Namun, itu adalah eksperimen kecil yang saya lakukan atas dasar kepo saja. Perhitungannya bisa salah, bisa mendekati, dan bisa juga tepat. Nah, mungkin di sini letak margin of error-nya: bisa jadi tiap jam tingkat keramaian kafe beda-beda.

Bisa jadi, waktu saya melakukan eksperimen kecil itu, kebetulan kafe memang lagi ramai saja. Wallahualam.

Tapi yang jelas, eksperimen kecil ini bikin saya berpikir, bahwa dalam ekosistem ekonomi kota seperti Jogja—yang katanya murah—ada lapisan pekerjaan yang diam-diam jauh lebih “untung” dari yang terlihat.

Teman saya yang kerja di kafe itu harus melayani pelanggan, bersih-bersih, kadang lembur. Gajinya pas-pasan. Sementara tukang parkir “cuma” bermodal rompi dan peluit, bisa membawa pulang uang lebih banyak.

Bisa jadi, ini bukan cuma soal siapa kerja lebih keras, tapi siapa yang lebih “cerdik” dalam melihat peluang. Si tukang parkir tak menunggu tanggal muda, tak perlu menunggu transferan finance, tak kenal potongan BPJS. Semua langsung cair.

Malam itu, saya pulang dengan kepala penuh angka. Di satu sisi saya kagum–karena ternyata tukang parkir bisa “mengalahkan” sistem gaji karyawan formal. Tapi di sisi lain, ada semacam ironi yang susah saya cerna.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Eksperimen Seminggu Jadi Tukang Parkir Ilegal di Jogja, Penghasilannya Bisa Kebeli Apa Aja? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Oktober 2025 oleh

Tags: Jogjakafe jogjapilihan redaksitukang parkirtukang parkiri jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.