Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dari WFH, Anjay, sampai Impostor: Istilah-istilah di Kaleidoskop 2020 yang Memorable

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
29 Desember 2020
A A
Dari WFH, Anjay, sampai Impostor: Istilah-istilah di Kaleidoskop 2020 yang Memorable

Dari WFH, Anjay, sampai Impostor: Istilah-istilah di Kaleidoskop 2020 yang Memorable

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Beberapa istilah yang muncul di kaleidoskop 2020. Dari penyakit, hal-hal anjay, bahkan sampai istilah “anjaaay” itu sendiri.

Kalau hidup diibaratkan balapan motor di lintasan Sentul, tahun 2020 itu ibarat pit stop. Buktinya, kata terpopuler dalam skala global di pencarian Google selama setahun ini terkait langsung dengan keberadaan kita yang nggak ke mana-mana: Coronavirus alias virus corona.

Iklan

Pada awal tahun, virus corona terasa kayak lelucon. Negara-negara lain mulai waspada, tapi kita meyakini virusnya bakal pergi dengan kerokan dan tidak lebih sakti dari masuk angin.

Waktu masker-masker mulai langka di minimarket, keadaan jadi lebih serius, khususnya bagi penumpang-kendaraan-umum-yang-kalau-tidur-sambil-duduk-pasti-mulutnya-mangap.

Ya, selain karena ketakutan kena virus corona, ketakutan menurunnya citra diri yang cool dan elegan juga jadi ancaman.

Selain virus corona, ada beberapa istilah yang menjadi penanda penting dari tahun 2020 yang membuat kita merasa menjadi pemain film sci-fi bertema time-loop (lingkaran waktu tak  berkesudahan) ini.

WFH, lockdown, dan PSBB

Sebelum ada keputusan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di ibu kota, Jakarta memberlakukan kebijakan WFH (Work from Home) per bulan Maret 2020.

Hanya sektor-sektor khusus yang diperbolehkan bekerja di kantor, sedangkan sisanya harus menyelesaikan setumpuk laporan dan meeting dari rumah, kos, atau apartemen masing-masing. Omong-omong, gara-gara keputusan ini, disambung dengan kebijakan PSBB dan PSBB Transisi kemudian, hingga hari ini, saya belum pernah masuk ke kantor baru saya di Jakarta—sama sekali.

Yang beraktivitas from home bukan cuma para pekerja, melainkan juga anak sekolah. Ini, jujur saja, agak merepotkan wali murid di rumah. Kalau biasanya mereka bisa menegur anak-anak yang mendapat nilai rendah di pelajaran Matematika, sekarang mereka justru diuji untuk ikut membantu mengajari mereka Matematika. Mamam.

Bagi anak-anak, ini juga keadaan yang sulit: mereka tidak lagi bisa mlipir ke kantin sekolah di jam pelajaran. Di rumah, mau GoFood aja diomelin duluan karena sayur tadi pagi masih sisa dan belum habis dimakan.

PSBB, sementara itu, secara resmi diberlakukan sekitar sebulan setelah WFH berjalan. Sebelumnya, santer terdengar isu akan adanya lockdown, yaitu penutupan akses keluar dan masuk suatu wilayah secara total.

Meski pada akhirnya yang dipakai adalah PSBB yang setiap habis masa periodenya bakal disambut dengan berita perpanjangan PSBB. Ini PSBB atau STNK?

Sementara lockdown tetap menjadi istilah paling sering dipakai netizen pada 2020. Bahkan, tak berapa lama kemudian, muncullah seorang pria yang tahu-tahu viral waktu lagi ngiklanin odading.

Nama belakangnya adalah anagram dari istilah lockdown: Ade Lowndock.

Prank

Selain perang, prank adalah hal lain yang bisa mengancam ketenangan manusia di muka bumi. Ferdian Paleka berhasil membuktikannya di pertengahan tahun 2020.

YouTuber yang saru ini memperlihatkan pada dunia bahwa kegabutan di masa pandemi mampu membuatnya berpikir kreatif cum njeleih dengan membuat video iseng-iseng berhadiah sampah.

Dengan berkedok bagi-bagi sembako, ia dan teman-temannya terkikik geli menertawakan penerima bingkisan karena sembako tadi berisi batu. Padahal batunya juga bukan batu Ponari atau Dreamstone Wonder Woman yang dapat mengabulkan permintaan.

Sembarangan betul ini Ferdian Paleka! Kalau Thomas Djorghi sampai tahu, apa dia nggak harus merevisi judul lagunya, Sembako Cinta, jadi Sembako Cinta (Bukan Prank)?!

Iklan

Untungnya, Ferdian Paleka diketahui telah meminta maaf dan berhasil menahan amarah netizen yang ramai-ramai ingin unjuk rasa di depan kantor catatan sipil untuk mengganti namanya jadi Ferdian Pale Lu.

