• 265
    Shares

MOJOK.CO – Buat kamu yang masih percaya jaman Pak Harto enak dan nanya, “Masa sih? Jaman Orde Baru kan kita swasembada beras?” coba deh baca ini.

Untuk anak jaman now, pasti nggak bakal bisa membayangkan rasanya hidup pada masa Pemerintahan Orde Baru. Jangankan anak jaman sekarang, orang yang lahir di jaman Orde Baru akhir (1980-1990) belum tentu bisa menceritakan kehidupan di jaman Orde Baru yang berakhir pada tahun 1998 dengan dimulainya (yang katanya) era Reformasi.

Kalau ada yang bilang jaman Orde Baru itu enak, sebaiknya jangan percaya. Seperti kata Armand Maulana: “Semua itu mimpi… hanyalah bualan… semua itu bohong,” tentu saja tetap pake huo uo uwo, ya?

Kalau buat saya, diibaratkan main game “Ages of Emperor”, jaman itu masuk dalam “age of terror”, karena saya bukan gamer jadi bebas dong bikin level sendiri.

Kalau misal nih, anak jaman sekarang dimasukin mesin waktu terus dikirim ke jaman itu, maka ia benar-benar apes. Yang suka ngata-ngatain presiden, masih beruntung bisa kena pasal subversif terus dipenjara.

Biasanya, buat kasus yang kayak gitu, banyak yang nggak sampe ke pengadilan. Paling, abis jajan combro di warung, pas lagi pulang dimasukin mobil kijang, terus tamat. Yah emang, kalau jaman itu, nggak musim cerita yang durasinya panjang. Banyak cerita yang langsung tamat, jarang yang bersambung, apalagi yang happy ending.

Tapi dari sekian banyak cerita horor dan teror yang saya dengar dan tetangga saya alami, ada satu hal yang saya rindukan dari Orde Baru. Hal itu adalah SDSB, yang merupakan salah satu hal yang memiliki konsep paling cerdas apabila dibandingkan dengan program REPELITA pada masa itu.

SDSB tidak ada kaitannya dengan SD Inpres atau sejenisnya. SDSB singkatan dari Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah yang merupakan (bisa dikatakan) program lotere nasional. Jadi kalau sekarang kamu mengenal togel (toto gelap), SDSB merupakan tote (toto terang).

Secara singkat, SDSB bisa dikatakan sebagai permainan tebak angka yang legal karena diterbitkan oleh negara. Ini mungkin satu-satunya ruang di mana negara benar-benar hadir untuk rakyat pada masa itu.

Konsep dari program ini adalah, negara menghimpun dana itikad baik masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam pembangunan dengan menerbitkan kupon sumbangan berhadiah. Kupon ini memiliki dua seri yaitu Seri A dengan nominal Rp5.000 dan Seri B dengan nominal Rp1.000 yang diterbitkan sekitar 30 juta lembar.

Baca juga:  Membaca Masalah Papua dari Imigran di Tanah Papua

Tentu saja kupon Seri B dicetak lebih banyak, yaitu 29 juta lembar, karena jumlah golongan yang kurang duit banyak banget pada masa itu. Bila dibandingkan dengan harga beras yang masih di kisaran Rp500 per kilogram, maka satu kupon bisa buat makan nasi satu keluarga seharian sampe kenyang (pake banget).

Meskipun kedengaranya murah harga beras cuma gopek, tapi nggak semua orang makan nasi setiap hari. Kadang ada yang makan gaplek, nasi jagung, ada juga yang makan nasi aking. Ini beneran Bro dan Sist.

Kalau yang nggak percaya bakal bilang, “Masa sih? Jaman Orde Baru kan kita swasembada beras?”

Itu benar, saya nggak nyangkal, tapi itu pun cuma satu tahun, terus penduduk Indonesia masih 150 juta (nggak percaya tanya bung Roma Irama, dia sampai nulis lagu lho soal jumlah penduduk indonesia).

Udah itu, berasnya diborong sama spekulan, buktinya tetangga saya pola makannya nggak berubah. Dan yang lebih spektakuler lagi, butuh 5 kali periode, Pak Harto baru bisa swasembada.

Nah sekarang coba kamu bayangin, kalau ada Presiden belum 5 tahun disuruh swasembada, mana rakyatnya udah ogah jadi petani lagi. Pesan saya sih, kamu semua jangan minta macem-macem sama Presiden yang sekarang deh, kasihan, ntar Pak Presiden jadi kurus kebanyakan pikiran.

