Julukan PaKuMis pernah melekat pada Padukuhan Sangurejo di Sleman. Kini, kampung itu dikenal lewat gerakan lingkungan dan produk ecoprint dari kulit salak yang sampai ke Belanda.
PaKuMis merupakan singkatan dari padat, kumuh, dan miskin. Citra itulah yang dahulu melekat pada Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman.
Namun, warga Sangurejo perlahan berusaha melepaskan diri dari julukan tersebut. Mereka melakukan berbagai pembenahan, mulai dari mengelola sampah, melakukan konservasi air, menanam pohon, hingga mengembangkan kegiatan ekonomi yang memanfaatkan potensi lingkungan.
Pada 2023, Sangurejo mendeklarasikan diri sebagai kampung Program Kampung Iklim (ProKlim). Tiga tahun kemudian, kampung tersebut berhasil masuk dalam 32 nominasi ProKlim Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.
Perubahan Sangurejo tidak hanya digerakkan oleh masyarakat. Perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan ikut mendampingi berbagai program lingkungan yang dijalankan warga.
Salah seorang yang terlibat adalah Atus Syahbudin, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus dosen pembimbing lapangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Limbah kulit salak Sangurejo sampai ke Belanda
Atus telah lama mendengar cerita tentang Sangurejo yang berusaha berbenah dari kawasan yang dahulu dikenal padat dan kumuh. Setelah mempelajari potensi kampung tersebut, ia ikut mendampingi pengembangan ProKlim bersama masyarakat dan mahasiswa KKN UGM.
Pendampingan itu mencakup pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
“Berbagai pembenahan melalui pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dilakukan oleh Sangurejo,” kata Atus, dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (19/8/2026).
Salah satu inovasi yang dikembangkan di Sangurejo adalah pemanfaatan limbah kulit salak sebagai bahan pewarna dalam pembuatan ecoprint. Inovasi ini memanfaatkan salah satu komoditas yang lekat dengan kawasan Turi, Sleman.
Produk tersebut dikembangkan masyarakat melalui ECSA atau Ecoprint & Craft Sangurejo. Berbagai produk buatan warga telah mengikuti pameran dan menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden, salah satu kebun raya tertua di Belanda.
Selain memanfaatkan kulit salak, warga menjalankan edukasi pengurangan dan pemanfaatan sampah dari tingkat rumah tangga. Gerakan itu dilakukan untuk membangun kesadaran bahwa sampah tidak cukup hanya dibuang, tetapi juga perlu dikelola dan, jika memungkinkan, dimanfaatkan kembali.
Pengembangan ProKlim Sangurejo juga menggunakan pendekatan sosial dan keagamaan. Melalui ekoteologi atau dakwah ekologi, warga diajak melihat kegiatan menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia.
Prinsip amanah, keseimbangan, dan larangan melakukan kerusakan menjadi landasan moral dalam berbagai kegiatan, mulai dari penanaman pohon, pengelolaan sampah, hingga konservasi air.
“Implementasinya dilakukan melalui edukasi, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi air, dan berbagai aksi lingkungan berbasis masyarakat,” ujar Atus.

Mahasiswa KKN belajar dari warga Sangurejo
Dalam pendampingan ProKlim Sangurejo, mahasiswa KKN UGM tidak hanya datang membawa program pengabdian. Mereka juga diminta mempelajari pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki masyarakat.
Atus membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan praktik kurasi keanekaragaman hayati. Mahasiswa kemudian dilibatkan dalam kegiatan dokumentasi pengelolaan lingkungan, edukasi masyarakat, serta program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Menurut Atus, KKN semestinya menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan akademik dan pengalaman warga. Mahasiswa dapat membantu masyarakat melalui riset, dokumentasi, dan inovasi. Sebaliknya, masyarakat memberikan pengetahuan mengenai kondisi serta potensi lokal yang tidak selalu bisa ditemukan di ruang kuliah.
“Program KKN menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik di masyarakat. Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi yang dapat memperkuat program lingkungan yang sudah berjalan,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dan warga belajar bersama mengenai keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, konservasi tanah dan air, penghijauan, serta pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.
Atus menegaskan bahwa perubahan Sangurejo bukan hasil pekerjaan satu orang. Keberhasilannya bertumpu pada kemauan warga serta dukungan berbagai pihak yang selama ini terlibat.
“Ini bukan pekerjaan satu orang. Banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Energi dan semangat tersebut perlu disatukan agar gerakan lingkungan di Sangurejo semakin kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Penghargaan bukan tujuan akhir
Masuknya Sangurejo dalam nominasi ProKlim Lestari 2026 menjadi pengakuan terhadap pembenahan yang dilakukan masyarakat. Akan tetapi, penghargaan tersebut bukan tujuan akhir dari gerakan lingkungan di kampung itu.
Menurut Atus, capaian tersebut justru harus menjadi kesempatan untuk memperkuat pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Praktik yang telah berjalan perlu didokumentasikan, dikembangkan, dan dijaga agar tidak berhenti setelah penilaian atau masa KKN berakhir.
“Yang terpenting bukan hanya predikatnya, tetapi bagaimana pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang sudah dibangun dapat terus tumbuh,” tuturnya.
Perjalanan Sangurejo menunjukkan bahwa julukan buruk tidak harus melekat selamanya. Kampung yang dahulu dikenal melalui singkatan padat, kumuh, dan miskin itu kini berusaha membangun identitas baru: kampung yang merawat lingkungan sekaligus mengolah potensinya menjadi sesuatu yang bernilai.
Salah satu buktinya datang dari limbah kulit salak. Bahan yang mudah dianggap sebagai sampah itu kini menjadi bagian dari karya warga Sangurejo yang menempuh perjalanan hingga Belanda.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Program KKN yang Benar Terasa Manfaatnya dan Bisa Bikin Warga Nangis Kalau Mahasiswanya Pergi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

















