Menjadi juragan kost putri tentu adalah impian yang diidam-idamkan oleh banyak orang. Juga oleh kawan saya, Lutvi (29) yang oleh orang tuanya dianugerahi kost putri sebanyak 30 kamar kost di daerah Gamping, Sleman.
Bagi orang seumuran kami, tentu menjadi juragan kost adalah mimpi yang terang benderang. Namun tidak bagi pemuda lulusan Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga tersebut, ia membantah bahwa menjadi juragan kost putri tidak selamanya enak dan menyenangkan.
“Kalian melihatnya karena hanya menghitung dari jumlah pemasukannya saja, ya gendeng kalo jadi aku,” ujarnya.
Dalam bayangan, kita melihat bisnis kost sebagai investasi yang sederhana. Bangun kamar, cari penghuni, lalu setiap bulan tinggal menunggu uang sewa masuk.
Kalau semua kamar penuh, hitungannya memang terlihat menggiurkan. Tapi kenyataannya tidak sesederhana menghitung pemasukan dikurangi pengeluaran.
Ada kamar kosong berbulan-bulan. Ada modal miliaran rupiah yang harus terus berputar. Ada harga tanah di Gamping yang terus naik.
Dan, yang paling tidak terlihat dalam kalkulasi bisnis, ada sekitar 30 mahasiswi yang menjadi tanggung jawabnya.
Persaingan usaha kost putri di Gamping membuat mencari penghuni tidak selalu mudah. Ketika satu kamar kosong, pemasukan otomatis berhenti.
Jika kekosongan berlangsung berbulan-bulan, kerugiannya bukan lagi sekadar angka kecil.
Repotnya mengelola kost putri yang jarang dibicarakan
Sebagian besar penghuni kost putri yang Lutvi kelola adalah mahasiswi. Artinya orang tua mereka tidak hanya membayar kamar sewa, namun juga menitipkan anak mereka kepada pengelola.
Tanggung jawab itu berlaku 24 jam dan tidak mengenal jam kerja. Ia bercerita pernah mengantar salah satu penghuni kost ke rumah sakit sekira pukul tiga dini hari.
Pada saat seperti itu, statusnya sebagai pengelola kost putri juga merangkap menjadi ambulans dadakan yang siap sedia ketika dibutuhkan.
Bayangkan mengelola sekitar 30 anak muda yang memiliki masalah berbeda-beda. Ada yang sakit, ada yang sedang punya persoalan dengan teman sekamar, ada yang berselisih dengan penghuni lain, dan ada pula yang sedang menghadapi masalah pribadi.
Ketika penghuni kost putri bertengkar atau berbeda pendapat, pengelola biasanya hanya bisa menjadi penengah.
“Sebagai pengelola tugas kita ya menengahi saja,” ujarnya.
Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan aturan tertulis di papan pengumuman kost.
Tidak semua kost itu lebih bersih
Ada pula anggapan bahwa kost putri pasti lebih bersih dan rapi dibandingkan kost putra.
Pengalaman selama mengelola puluhan penghuni membuatnya tidak sepenuhnya percaya pada anggapan tersebut.
Menurutnya, penghuni putri juga memiliki kebiasaan masing-masing. Ada yang rajin menjaga kebersihan, tetapi ada pula yang sama saja dengan penghuni kost pada umumnya.
Pada akhirnya, kebersihan lebih banyak ditentukan oleh orangnya, bukan hanya perkara jenis kost putra atau kost putri.
Bagian paling berat dari pekerjaannya justru datang dari persoalan yang tidak terlihat.
Ia beberapa kali melihat penghuni yang sedang berada dalam tekanan karena kuliah. Jadwal perkuliahan yang padat, ditambah kegiatan PKL, bisa membuat sebagian mahasiswa merasa kewalahan.
Tekanan dari keluarga juga terkadang memperberat keadaan. Ada penghuni kost putri yang merasa dirinya hanya menjadi beban orang tua. Perasaan tersebut bahkan pernah mereka ungkapkan melalui unggahan di media sosial.
Menurut pengamatannya, sebagian penghuni juga mengalami kecemasan yang berkaitan dengan persoalan masa lalu dan tekanan yang sedang mereka hadapi.
Di titik itu, pengelola kost kembali berhadapan dengan batas perannya sendiri. Ia bukan orang tua. Bukan pula psikolog.
Tetapi ketika seorang anak yang dititipkan kepadanya sedang berada dalam kondisi sulit, rasanya juga tidak mungkin sekadar berkata, “Yang penting bayar kost tepat waktu.”
Mungkin itulah bagian yang jarang diketahui orang dari investasi kost putri 30 kamar yang memang menggiurkan namun ternyata juga menyimpan kerepotannya sendiri.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza

