Kembali ke SDSB. Meskipun bisa dikatakan itu judi, tapi karena diselenggarakan oleh Negara ya mungkin nggak dosa-dosa amat lah. Paling nggak yang nanggung dosanya paling banyak juga penyelenggara negara. Rakyat mah kena remah-remah dosanya aja kali.

Terlepas dari dosa apa nggak, pada kenyataanya program ini mampu menarik partisipasi masyarakat. Hal ini terbukti, setiap kupon yang dijual di agen dekat rumah selalu ludes terjual. Karena rata-rata yang membeli kupon adalah golongan kelas menegah ke bawah, hal ini juga membuktikan bahwa partisipasi masyarakat ekonomi pas-pasan dalam pembangunan cukup tinggi.

Dana SDSB yang dikumpulkan, selain untuk hadiah konon juga digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur olahraga nasional. Jadi kalau kemenpora sekarang mau ngeluarin kupon kayak gini, mungkin bisa jadi terobosan baru untuk dana pembinaan atlet nasional. Daripada ngurusi kemah-kemah gitu, sepertinya yang kalau program ini dijalanin sekarang, pasti bakal lebih seru adrenalinnya.

Bagi masyarakat kalangan biasa, SDSB bukan sekadar judi mencari peruntungan belaka. SDSB merupakan sebuah pencarian yang sarat akan makna kehidupan. Banyak kisah menarik yang bisa kita jumpai saat program ini masih berjalan.

Baca juga:  Di Negara Ini, Mantan Koruptor Boleh Jadi Caleg, Tapi Warga Harus Bikin SKCK Untuk Cari Kerja

Bagi masyarakat miskin yang terlalu serius, program ini merupakan harapan untuk mengentaskan kemiskinan mereka. Ada seorang tukang becak yang menarik becak sewaan rutin membeli kupon (tentu saja Seri B dengan harga Rp1.000) kemudian berharap bisa tembus 4 angka dan mendapat hadiah 2,5 juta rupiah untuk membeli becak sendiri.

Meski kenyataannya harapan itu sia-sia belaka alias tidak pernah tembus. Padahal bila uang yang dipakai untuk beli kupon itu dikumpulkan, bisa saja ia udah bisa beli becak sendiri—tanpa perlu nyewa. Ngeri ya jaman segitu? Bahkan seorang tukang becak saja cuma berharap punya uang banyak buat jadi tukang becak lagi.

Cerita lain lagi dari kecamatan sebelah, ada orang yang memenangkan 100 juta rupiah (sebagai pembanding, harga emas lokal saat itu sekitar 30 ribu per gram). Karena begitu girang, akhirnya ia jantungan dan mati begitu saja. Di luar rasa duka yang dialami oleh keluarga, para tetangga dengan nada datar bilang, “Syukurlah, paling tidak ninggalin warisan yang cukup banyak.”

Ada lagi seorang guru agama sampai naik kereta menuju kota lain dengan niat untuk membeli kupon agar tidak ada tetangga yang tahu. Dan di saat terakhir ia mengurungkan niatnya, setelah itu, ternyata nomor yang keluar seperti yang ia miliki. Dan ia merasa bersyukur karena bisa menjaga imannya dari godaan duniawi.

Perilaku yang dijalankan saat itu tidak jauh beda dengan orang pasang togel jaman ini. Ada yang ke dukun, ada yang bertapa, tidur di kuburan, tanya sama orang gila, mengunakan buku tafsir mimpi, catat plat nomor kecelakan, dan banyak hal yang nggak masuk akal lainnya.

Namun demikian, terlepas dari hal buruk yang menyertai di setiap perjudian, SDSB merupakan pelarian yang sempurna untuk sebagian masyarakat jaman itu. Di dalam SDSB tersimpan sedikit harapan, sedikit rasa cemas, sedikit rasa penasaran. Lalu ketika nomor yang keluar diumumkan setiap jam 00.00 dini hari, akan selalu ada rasa lega, meskipun nomor yang kami pasang tidak pernah keluar.

Maka, jika ada satu hal saja yang bikin orang-orang itu kangen jaman Orde Baru era Pak Harto, ya cuma satu: judi plat merah alias PNS (Perjudian Negeri Sipil).

  • 265
    Shares


Loading...



No more articles