• 55
    Shares

MOJOK.CORamai-ramai bahas kebangkitan Orde Baru bikin saya sebagai Generazi Z (yang nggak mengalami Orba) merasa terpanggil untuk membayangkan bagaimana sih jadinya kalau Orba bangkit lagi?

Sepanjang kampanye untuk pilpres 2019 mendatang, saya merasa narasi politik di bulan November ini merupakan yang paling asing. Setelah narasi tentang agama dan ekonomi yang diusung oleh para paslon, secara mengejutkan muncul kicauan dari Tietik Soeharto (mantan istri paslon nomor urut dua) yang merindukan masa kepemimpinan Orde Baru.

Menurut Tietik, kepemimpinan Indonesia yang sekarang sudah cukup. Sudah waktunya negara ini kembali ke suasana Orde Baru. Dan hal itu akan didapat ketika negara ini dipimpin oleh Prabowo Subianto.

Membaca kicauan tersebut ingin rasanya saya nggojloki Pak Prabowo dan Bu Tietik

“Cie cie cie, sana nyanyi lagu kerinduan aja.”

Tetapi saya tidak akan melakukannya. Saya tidak berani berurusan dengan orang-orang pro Orde Baru yang konon, menurut banyak cerita, sangat gampang melepaskan para petrus untuk memburu orang-orang yang mulutnya clamitan. Masa iya saya di dor hanya karena “cie-cie” doang, kan nggak keren jika diberitakan. HAHAHA.

Oh ya, selain petrus masih banyak istilah-istilah lawas era Orde Baru yang hari ini semakin banyak dibicarakan. SDSB, Swasembada Pangan, Supersemar, dan lain sebagainya.

Mau tidak mau, sebagai Generasi Z sekaligus warga negara Indonesia yang taat, saya harus berusaha memahami narasi politik Orde Baru demi menentukan pilihan. Pilihan sebagai perindu Orde Baru atau bukan.

Mau dendam Orde Baru kok saya tidak ingat rasa sakitnya. Mau rindu Orde Baru kok saya tidak punya kenangan indah seperti Bu Tietik dan Pak Prabowo. Cieee kenangan indah cieee.

Sedih rasanya lahir di masa penghujung Orde Baru, susah menentukan sikap. Ketika isu Orde Baru dibangunkan, saya seperti menjadi warga negara yang tak punya arah, selain manut pada sejarah yang entah.

Sedangkan saya (dan mungkin orang dari Generasi Z yang lain) mempelajari sejarah di sekolah dengan tidak sempurna. Maksudnya, setelah dewasa, saya baru menemukan sumber pelajaran sejarah yang bukan buku pelajaran sekolah. Saya kemudian curiga telah terjadi glorifikasi dalam penulisan buku sejarah Indonesia pada era Orde Baru.

Pengetahuan saya tidak lagi yang “enak jamanku to!” saja. Semakin lama saya semakin tahu bahwa “enak jamanku to” itu hanya fatamorgana bagi Generazi Z yang, tentu saja sulit mengingat keenakan apa yang terjadi di Orde Baru.

Baca juga:  Jika PAN Gabung Jokowi, Begini Kebenaran Milik Amien Rais Atas Sejumlah Diksi Kreatifnya

Daripada kami Generasi Z dilema dan galau atas narasi politik tentang Orde Baru untuk kampanye, jika saya boleh mengusulkan, mengapa tidak sekalian membawa tata cara naiknya Pemerintahan Orde Baru yang dulu sebagai tata cara naiknya Pemerintahan Orde Baru yang sekarang dirindukan?

Jadwal pilpres yang akan datang sudah ditentukan, yaitu 17 April 2019. Saya melihat momen yang potensial untuk memunculkan kembali Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Saya yakin atas kemampuan Capres dengan latar belakang militer yang gemilang, sangat bisa menemukan strategi untuk menghasilkan Supersemar versi 2019.

Jadi, 34 hari sebelum pilpres dilaksanakan sudah ada keputusan bertanda tangan presiden yang sedang menjabat.

Wis to, saya percaya dengan waktu empat bulan tersisa, pasti strategi itu bisa dilancarkan. Pokoknya, jangan tanggung-tanggung jika benar-benar rindu Orde Baru. Hadirkan segala kenangan, termasuk awal mula adanya Orde Baru.

