Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Penipuan Jadi PNS: Pesona Hidup Enak, Nggak Perlu Mikir UMR

Anggapan jadi PNS itu enak sudah menancap sangat dalam di benak orang Indonesia.

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
14 November 2021
A A
Penipuan Jadi PNS: Pesona Hidup Enak, Nggak Perlu Mikir UMR MOJOK.CO

Penipuan Jadi PNS: Pesona Hidup Enak, Nggak Perlu Mikir UMR MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Banyak anak muda merasa jadi PNS itu “aman”, dijamin negara. Nggak mikir UMR, meski lahir banyak penipuan karena pesonanya.

Kalau nggak karena desakan dari ibu, saya nggak mungkin mau daftar dan ikut ujian jadi PNS. Saat itu saya masih bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan di Jogja. Profesi yang sebetulnya sudah lumayan enak. Gaji lumayan, sedikit di atas UMR dan buku yang saya kawal tidak terlalu berat.

Saya mendaftar dengan perasaan setengah hati. Bekerja di pemerintahan rasanya bukan gairah saya. Namun, ketika sudah ikut ujian CPNS, rasanya kok sayang kalau nggak diusakana. Yah, anggap saja sebagai ikhtiar memenuhi harapan orang tua. Namun, pada akhirnya, saya juga yang makan hati.

Selepas ujian jadi PNS, ketika nilai peserta keluar, nama saya ada di posisi dua atau tiga. Saya agak lupa. Teman saya bilang kalau udah di posisi dua atau tiga, seharusnya lolos ke “babak selanjutnya”. Petugas yang jaga juga mengatakan saya tinggal nunggu pengumuman saja. Katanya bakal muncul di media massa.

Saya yang malas mencari tahu lebih lanjut, ya tinggal menunggu hasil ujian jadi PNS di media massa saja. Hasilnya, nama saya hilang dari daftar peserta yang lolos ke babak selanjutnya. Sejak saat itu, saya jadi semakin risih jika ada yang mendorong saya untuk daftar jadi PNS lagi.

Saya tidak penuduh ada kecurangan atau penipuan. Toh saya juga nggak begitu peduli. Ibu saya juga sudah ikhlas melihat hasilnya di koran. “Mungkin bukan rezekimu,” kata beliau. Saya senang, meski jauh di dalam hati, agak kecewa juga karena nama saya hilang.

Waktu berlalu, tahun demi tahun, sampai suatu kali di tengah pernikahan adik saya, tema jadi PNS kembali muncul. Saudara-saudara saya yang lebih muda, kompak berpikir bahwa jadi PNS itu “kayaknya menarik”.

Pemikiran mereka didasari dari pengalaman melihat kami, yang lebih senior dan kerja di perusahaan swasta, sering mengeluh stres karena pekerjaan. Sudah gajinya standar UMR (sekarang dikenal sebagai UMK), kerjanya berat. Bahkan beberapa bekerja melebihi job description yang disepakati.

Salah satu saudara saya bahkan mengucapkan kalimat yang agak ekstrem. “Kalau kerjanya sudah berat, job desk nambah, gaji setara UMR, ya nggak beda kayak penipuan.” Orang tua yang mendengar kalimat itu melirik kami, yang lebih senior dan terlihat tertohok.

Saudara muda saya satu ini memang punya pemikiran yang unik. Sebetulnya dia ini pintar dan bisa bekerja di perusahaan besar. Kalau mau. Namun, dia lebih suka memandang hidup sebagai perjalanan yang nggak perlu dipikir terlalu serius. Pemikiran ini berpengaruh kepada caranya melihat profesi.

“Kayaknya ya, jadi PNS itu menarik. Kerja nggak begitu berat, tunjangan aman sampai tua. Masih dapat pensiun,” katanya.

Saudara saya yang lain menimpali, “Weekend masih bisa piknik dan nggak usah mikir lemburan.”

Keduanya opini yang masuk akal. Sulit dibantah.

Agustus 2021, Ajeng Rizka, redaktur Mojok menulis bahwa banyak orang makin pengin jadi PNS ketimbang kerja di korporasi. Ibaratnya, kerja di korporasi itu kayak “kuda pecut”. Dia menulis begini:

Iklan

“Logikanya begini, kerja jadi budak korporat, gaji besar, teman gaul, bisa ngasih makan idealisme dan gaya hidup, tapi kerja siang malam kayak kuda pecut, perlahan bisa menyiksa mental. Rasanya apa yang kita kerjakan selalu melelahkan, tapi semua yang kita lakukan adalah buat perusahaan. Mereka memberikan konversi keberhasilan perusahaan berupa gaji dan insentif. Kita cuma perlu kerja, kerja, kerja, lama-lama tipes. Sayangnya kalau kita meninggal, perusahaan tinggal cari karyawan baru, keluarga kita yang sedih. Padahal selama ini, cuma sedikit waktu istirahat yang bisa kita habiskan bareng keluarga. Duh, pait.”

