Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kemnaker, Drama Pegawai Tetap vs Magang Itu Konten Jahat

Kemnaker, stigma itu berbahaya, lho. Konten pegawai tetap vs anak magang itu berbahaya untuk nama baik.

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
20 November 2021
A A
Kemnaker, Drama Pegawai Tetap vs Magang Itu Konten Jahat MOJOK.CO

Kemnaker, Drama Pegawai Tetap vs Magang Itu Konten Jahat MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Halo Kemnaker, konten TikTok pegawai tetap vs anak magang itu jahat banget, lho. Ingat, ada nama baik sebuah brand yang menempel di sebuah konten.

Saya harus sampai mengunduh TikTok hanya untuk mengintip akun resmi Kemnaker. Setelah scroll beberapa kali, sebetulnya konten yang dibuat para pegawai tetap (kayaknya) masih wajar saja. Konten mereka ringan, berisi dinamika dunia kerja yang jamak ditemui.

Saya sampai harus mengunduh TikTok. Hanya untuk membandingkan beberapa konten Kemnaker yang masih terbilang wajar dengan satu konten yang jahat banget. Kontennya kayak gini:

@kemnakerSiapa nih Rekanaker yang pernah merasa tersaingi sama anak magang? Jangan khawatir.. Semua sudah punya tupoksi masing-masing. Buat Rekanaker yang lagi magang, tetap kerja dengan maksimal ya 😊♬ original sound – Kementerian Ketenagakerjaan

Saya nggak tahu proses kreatif di belakang konten ini. Namun, membenturkan pegawai tetap dengan anak magang itu jahat. Nggak sensitif dengan penderitaan anak magang yang ramai di media sosial beberapa waktu yang lalu.

Salah satu kesulitan mahasiswa magang yang sempat ramai adalah kewajiban masuk kantor di tengah pandemi. Rasa takut tertular Covid-19 kerap tidak diperhatikan perusahaan swasta atau plat merah yang membuka lowongan magang.

Selain itu, mahasiswa magang menyandang status tidak diupah, lagi-lagi karena alasan pandemi. Lantaran harus WFH, kantor tidak mau memberikan jatah uang makan atau ganti kuota. Padahal, mahasiswa magang harus siap meliput konferensi yang bisa berjam-jam, misalnya.

Dear Kemnaker, salah satu masalah klasik dari status ini adalah mereka menjadi seperti pesuruh saja bagi pegawai tetap. Misalnya disuruh untuk fotokopi, membawakan berkas, bikin kopi, sampai beliin nasi bungkus. Pegawai tetap jadi malas bergerak dan memperlakukan anak magang tidak seperti seharusnya.

Kemnaker yang budiman, kondisi ini membuat banyak anak magang tidak bisa “bekerja” secara maksimal. Banyak dari mereka yang cuma hadir demi absensi dan memenuhi syarat lulus saja. Akhirnya, tidak ada ilmu yang didapat. Waktu yang sudah mereka luangkan jadi sia-sia.

Melihat kondisi seperti ini, kok ya ndilalah, konten TikTok Kemnaker mampir di timeline Twitter saya. Kementerian yang seharusya memberikan perlindungan kepada semua “pekerja”, nggak cuma pegawai tetap, tapi juga anak magang, malah membenturkan keduanya.

Tahukah Anda, kreator konten TikTok Kemnaker, satu konten itu bisa membuat persepsi masyarakat kepada kalian menjadi sangat negatif. Konten tersebut seperti “menghakimi” kalau anak magang itu punya agenda jahat, yaitu merebut tempat pegawai tetap.

Kadang ya, anak magang sudah capek dengan tugas yang melebihi status. Mereka udah capek, mana sempat mikir mau menggeser pegawai tetap. Bisa dapat nilai A dan lulus mata kuliah magang saja sudah bagus. Kok ya masih dipersepsikan jahat seperti itu.

