Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Aku Membayangkan Ma’ruf Amin yang “Berbeda” Itu Non-Muslim

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
11 Maret 2019
A A
ma'ruf amin mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Aku ngefans sama Kiai Ma’ruf Amin yang tampil berbeda. Pakai sarung, ketika semuanya berjas. Nah, gimana seandainya yang berbeda itu soal agama, bukan penampilan saja?

Selamat ulang tahun Kiai Ma’ruf Amin. Semoga sehat dan bahagia selalu. Safari politik dan memikirkan umat di waktu bersamaan di usia 76 tahun itu bukan perkara enteng. Kalau stamina tidak dijaga, flu mudah menyerang. Banyak minum air putih, ya Abah.

Bahagianya mendapat hadiah handmade buatan cucu sendiri. Ketika sedang safari politik di Sumatera Utara, Kiai Ma’ruf menerima kue buatan Syaikha Aulia, cucunya. Kiai Ma’ruf yang tampak bahagia itu menerima kue dari cucunya kepada istrinya, Wury Estu Handayani.

“Hari ini hari ulang tahun saya bertepatan Super Semar, 11 Maret. Saya berharap ke depan mendapat keberkahan, keberuntungan, di tahun yang membawa kebaikan buat saya, keluarga dan tentu bagi bangsa dan negara,” ujar Ma’ruf Amin, seperti dilansir dari Antara, Senin.

Sungguh random ketika Kiai Ma’ruf menyebut Super Semar sebagai titi mangsa tanggal ulang tahunnya. Hmm…seperti kebanyakan orang tua, yang menggunakan pertanda alam atau kejadian bersejarah sebagai penanda tahun atau tanggal kelahiran. Menarik betul mengetahui pandangan Kiai Ma’ruf soal Super Semar yang legendaris itu.

Tapi itu bukan yang ingin aku katakan. Begini, aku itu ngefans sama Kiai Ma’ruf. Ngefans ya, tolong bedakan ngefans dengan preferensi politik. Ngefans bukan berarti aku bakal mencoblos Kiai Ma’ruf di tanggal 17 April. Enak saja. Aku nyoblosnya Jokowi, lah…..sama Prabowo, dan Sandiaga Uno. Aku coblos semua.

Tapi aku serius soal ngefans sama Kiai Ma’ruf. Mengapa? Karena beliau berani tampil beda. Seperti kebanyakan ulama, Kiai Ma’ruf tampil dengan identitasnya yang khas. Beliau tidak terbawa oleh “keharusan” menggunakan jas dan kemeja. Bahkan, salah satu syarat Kiai Ma’ruf mau menerima pinangan Jokowi maju nyapres/nyawapres adalah diizinkan tetap menggunakan sarung.

Saking sudah cirinya begitu, yang ditanyakan Ma’ruf Amin ketika dipinang Jokowi sungguh spesifik. “Ketika diajak jadi calon wakil presiden, saya tanya: apakah saya kalau jadi wakil presiden harus ganti celana?” tanya sang kiai seperti dikutip oleh merdeka.com.

Seperti apa jawaban Jokowi? Ma’ruf Amin menirukan jawaban mantan Gubernur DKI itu secara langsung, “Oh tidak, pak kiai tetap seperti semula (bersarung).” Jawaban yang tentunya sungguh melegakan karena mengubah penampilan, bagi beberapa orang, sungguh sulit dilakukan, apalagi yang sudah menjadi ciri khas dirinya.

Bagi seorang santri, imam, guru, kiai, Ma’ruf Amin sudah nyaman dengan starter pack khas dirinya: bersarung, bersandal slop, surban, dan peci. Jangan heran, cara berbusana ini punya filosofi yang sangat dalam, terutama sarung bagi laki-laki muslim.

Adalah Neyla Hamadah, seorang kolumnis, mengungkapkan makna sarung yang sangat cocok dengan filosofi Ma’aruf Amin sendiri. Jadi, Mbak Neyla, menulis seperti ini:

“Saya mengartikan filosofi sarung yang tanpa karet, atau tanpa resleting dan kancing. Kain sarung sangat sederhana. Namun, corak kain sarung sangat beragam dan detailnya apik. Seperti seharusnya pemikiran kita dalam bersosialiasai di tengah masyarakat yang kompleks seperti corak sarung. Bahwa kita hanya perlu berbuah baik dengan memberi manfaat kepada sesama,” tulis Mbak Neyla seperti yang ia tuangkan untuk beritagar.id.

“Digambarkan dengan tidak adanya atribut kancing dan resleting yang mengekang pergerakan badan. Artinya, kita semestinya bersikap fleksibel, tidak kaku dalam bergaul. Kemudian adanya ruang ketika kain sarung dipakai adalah sebuah pengibaratan untuk menerima dengan lapang dada apa saja yang menjadi permasalahan umat untuk dirasai bersama.”