“Saya sih belum pernah berhasil daftar PNS dan diterima, tapi dari kesaksian banyak orang, jadi PNS memang nggak lebih sibuk dari perusahaan swasta yang ngasih kerja nggak masuk akal. Lama-lama, semakin masuk akal kenapa begitu banyak orang pengin jadi PNS meski gaji PNS nggak sedahsyat itu. Selain menginginkan hidup lebih waras, mereka juga berhak tenang dengan dana pensiun dan tunjangan masa tua.”

Anggapan jadi PNS itu enak sudah menancap sangat dalam di benak orang Indonesia. Faktor keamanan ekonomi menjadi alasan paling kuat. Apalagi kalau jadi PNS, kan, nggak menutup kemungkinan kita untuk “nyambi”. Bisa buka warung, jualan online, atau buka pom bensin. Waktu yang tersedia masih banyak untuk “nyambi”.

Saking enaknya, penipuan untuk jadi PNS sangat marak. Terakhir, Olivia Nathania, anak dari seniman Nia Daniaty, ditangkap polisi karena kasus penipuan jadi PNS.

Kompas menulis bahwa Olivia ditangkap polisi setelah menipu 225 orang. Modusnya, Olivia menawarkan posisi PNS menggantikan pegawai yang sudah dipecat atau meninggal karena Covid-19. Korban yang tergoda akan kenyamanan sebuah profesi, menyetor sejumlah uang yang tidak disebutkan nominalnya.

Hal ini menggambarkan bahwa rasa aman yang dihadirkan sebuah profesi itu nyata banget. Meskipun gaji PNS nggak jauh banget dari standar UMR, mereka yang lolos akan merasa aman sampai masa tua.

Ingat, tidak punya uang dan pekerjaan itu sangat berbahaya. Hidup jadi merasa terancam dan mungkin berakhir jadi narapidana karena “kepepet”. Ketika negara tidak bisa menjamin kehidupan yang nyaman untuk rakyat, ya rakyat akan melakukan segala hal untuk melawan perut lapar.

Nah, di bagian inilah banyak anak muda yang merasa jadi PNS itu “aman”. Mereka dijamin oleh negara. Mau kinerjanya bagus atau jelek banget, gaji dan tunjangan tetap aman.

Untung gaji saya di Mojok masih di atas UMR, masih bisa main PS tiap sore. Secara ekonomi dan kesehatan mental, sih, masih aman. Nggak tahu sama perasaan saudara-saudara yang lebih tua dan menghabiskan separuh hidupnya untuk kerja keras bagai kuda dan jadi budak korporat.

Eh, tapi di Mojok juga kami jadi budak, sih. Tepatnya, budak Google yang rakus itu.

BACA JUGA Profesi PNS Adalah Kebanggaan Orang Tua yang Masih Abadi dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 14 November 2021 oleh

Tags: budak korporatDaftar CPNSjadi pnspenipuan CPNSpenipuan PNSPNSumr
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Nekat resign dari BUMN karena nggak betah kerja di Jakarta. MOJOK.CO
Liputan

Nekat Resign dari BUMN karena Lelah Mental di Jakarta, Pilih “Pungut Sampah” di Kampung agar Hidup Lebih Bermakna

10 Desember 2025
S3 di Bandung, Istri PNS Makassar- Derita Jungkir Balik Rumah Tangga MOJOK.CO
Esai

Jungkir Balik Kehidupan: Bapak S3 di Bandung, Istri PNS di Makassar, Sambil Merawat Bayi 18 Bulan Memaksa Kami Hidup dalam Mode Bertahan, Bukan Berkembang

1 Desember 2025
Jadi dosen non PNS (honorer) di kampus swasta dapat gaji yang bikin nelangsa. Nyesel kuliah sampai S2 MOJOK.CO
Ragam

Berambisi Jadi Dosen biar Terpandang dan Gaji Sejahtera, Pas Keturutan Malah Hidup Nelangsa

18 Oktober 2025
UMR Jogja 2025 Sungguh Menyiksa, Fresh Graduate Stres MOJOK.CO
Esai

Fakta Penderitaan Fresh Graduate di Jogja: Harus Double Job Hanya Demi Bisa Hidup Layak dan Menabung Mengingat UMR Jogja 2025 Ini Terlalu Menyiksa

7 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.