Anjay!

Dinda Hauw menikah dan tiba-tiba saja nama Rizky Billar melambung sebagai sad boy yang ditinggal nikah. Di tempat berbeda, Lesti Kejora juga dapat impresi serupa setelah mantan kekasihnya, Rizki DA, menikahi gadis lain.

Berkat ilmu jodoh-jodohan netizen dan sejumlah acara talkshow, duo Leslar alias Lesti dan Billar, akhirnya terwujud. “Jargon” mereka di awal kemunculan adalah “Anjaaay!”

Kata anjay diketahui banyak orang sebagai bentuk halus dari kata anjing, yang penggunaannya hampir tidak pernah bermakna menghina. Sebaliknya, ia dipakai untuk menggambarkan kekaguman, sorakan, takjub, atau apresiasi.

Tak seorangpun dari kita bakal menduga kalau ada seorang pria yang bakal mati-matian menggugat penggunaan kata anjay: Lutfi Agizal.

Komnas PA bahkan pernah ikutan merilis surat pers berupa imbauan tak digunakannya kata anjay, yang banyak dikritik berbagai pihak. Saking banyaknya protes terkait rilis tersebut, waktu itu saya agak khawatir kalau-kalau Komnas PA langsung ganti nama jadi Komnas PK, alias Perusak Kesenangan. Ouch.

Ghosting di Among Us

Menurut Google Trends, kata terpopuler di Indonesia sepanjang tahun 2020 adalah ghosting, mengalahkan segala istilah berkaitan dengan virus corona mana pun.

Ini menunjukkan bahwa ketakutan kita untuk menghadapi sakit akibat ditinggalkan tanpa alasan masih lebih besar dibanding kena penyakit dari virus yang bahkan belum ada vaksin resminya.

Perilaku ghosting ini memang bahaya, konon sama bahayanya dengan penyakit kronis di dunia. Sebagai korban, kita bisa saja kena aksi manipulatif pelaku hingga akhirnya mempertanyakan kelayakan diri sendiri untuk dihargai orang lain.

Tapi, tenang saja. Sakit hati yang itu bisa terbalaskan lewat aplikasi permainan di ponsel bernama Among Us. 

Permainan yang rilis tahun 2018 tapi mencapai puncak ketenarannya di tahun 2020 ini menawarkan sistem yang hampir mirip dengan werewolf, dengan latar belakang kapal ruang angkasa. Setiap ada korban meninggal yang dibunuh diam-diam, semua orang harus bisa meyakinkan awak kapal lainnya bahwa bukan masing-masing dari mereka pelakunya.

Lalu di sanalah ia, peran yang jadi buah bibir semua orang: Impostor.

Ya, dalam Among Us, penjahatnya adalah impostor yang menutupi identitasnya rapat-rapat. Ketika korbannya lengah, ia bakal beraksi dan membunuh, lalu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah.

Begitu saja. Seperti pelaku ghosting. Dan juga, seperti… virus corona.

BACA JUGA 5 Drama Korea Terbaik 2020 Versi Bunda-bunda Salehah dan tulisan Aprilia Kumala lainnya.

Terakhir diperbarui pada 29 Desember 2020 oleh

Tags: anjaycoronakaleidoskoplockdownPSBB
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Sejarah Indonesia 100 Tahun Lalu: Dari Pembuangan Tan Malaka hingga Keluarnya Muhammadiyah dari Barisan Sarekat Islam

Sejarah Indonesia 100 Tahun Lalu: Dari Pembuangan Tan Malaka hingga Keluarnya Muhammadiyah dari Barisan Sarekat Islam

2 Januari 2023
Hidup Tak Semudah ‘Cocote’ Deddy Corbuzier

Hidup Tak Semudah ‘Cocote’ Deddy Corbuzier

2 Agustus 2021
Brutalnya Hidup di Negara kayak Indonesia: Negara ‘Survival of The Fittest’

Brutalnya Hidup di Negara kayak Indonesia: Negara ‘Survival of The Fittest’

15 Juli 2021
Balas budi

Dear Bapak Jokowi, Saya Bangga Sekali jadi Rakyat Indonesia saat Pandemi Begini

11 Juli 2021
Pagar Keraton (Bukan) untuk Rakyat Yogyakarta

Pagar Keraton (Bukan) untuk Rakyat Yogyakarta

8 Juli 2021
ilustrasi Apa yang Tidak Boleh dan Boleh Dilakukan Saat Penerapan PPKM Darurat 3-20 Juli 2021 mojok.co

Apa yang Tidak Boleh dan Boleh Dilakukan Saat Penerapan PPKM Darurat 3-20 Juli 2021

1 Juli 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.