Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

Muhamad Irfan Nurdiansyah oleh Muhamad Irfan Nurdiansyah
21 Agustus 2026
A A
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Ilustrasi Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sama-sama lulusan S2 dengan IPK nyaris sempurna, saya dan istri tetap harus hidup dari proyek ke proyek sambil bertanya-tanya apakah bulan depan kami masih punya pekerjaan.

“BPJS-nya kelas berapa?”

“Kelas tiga.”

“BPJS Ketenagakerjaan ada?”

“Tidak ada.”

“Kok kelas tiga? Kantornya tidak menanggung?”

Saya tidak tahu harus menjawab apa. Bukan karena pertanyaannya salah, melainkan karena saya bingung menjelaskan bahwa saya memang bekerja, tetapi tidak punya kantor yang benar-benar bisa disebut sebagai “kantor saya”.

Pekerjaan saya datang bersama proyek. Ketika proyek selesai, saya harus menunggu proyek berikutnya atau kembali mencari pekerjaan. Begitu pula dengan istri saya.

Kami sama-sama lulusan S2. Kami menikah pada awal 2025 dan sekarang tinggal di Sleman, jauh dari kota asal saya di Surabaya dan keluarga istri di Batam. Kami sama-sama bekerja, tetapi sampai hari ini tidak satu pun dari kami memiliki pekerjaan tetap.

Kalau ditanya bekerja sebagai apa, saya masih bisa menjawab dengan cukup percaya diri: peneliti dan konsultan. Istri saya bekerja sebagai tenaga ahli sosial dan kebijakan serta asisten peneliti.

CV kami, jika dibaca sepintas, mungkin terlihat cukup meyakinkan. Saya lulusan S2 Manajemen Bencana UGM dengan IPK 3,95. Istri saya lulusan S2 Kebijakan Publik Universitas Airlangga dengan IPK 3,78. Kami punya pengalaman penelitian, proyek, publikasi, dan pekerjaan profesional.

Namun, hidup ternyata tidak pernah membaca CV sampai selesai.

Sudah kirim 150 lamaran, gelar S2 saya justru tak mendatangkan wawancara

Saya jadi lulusan S2 pada Januari 2026. Saya kira setelah itu persoalannya tinggal mencari pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan sendiri bisa menjadi pekerjaan penuh waktu.

Sejak lulus, saya memperkirakan telah mengirim sekitar 150 lamaran ke berbagai tempat. Dari semua lamaran tersebut, hanya sekitar tiga yang berujung panggilan wawancara.

Lebih ironis lagi, ketiga panggilan itu justru datang ketika saya menggunakan ijazah S1. Lamaran yang menggunakan ijazah S2 tidak menghasilkan satu pun wawancara. Setelah bertahun-tahun belajar demi memperoleh gelar lebih tinggi, ketika mencari kerja saya justru lebih sering diminta menunjukkan gelar yang lebih rendah.

Istri saya sudah lebih dahulu mengalami fase ini. Sebagai lulusan S2, ia mencari pekerjaan sejak 2024. Jumlah lamaran yang dikirimkannya tentu lebih banyak daripada saya, tetapi sampai sekarang ia juga belum menemukan pekerjaan tetap.

Kalau ada yang mengatakan kami kurang berusaha, rasanya sulit menerimanya. Kami mengirim lamaran, mengikuti seleksi, menjalankan penelitian, dan mengambil proyek yang datang. Masalahnya bukan kami tidak mau bekerja. Pekerjaan yang tersedia bagi kami tidak selalu datang bersama kepastian.

Rata-rata satu proyek berlangsung sekitar tiga sampai empat bulan. Setelah proyek selesai, kami kembali membuka laptop, memperbarui CV, mencari lowongan, mengirim lamaran, lalu menunggu balasan yang belum tentu datang.

Iklan

Kami punya pekerjaan. Kami hanya tidak pernah benar-benar tahu apakah pekerjaan itu masih ada beberapa bulan kemudian.

Tawaran pekerjaan tetap belum tentu menyelesaikan persoalan

Kami sebenarnya pernah mendapatkan tawaran pekerjaan tetap. Masalahnya, status tetap tidak otomatis menyelesaikan persoalan ekonomi.

Sebagai lulusan S2, istri saya pernah mendapat tawaran menjadi dosen di luar kota dengan penghasilan sekitar Rp1,8 juta per bulan. Secara status, pekerjaan itu terdengar menjanjikan.

Namun, kami harus menghitung biaya yang menyertainya: kos, makan, transportasi, dan kemungkinan menjalani pernikahan jarak jauh.

Penghasilan Rp1,8 juta itu pada akhirnya akan habis hanya agar pekerjaan tersebut tetap bisa dijalani.

Karena itu, saya sering bertanya-tanya setiap mendengar nasihat, “Yang penting kerja dulu.”

Saya tidak mengatakan pekerjaan dengan gaji Rp1,8 juta tidak penting. Namun, menerima pekerjaan bukan keputusan sesederhana memilih bekerja atau menganggur. Terlebih setelah menikah, sebuah pekerjaan harus dihitung bersama biaya hidup, tempat tinggal, jarak, dan kehidupan pasangan.

Sebelum menikah, ketika tidak memiliki pekerjaan tetap, persoalannya hanya berbunyi: saya belum punya pekerjaan tetap. Setelah menikah, kalimat itu berubah menjadi: kami belum punya pekerjaan tetap.

Hanya satu kata yang berubah, tetapi tanggung jawab di belakangnya jauh lebih besar.