Dengan lahirnya Supersemar versi 2019, pilpres bisa dibatalkan dan kami Generazi Z tidak lagi bingung menentukan pilihan. Simple untuk kami dan prestasi untuk Pemerintahan Orde baru yang akan datang kan?

Hmmm, sebuah pencapaian yang akan tercatat sejarah dan akan diingat sepanjang masa. Ah, saya merasa takjub sendiri, membayangkan hal itu jika berhasil dilaksanakan.

Selanjutnya, bagaimana nanti setelah Pemerintahan Orde Baru benar-benar kembali? Timbul kekhawatiran pada diri saya terhadap kemampuan Pemerintah Orde Baru dalam menghadapi Generasi Z. Apa jadinya jika kami berada di bawah kepemimpinan Orde Baru yang militeristis dan ketat peraturannya?

Kami ini generasi yang sejak lahir sudah biasa hidup bebas tanpa rasa terancam dari pemerintah. Pasal 1 (1) UU No. 9 Tahun 1998 benar-benar diwujudkan oleh Generasi Z. Hal itu kemudian yang menyebabkan media sosial tidak pernah sepi. Kami bebas berkata apa saja, bebas mengkritik apa saja yang kami anggap kurang beres.

Nah, jika sampai Orde Baru hadir kembali di negeri ini, saya khawatir pemerintah tak akan bisa seeksis Orde Baru yang dulu. Terlalu banyak Generasi Z yang akan tetap menggilai kebebasan.

Jika Orde Baru benar-benar ada lagi di Indonesia, itu berarti pemerintah akan mempunyai PR yang cukup berat untuk tetap mempertahankan salah satu ciri khas Orde Baru. Apalagi jika bukan penculikan dan pengedoran yang bahkan setelah puluhan tahun, ingatan tentang itu tak pernah luntur. Kurang eksis apa coba Orde Baru yang dulu itu? Susah lo menjadi ingatan abadi begitu.

Baca juga:  Perasaan Tuhan Saat Ini

Setelah mengkhawatirkan pemerintah, kami juga mengkhawatirkan diri sendiri. Mengingat tata cara penurunan Presiden Soeharto yang begitu ributnya, saya jadi khawatir. Jika Presiden Orde Baru yang dulu harus didemo supaya tumbang mengundurkan diri, apa iya Presiden Orde Baru yang akan datang juga harus didemo biar mau turun?

Wah, jika memang benar begitu, sungguh saya keberatan. Generasi Z lahir saat teknologi berkembang pesat. Hal itu yang menyebabkan kehidupan kami jadi serba mudah dan memang tidak mau ribet. Tata cara penurunan presiden seperti itu tidak akan mampu kami terapkan.

Kemungkin tetap ada yang bersedia unjuk rasa tapi akan lebih banyak yang merasa cukup memantau dari rumah. Mengikuti kabar lewat story Instagram atau media sosial lainnya, sambil sesekali berkomentar. Kami merasa sepasang jempol akan lebih bisa diandalkan daripada kehadiran kami dalam aksi demo.

Saya yakin akan lebih banyak yang seperti itu daripada harus turun ke jalan. Generasi Z gitu lho, suka yang instan dan anti ribet-ribet club.

Dengan begitu, tata cara penurunan presiden seperi Orde Baru yang dulu, kemungkinan akan sulit dicapai. Kita akan kehilangan kesempatan memanggil kenangan yang riuh itu dong?

Jangan kecewa dulu. Masih ada celah kok. Selain suka hal yang instan dan anak teknologi banget, Generasi Z juga aleman. Sensitivitas generasi ini cukup tinggi. Sulut saja emosi generasi ini semenjak Pemerintahan Orde Baru naik. Tak akan butuh waktu lama, kami akan serempak meninggalkan segala kenyamanan untuk menuruti emosi. Turun ke jalan dan melengserkan pemerintahan yang bikin emosi.

Jika secara berturut-turut tata cara itu berhasil dilakukan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, tak perlu kita hadirkan Orde Baru secara utuh selama 30 tahun kan? Memangnya siapa sih yang suka jika rindunya tak segera tuntas? Makanya, lebih cepat lebih baik.

Eh, BTW, beneran ada yang ingin kembali ke masa Orde Baru?

  • 55
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles