Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
21 Agustus 2026
A A
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

ilustrasi - Dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM, Atus Syahbudin (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Julukan PaKuMis pernah melekat pada Padukuhan Sangurejo di Sleman. Kini, kampung itu dikenal lewat gerakan lingkungan dan produk ecoprint dari kulit salak yang sampai ke Belanda.

PaKuMis merupakan singkatan dari padat, kumuh, dan miskin. Citra itulah yang dahulu melekat pada Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman.

Namun, warga Sangurejo perlahan berusaha melepaskan diri dari julukan tersebut. Mereka melakukan berbagai pembenahan, mulai dari mengelola sampah, melakukan konservasi air, menanam pohon, hingga mengembangkan kegiatan ekonomi yang memanfaatkan potensi lingkungan.

Pada 2023, Sangurejo mendeklarasikan diri sebagai kampung Program Kampung Iklim (ProKlim). Tiga tahun kemudian, kampung tersebut berhasil masuk dalam 32 nominasi ProKlim Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.

Perubahan Sangurejo tidak hanya digerakkan oleh masyarakat. Perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan ikut mendampingi berbagai program lingkungan yang dijalankan warga.

Salah seorang yang terlibat adalah Atus Syahbudin, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus dosen pembimbing lapangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Limbah kulit salak Sangurejo sampai ke Belanda

Atus telah lama mendengar cerita tentang Sangurejo yang berusaha berbenah dari kawasan yang dahulu dikenal padat dan kumuh. Setelah mempelajari potensi kampung tersebut, ia ikut mendampingi pengembangan ProKlim bersama masyarakat dan mahasiswa KKN UGM.

Pendampingan itu mencakup pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

“Berbagai pembenahan melalui pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dilakukan oleh Sangurejo,” kata Atus, dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (19/8/2026).

Salah satu inovasi yang dikembangkan di Sangurejo adalah pemanfaatan limbah kulit salak sebagai bahan pewarna dalam pembuatan ecoprint. Inovasi ini memanfaatkan salah satu komoditas yang lekat dengan kawasan Turi, Sleman.

Produk tersebut dikembangkan masyarakat melalui ECSA atau Ecoprint & Craft Sangurejo. Berbagai produk buatan warga telah mengikuti pameran dan menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden, salah satu kebun raya tertua di Belanda.

Selain memanfaatkan kulit salak, warga menjalankan edukasi pengurangan dan pemanfaatan sampah dari tingkat rumah tangga. Gerakan itu dilakukan untuk membangun kesadaran bahwa sampah tidak cukup hanya dibuang, tetapi juga perlu dikelola dan, jika memungkinkan, dimanfaatkan kembali.

Pengembangan ProKlim Sangurejo juga menggunakan pendekatan sosial dan keagamaan. Melalui ekoteologi atau dakwah ekologi, warga diajak melihat kegiatan menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia.

Prinsip amanah, keseimbangan, dan larangan melakukan kerusakan menjadi landasan moral dalam berbagai kegiatan, mulai dari penanaman pohon, pengelolaan sampah, hingga konservasi air.

“Implementasinya dilakukan melalui edukasi, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi air, dan berbagai aksi lingkungan berbasis masyarakat,” ujar Atus.

Dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM. MOJOK.CO
Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Atus Syahbudin berbaju batik. (sumber: UGM)

Mahasiswa KKN belajar dari warga Sangurejo

Dalam pendampingan ProKlim Sangurejo, mahasiswa KKN UGM tidak hanya datang membawa program pengabdian. Mereka juga diminta mempelajari pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki masyarakat.

Atus membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan praktik kurasi keanekaragaman hayati. Mahasiswa kemudian dilibatkan dalam kegiatan dokumentasi pengelolaan lingkungan, edukasi masyarakat, serta program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Menurut Atus, KKN semestinya menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan akademik dan pengalaman warga. Mahasiswa dapat membantu masyarakat melalui riset, dokumentasi, dan inovasi. Sebaliknya, masyarakat memberikan pengetahuan mengenai kondisi serta potensi lokal yang tidak selalu bisa ditemukan di ruang kuliah.

Iklan

“Program KKN menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik di masyarakat. Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi yang dapat memperkuat program lingkungan yang sudah berjalan,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dan warga belajar bersama mengenai keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, konservasi tanah dan air, penghijauan, serta pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.

Atus menegaskan bahwa perubahan Sangurejo bukan hasil pekerjaan satu orang. Keberhasilannya bertumpu pada kemauan warga serta dukungan berbagai pihak yang selama ini terlibat.

“Ini bukan pekerjaan satu orang. Banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Energi dan semangat tersebut perlu disatukan agar gerakan lingkungan di Sangurejo semakin kuat dan berkelanjutan,” katanya.

Penghargaan bukan tujuan akhir

Masuknya Sangurejo dalam nominasi ProKlim Lestari 2026 menjadi pengakuan terhadap pembenahan yang dilakukan masyarakat. Akan tetapi, penghargaan tersebut bukan tujuan akhir dari gerakan lingkungan di kampung itu.

Menurut Atus, capaian tersebut justru harus menjadi kesempatan untuk memperkuat pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Praktik yang telah berjalan perlu didokumentasikan, dikembangkan, dan dijaga agar tidak berhenti setelah penilaian atau masa KKN berakhir.

“Yang terpenting bukan hanya predikatnya, tetapi bagaimana pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang sudah dibangun dapat terus tumbuh,” tuturnya.

Perjalanan Sangurejo menunjukkan bahwa julukan buruk tidak harus melekat selamanya. Kampung yang dahulu dikenal melalui singkatan padat, kumuh, dan miskin itu kini berusaha membangun identitas baru: kampung yang merawat lingkungan sekaligus mengolah potensinya menjadi sesuatu yang bernilai.

Salah satu buktinya datang dari limbah kulit salak. Bahan yang mudah dianggap sebagai sampah itu kini menjadi bagian dari karya warga Sangurejo yang menempuh perjalanan hingga Belanda.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Program KKN yang Benar Terasa Manfaatnya dan Bisa Bikin Warga Nangis Kalau Mahasiswanya Pergi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2026 oleh

Tags: desa kumuhdosen pembimbing KKNdosen ugmkkn ugmmahasiswa kknprogram KKNProKlimSangurejotempat KKN
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Mahasiswa KKN UGM dan LPS berkolaborasi hadirkan edukasi literasi keuangan di desa terluar Mentawai MOJOK.CO

Literasi Keuangan untuk Desa Terluar di Mentawai: Jadi Bekal Masyarakat Desa Hadapi Ragam Persoalan Finansial

10 Agustus 2026
Mahasiswa KKN di desa

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.