Kalau saya mendapat pekerjaan di kota lain, apakah istri harus ikut? Kalau pekerjaan istri berada di luar kota, apakah saya yang mengalah?

Atau kami harus menjalani LDR? Mendapatkan pekerjaan tetap bagi salah satu dari kami tidak hanya menentukan besarnya gaji, tetapi juga kota tempat kami tinggal dan karier siapa yang harus lebih dahulu menyesuaikan.

Gelar magister bukan slip gaji

Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi pula ekspektasi orang lain terhadap kehidupannya. Setelah lulus S2, saya kira orang-orang akan bertanya tentang penelitian atau bidang yang saya tekuni.

Ternyata ada yang bertanya mengapa saya belum mempunyai pekerjaan tetap. Ada pula yang melihat motor saya dan bertanya mengapa belum menggantinya. Ada yang heran mengapa setelah lulus S2 saya masih tinggal di rumah kontrakan. Bahkan, ada yang pernah meminjam uang kepada saya.

Saya kadang ingin mengatakan bahwa gelar magister bukan slip gaji.

S2 tidak otomatis membuat rekening bertambah, cicilan rumah menghilang, atau motor lama berubah menjadi baru. Gelar juga tidak membuat seseorang otomatis memperoleh pekerjaan tetap.

Orang-orang melihat dua huruf di belakang nama kami, tetapi tidak melihat berapa banyak lamaran yang telah dikirim, berapa lama kami menunggu jawaban, atau bagaimana rasanya mengetahui bahwa pekerjaan yang sedang dijalani akan berakhir dalam beberapa bulan.

Ketidakpastian itu bahkan pernah masuk ke rumah dan membuat kami bertengkar. Bukan karena kami tidak saling mendukung, melainkan karena kami sama-sama takut menghadapi bulan berikutnya.

CV hanya mencatat gelar, pengalaman, proyek, penelitian, dan publikasi. CV tidak mencatat kekhawatiran tentang biaya hidup. Ia juga tidak mencatat percakapan suami istri yang sama-sama tidak tahu beberapa bulan lagi akan bekerja di mana.

Kami tidak menyesal sekolah tinggi hingga jadi lulusan S2

Sejak kecil, kita seperti diajari rumus sederhana: sekolah yang rajin, kuliah, mendapatkan gelar, mencari pekerjaan, menikah, lalu hidup mapan. Kami mengikuti rumus itu, bahkan melanjutkannya sampai jenjang magister.

Kami belajar, mencari beasiswa, menyelesaikan kuliah, membangun pengalaman, menulis, meneliti, dan bekerja. Namun, ternyata ada satu bab yang jarang diajarkan: cara memperoleh pekerjaan yang layak ketika begitu banyak orang menginginkannya, sementara jumlah pekerjaan yang tersedia sangat terbatas.

Pasar kerja tidak punya kewajiban untuk terkesan pada perjuangan seseorang memperoleh gelar. Ia tidak peduli apakah biaya kuliah dibayar dengan beasiswa, tesis dikerjakan berbulan-bulan, atau seseorang telah memiliki publikasi dan pengalaman proyek.

Saya tidak ingin tulisan ini berakhir dengan kesimpulan bahwa sekolah tinggi adalah kesalahan. Kalau harus mengulang hidup, saya tetap akan sekolah. Istri saya pun mungkin akan mengambil pilihan yang sama.

Pendidikan memberi kami cara berpikir, pengalaman, dan kesempatan yang tidak selalu bisa diukur dengan gaji. Namun, kami akhirnya memahami bahwa pendidikan tinggi bukan kontrak menuju kemapanan. Gelar adalah modal, bukan jaminan.

Jadi, kalau ditanya bekerja di mana, saya akan tetap menjawab bahwa saya adalah peneliti dan konsultan. Jawaban itu benar. Istri saya juga punya jawaban sendiri tentang pekerjaannya, dan jawaban itu sama benarnya.

Kami tidak sedang mencari pekerjaan semata. Kami sedang mencari kepastian: bahwa bulan depan masih ada penghasilan, ketika sakit ada perlindungan, dan ketika orang bertanya “kantornya di mana?”, kami tidak perlu menjelaskan kehidupan kami panjang lebar.

Sebab, setelah lulus S2, menikah, bekerja, dan mengirim entah berapa banyak lamaran, masih ada satu pertanyaan sederhana yang belum bisa kami jawab dengan tenang:

“Bulan depan kalian masih punya pekerjaan?”

Penulis: Muhammad Irfan Nurdiansyah
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2026 oleh

Tags: cari kerjakerjalowongan kerjalulusan s2magisters2
Muhamad Irfan Nurdiansyah

Muhamad Irfan Nurdiansyah

Praktisi kebencanaan dengan latar belakang Magister Manajemen Bencana. Tertarik menulis tentang pendidikan, pekerjaan, perantauan, dan kegelisahan sehari-hari yang dialami generasi muda.

Artikel Terkait

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
burnout kerja kantoran mojok.co

Mencintai Pekerjaan tanpa Harus Menyukai Orang-Orang di Dalamnya

4 Agustus 2026
Lulusan SMK buka jasa cleaning service. MOJOK.CO

Lulusan SMK Pernah Kerja Jadi Cleaning Service dengan Upah Rp20 per Jam, Kini Buka Usaha Sendiri hingga Hasilkan Omzet Rp70 Juta

29 Juli 2026
sarjana muda gusar mencari kerja. MOJOK.CO

Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah

23 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.