Saya coba “mengenakan sepatu” kreator konten TikTok Kemnaker. Lewat imajinasi singkat, saya membayangkan mereka menganggap konten tersebut sebagai sesuatu yang lucu. Ala-ala drama murahan dan menggambarkan kehidupan di sebuah perusahaan.

Padahal, persepsi seperti ini sangat jahat. Pertama, tidak semua pegawai tetap selalu curiga kepada “orang asing”. Kedua, anak magang (yang rajin) dipersepsikan jahat. Mau merebut pekerjaan. Dipikirnya status dan posisi pegawai tetap itu bisa diambil begitu saja.

Iklan

Kemnaker justru seharusnya paling tahu bagaimana ribetnya memecat pegawai tetap demi memberikan posisi kepada anak magang. Harus mikir pesangon, citra di tengah masyarakat, dan nanti berpeluang diseret pegawai tetap ke ranah hukum karena pemecatan yang nggak jelas.

Di dalam konten jahat tersebut juga digambarkan seorang pegawai tetap punya “kuasa” untuk menentukan nasib anak magang. Hal ini memang benar. Namun, ekspresi dan kalimat yang digunakan kembali menggambarkan bahwa anak magang itu bisa diperlakukan seenak hati. Merasa terancam? Kasih nilai jelek saja. Begitu?

Dear Kemnaker, tahukah Anda, selama pandemi dari 2020 sampai pertengahan 2021 ada pertumbuhan 21 juta konsumen digital baru. Sebanyak 72 persen dari nilai pertumbuhan itu berasal dari daerah non-metropolitan. Artinya apa?

Artinya, pengguna media sosial semakin banyak. Dampaknya bagaimana? Sebuah konten, di platform mana saja, apalagi TikTok, jadi lebih mudah viral. Celakanya, saat ini, kata “viral” sudah lebih dekat dengan konotasi negatif. Jadi, sebuah konten bisa mengubah persepsi masyarakat akan sebuah brand.

Kembali ke awal tulisan saya di atas. Saya menemukan konten-konten TikTok Kemnaker sebetulnya wajar saja. Namun, berkat satu konten pegawai tetap vs anak magang ini, persepsi masyarakat kepada Anda berpotensi berubah (atau malah sudah) ketika nanti viral.

Kemnaker, beberapa pegawai tetap Anda, kan, berstatus PNS. Anda juga seharusnya tahu bahwa status PNS ini negatif di mata sebagian masyarakat Indonesia. Konten itu berpeluang menambah tumpukan stigma negatif kepada PNS.

“Kok pegawai tetap yang statusnya PNS gitu banget ya sama anak magang. Sudah kerjanya enak, dapat tunjangan, dapat uang pensiun, sulit banget dipecat, udah kerja enak di Kementerian, malah julid sama magang.”

Jangan salah, kalimat di atas sudah bisa Anda temukan di media sosial. Dear Kemnaker, stigma itu bisa dengan mudah lahir, tapi sulit untuk dimatikan. Bahkan ketika mereka yang tertempel stigma sudah melakukan rebranding dan memperbaiki diri secara radikal.

Saran saya, Kemnaker sewa tenaga social media specialist, deh. Terus kerja sama dengan creator content yang peka dengan dinamika saat ini. Tujuannya ya untuk mencegah lahirnya konten-konten jahat yang bisa berpengaruh kepada nama baik sebuah brand.

Ingat, memperbaiki nama baik itu mahal banget. Celakanya, sudah keluar banyak uang demi memoles nama baik, masih tidak ada jaminan usaha itu akan berhasil. Ingat kata dokter, dong. Lebih baik (murah) mencegah, ketimbang mengobati.

BACA JUGA Balada Anak Magang di Perkantoran dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 20 November 2021 oleh

Tags: Anak Magangkemnakerkonten viralpegawai tetapPNStiktok
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
Pojokan

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Urban

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO
Urban

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS
Sehari-hari

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker MOJOK.CO

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker

24 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.