MOJOK.CO – Karena pada intinya bukan penistaan agama, buat Katolik, semua hal di dunia ini sangat sederhana, yaitu perkara hukum paling tinggi: Hukum Cinta Kasih.

Katanya Indonesia darurat bercanda. Dari stand-up comedian, hingga calon presiden, merasakan sulitnya bercanda di tengah masyarakat yang gas pol rem blong. Pokoknya ngamuk dulu, akal sehat belakangan. Pokoknya marah dulu, logika pikir nanti. Eits, jangan salah, cap penistaan agama ini tidak hanya merujuk ke satu agama saja. Ketidak-selo-an ini menjangkiti segala bilik-bilik agama.

Menyusun sebuah materi lucu memang bukan pekerjaan yang mudah. Terutama mereka yang bekerja di bidang komedi. Batasannya jelas, untuk Indonesia. Kamu bisa menertawakan segala sesuatu, kecuali soal agama. Materi soal agama, sudah sangat sensitif. Salah ucap sedikit jatuhnya penistaan agama pun perlu akal sehat yang jernih untuk memahaminya.

Suatu ketika saya pernah mengobrol satu meja dengan dua stand-up comedian asal Jogja. Keduanya bersepakat bahwa akan berpikir berjuta kali ketika hendak membawakan materi soal agama. Bahkan ketika off air, apalagi ketika live di depan kamera televisi. Peristiwa penistaan agama Tretan Muslim dan Coki Pardede menjadi pelajaran yang berharga buat mereka.

Apakah kita memang tak akan bisa bikin materi bercanda soal agama selamanya? Padahal, bercanda soal agama memberikan kita banyak perspektif baru. Tentu ketika kita bisa menggunakan akal sehat dan jalan logika yang jernih. Bagi saya, seorang Katolik, bercanda soal agama bukan perkara yang rumit. Bahkan, bisa kamu bilang sepele.

Awal bulan Desember tahun 2018, ada sebuah tweet yang viral. Lebih dari 11 ribu orang me-RT dan delapan ribu akun menyukainya. Ketika membaca balasan dari tweet tersebut, kepercayaan saya bahwa bercanda soal agama itu hal sepele semakin kuat. Semuanya seharusnya baik-baik saja, bahkan ketika saling menerwatakan agama kita. Tentu ketika tiada prasangka dan merasa paling istimewa. Inilah twet yang bisa “mengguncang iman” itu:

Tweet dari akun bernama @maurianusadi itu betul-betul menggoncang. Menggoncang perut saya karena tertawa. Wording tweet yang berbunyi “Saya Katolik aliran extreme sport” sukses mengocok perut. Sebagai orang Katolik, salib dengan Yesus yang terpaku adalah simbol yang penuh makna. Apakah itu sebuah penistaan agama? Saya, dan kebanyakan orang yang membalas tweet tersebut justru bisa bersenang-senang dengan materi komedi yang menyenangkan.

Misalnya ketika salah satu akun bernama Yudha Adiasmara membalas dengan tweet: “Gak safety, pake helm dong. Mentang juru selamat, kenal orang dalem, lantas kayak gitu mainnya. Shoombonk amad!”

Kalau kalian paham dengan konteksnya, kalimat balasan itu sungguh lucu. Kalau Pakdhe Indro Warkop membaca pasti spontan bilang “Kompor gas!”. Jadi, bagi kami Katolik, Yesus adalah juru selamat, yang diutus Allah Bapa ke bumi untuk menebus dosa umat manusia. Bagian “kenal orang dalem” merujuk ke Allah Bapa. Lho, bukannya Yesus itu Allah juga? Sudah, sudah. Jangan diteruskan. Nanti masuk ke konsep Trinitas malah repot.

Balasan tweet yang paling kena lucunya adalah dari akun bernama Josua Manurung. Ia menulis: “Talinya lepas, jadi Protestan”. Dark humor ini berkaitan dengan perbedaan simbol salib Katolik dan Kristen. Jika salib Katolik terdapat Yesus di dalamnya, berbeda dengan salib Kristen yang polos. Yesus yang “sedang bungee jumping”, kalau talinya putus, langsung jadi Kristen. Luar biasa dark, namun lucu.

Ada satu tweet balasan yang menarik perhatian saya, yaitu berasal dari akun bernama Sego Goreng. Melihat foto profilnya yang mengenakan jilbab, beliau pastilah wanita muslimah.

Sego Goreng menulis: “Ini gaada yang demo penistaan agama apa ya. Iri gw.”

Tweet tersebut dibalas oleh akun bernama Rico Fernandes: “Gk ada mbak. Krn ini murni joke bukan penistaan hahahaha. Saya yang Katolik aja ngakak kok liatnya. Btw itu kan cuma benda ya, jd kami bukan penyembah bendanya itu, melainkan kami percaya sama yang aslinya drpd bendanya.”

Saya sepenuhnya setuju dengan pernyataan dari Rico Fernandes. Umat Katolik, seharusnya, mengimani Tuhan tidak secara fisik saja. Simbol adalah penanda, namun iman adalah segalanya. Oleh sebab itu, kami Katolik bisa lebih banyak tertawa ketika simbol-simbolnya digunakan sebagai materi komedi. Kenapa bisa begitu? Karena konteksnya adalah bercanda. Sudah sampai di situ saja.

Ada yang bilang bahwa agama adalah kesunyian masing-masing. Sangat personal, dan sangat intim hubungan ini dengan Tuhan.

Bagi saya, di tengah situasi yang serba panas seperti sekarang ini, menjadi tertuduh penistaan agama itu sangat mudah terjadi. Yang sulit dilakukan adalah berpikir seribu kali tentang tindakan seseorang, hingga sampai pada kesimpulan bahwa yang mereka lakukan adalah sedang melucu.

Tentu ini konsep yang serba sempurna, katarsis, karena bisa jadi seseorang itu sedang melakukan penistaan agama betulan. Nah, ketika kita bisa berdiam diri, mengunyah sebuah peristiwa secara tuntas sebelum menelannya, lalu memaafkan ketika terjadi penistaan, adalah cara Katolik belajar bercanda tentang agama yang kami anut.

Karena pada intinya, buat Katolik, semua hal di dunia ini sangat sederhana, yaitu perkara hukum paling tinggi: Hukum Cinta Kasih.

Loading...



No more articles