“Gulungan kain di perut mengisyaratkan supaya kita tetap kuat menjaga silaturahmi bersama. Filosifi sarung yang penuh makna itu bisa kita jadikan kontemplasi akan kehidupan sosial kita yang makin hari makin gersang oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek. Dari sebuah kain bahkan kita bisa belajar akan pentingnya menjaga silaturahmi antarsesama dengan sikap fleksibel. Sehingga memupuk persatuan dan kesatuan bangsa,” tutup Mbak Neyla.

Iklan

Jadi memang sangat kontras ketika Ma’ruf Amin berfoto bersama Jokowi, Prabowo, dan Sandiaga Uno. Ketika ketiga orang yang disebut terakhir menggunakan jas yang “kebarat-baratan”, Kiai Ma’ruf mengenakan seragamnya yang khas itu.

Berani tampil berbeda selalu baik, selama positif dan ada di dalam koridor etika. Oleh sebab itu, aku ngefans betul sama Kiai Ma’ruf. Namun, izinkan aku agak nakal sedikit. Begini: gimana kalau yang berbeda dan diterima itu bukan hanya soal fisik saja tetapi soal yang lebih prinsipil? Misalnya agama.

Gimana jadinya kalau Ma’ruf Amin itu seorang kafir? Ahh maaf, maksud saya, non-muslim. Gimana seandainya nama lengkap beliau itu Andreas Ma’ruf Amin. Beliau mau nyapres dengan mengajukan syarat kepada Jokowi seperti ini: “Pak Jokowi, shalom. Apakah saya nanti harus melepas kalung rosario ketika safari politik dan pas debat cawapres nanti?”

Jokowi menjawab, “Oh tidak, pak Andreas tetap seperti semula (berkalung rosario).”

Lalu ada seorang kolumnis ternama menulis begini:

“Saya mengartikan filosofi kalung rosario yang berderet-deret, tanpa terputus. Kalung rosario sangat sederhana. Namun, detailnya apik. Seperti seharusnya pemikiran kita dalam bersosialiasai di tengah masyarakat yang kompleks. Bahwa kita hanya perlu membina persatuan dan menguatkan sesama seperti rangkaian kalung yang tidak terputus.”

“Kalung rosario identik dengan agama Katolik. Namun, tetap bisa diterjemahkan secara universal seperti sarung. Artinya, kita tetap bersikap fleksibel, tidak kaku dalam bergaul. Kemudian adanya ruang di antara biji-biji tasbih rosario menggambarkan sifat menerima dengan lapang dada apa saja yang menjadi permasalahan umat untuk dirasai bersama.”

“Gulungan kalung di leher mengisyaratkan supaya kita tetap kuat menjaga silaturahmi bersama. Filosifi kalung rosario yang penuh makna itu bisa kita jadikan kontemplasi akan kehidupan sosial kita yang makin hari makin gersang oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek. Dari sebuah kalung kita bisa belajar akan pentingnya menjaga silaturahmi antarsesama dengan sikap fleksibel. Sehingga memupuk persatuan dan kesatuan bangsa, toh pemeluk Katolik juga bagian dari Indonesia dan sekarang tidak lagi disebut sebagai kafir. Saya rasa ini kemajuan yang patut dirayakan semua pemeluk agama di Indonesia.”

“Diterimanya non-muslim sebagai pendamping pemeluk agama mayoritas di gelaran politik sungguh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Segar dan menentramkan. Artinya, perbedaan yang diterima tidak hanya soal fisik, melainkan mental dan kepercayaan. Ini Bhineka Tunggal Ika yang paripurna,” tutup kolumnis ternama itu.

Ketika sedang safari politik, Pak Andreas Ma’ruf Amin diberi waktu untuk ibadah misa hari Minggu pagi. Habis itu baru kampanye lagi. Tengah hari, ketika waktunya salat Zuhur, Pak Andreas Ma’ruf Amin menghentikan orasinya supaya simpatisannya yang beragama Islam bisa salat. Sungguh aku bakal menangis kalau itu betul-betul terjadi.

Jangan ngamuk-ngamuk begitu, ini tulisan “membayangkan”. Santai saja. Sini, aku bikinin kopi susu yang enak.

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2019 oleh

Tags: jokowiKatolikMa’ruf Aminnon-muslimPilpres 2019Sarung
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co
Pojokan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
outfit orang Surabaya Utara lebih sederhana ketimbang Surabaya Barat. MOJOK.CO
Ragam

Kaos Oblong, Sarung, dan Motor PCX adalah Simbol Kesederhanaan Sejati Warga Surabaya Utara

8 Januari 2026
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera

23 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.