• 39
    Shares

MOJOK – Penanda Reformasi era Soeharto enggak melulu melalui buku-buku sejarah. Beberapa ada juga yang dari cerita masa kecil, beberapa yang lain ada juga dari lirik lagu. Bukan lirik lagu Sheila on 7 tentu saja, tapi lirik lagu anak-anak.

Krisis moneter alias krismon adalah salah satu godam penggedor kekuasaan Soeharto. Melalui kata krismon, kita bisa melihat Si Bapak Pembangunan tiba-tiba sempoyongan di atas landasan pacu ekonomi Indonesia. Landasan yang ditopang “Repelita dan Trilogi Pembangunan” tiba-tiba ambrol begitu saja.

Setelah saya cari-cari kembali ingatan masa kecil saya beserta lihat beberapa buku yang mengulas krismon di akhir kekuasaan Orde Baru, saya mendapati krisis ini datang beriringan dengan krisis kepercayaan dan ekstrimnya krisis total—alias kristal. Sampai-sampai, beberapa orang meramal nasib Indonesia pasca-Soeharto bakalan serupa almarhum Uni Soviet atau Yugoslavia.

Lewat rangkaian krisis ini pula gagal sudah proyek Indonesia untuk “Lepas Landas”—yang konon katanya akan terjadi pada tahun 1999. Adegan demi adegan saat peristiwa krismon ini sangat epic, salah satunya foto legendaris saat Sang Jenderal membungkuk menandatangani perjanjian dengan IMF, sementara sang direktur, Michael Camdessus, mukanya datar, tangan dibikin menyilang.  Mungkin mbatin, Wadauww! Ngutang terus ae, Rek!

Tapi jelasnya setelah kejatuhan Soeharto masih bau-bau kemarin sore, setahu saya, orang-orang baru mulai berani ngomongin Soeharto dari banyak sisi. Dari yang mengkritik sisi ekonomi—lebih spesifik harga sembako—sampai ngomongin politik karena masih berapi-api soal Reformasi 1998 yang masih anget-angetnya tai ayam.

Tak bisa ditolak, saya yang waktu itu masih berumur 11 tahun pun mulai kemasukan juga istilah ekonomi dan politik. Dari istilah status quo, reformasi total, krismon, dan tentunya yang legendaris yaitu; yel-yel Gantung Soeharto. Muakasih lho buwat kakak-kakak mahasiswa~

Efek paling terasa dari krismon—disambung dengan reformasi—bagi anak SD macam saya adalah hujan-hujatan tertuju kepada Soeharto terjadi di mana-mana. Dari mulai pemotongan anggaran jajan di sekolah, kawasan pertokoan bahkan angkutan umum dipasang stiker “Pribumi Asli”, menyaksikan harga jajan tiba-tiba merangkak naik, pembatalan rencana darmawisata ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) akibat Jakarta rusuh, sampai dengan ikut-ikutan mendelik saat beberapa bank yang sempat berjaya ditutup dan di-graviti tulisan: “PUNK NOT DEAD!”

Baca juga:  Akhirnya, Sosok Soeharto KW di Commuter Line itu Terkuak Juga

Menariknya, kehadiran istilah krismon, bagi anak SD seusia saya tidak dikenalkan melalui corong media massa, namun malah oleh lagu anak-anak. Lagian, susah pula membayangkan ada yang membuat buku “Krismon untuk Pemula” untuk saya waktu itu. Toh, emang ada anak SD yang mau mendengarkan laporan ekonomi dari Menteri Keuangan Mari’e Muhammad, ketika kita cuma tahunya Pak Harmoko?

Sampai sekarang pun saya masih belum tahu apa yang menyebabkan beberapa lagu anak-anak terbawa arus kebosanan dengan pemimpin yang itu-itu saja. Jelasnya, untuk sosok pemula seperti saya saat itu, isu ini bisa dimulai ketika Ria Enes dan boneka Susan-nya sudah menyanyikan lagu “Cita-citaku”.

Saat Soeharto sedang berada di puncak kemegahannya, tahun 1993, Susan malah dengen entengnya menjawab ingin jadi apa? Susan ngejawab dingin; “Ingin jadi presiden.” Ebuset, ini apa tidak kelewat berani ngomong begitu? Subversif banget kan meski yang ngomong cuma boneka?

Memasuki tahun 1997-1998, saat krisis ekonomi menyapu Asia Tenggara dan mata uang rupiah dihajar habis-habisan. Tak berselang lama mulai terdengar kampanye “Gerakan Cinta Rupiah” dari Mbak Tutut, Si Sulung Keluarga Cendana, gerakan yang menghimbau agar kelas menengah urban mau menukar dolarnya dengan rupiah sehingga rupiah kembali menguat.

Pada momentum yang bersamaan, di layar kaca mulai muncul artis cilik yang turut mengampanyekan gerakan ini, salah satunya seingat saya ada Cindy Cenora. Lirik lagunya yang dikeluarkan 13 Januari 1998 ini gampang diingat oleh anak usia SD. Liriknya kurang lebih begini:

“Aku cinta rupiah biar dolar di mana-mana // Aku suka rupiah, karena aku anak Indonesia.”

Inti lagu ini memberikan pesan bahwa apapun kegiatan ekonominya, rupiah alat transaksinya, rupiah sebagai simbol nasionalisme dan jamu kuat agar rupiah bisa sejajar dengan dolar. Kira-kira begitu.

Dari Cindy Cenora juga terbuka tabir apa itu krismon bagi anak-anak seusia saya era segitu. Judul lagu berikutnya oleh penyanyi cilik yang sama, langsung to the point tanpa tedeng aling-aling, yakni “Krismon”.

Bait demi bait dari lagu yang dirilis tanggal 13 Mei 1998 ini menggiring anak SD untuk mengerti. Oh, oke, sekarang terjadi krismon, terus saya harus ngapain?

Baca juga:  Alit Jabang Bayi: Bapakku Pernah Diminta Ngelawak di Pemakaman

Begini salah satu penggalan lirik yang jadi tutorial anak SD menghadapi krismon pada era segitu:

“Kuminta baju baru / Katanya lagi Krismon // Kuminta sepatu baru / katanya masih krismon // Ku minta mainan juga / katanya lagi krismon // Kalo boleh semua aja / katanya masih krismon // Su su susah su su susah / nggak ada yang murah.”

Oke, anak-anak SD udah mulai mengerti sedang terjadi krismon di Indonesia. Berarti alokasi anggaran buat jajan di sekolah menjadi tumbal demi beli beras dan minyak goreng. Terus, anak SD yang biasanya diiming-imingi baju baru atau sepatu baru setelah kenaikan kelas, tiba-tiba malas menuntut pemberian itu.

Ya mau gimana lagi? Sedang krismon! Bahkan di level percakapan sehari-hari saat istirahat sekolah sekalipun, saat saya iseng minta dibelikan jajanan legendaris bernama “lidi-lidian” oleh seorang teman, teman saya langsung nyalak; “Lagi krismon nih! Beli sendiri dong!”

Lebih jauh penjelasan soal lagu ini, kita bisa masuk ke bagian reff…

“Krismon. Krisis moneter // Ku tanya Mama apa artinya… // Krismon krisis moneter…. bikin Papa pusing kepala // Krismon krisis moneter…. // Aku sih ya cuek aja…”

Lho, lho, lho kok malah cuek ini bijimana ceritanya?

Lalu di akhir reff-nya:

“Aku cinta buatan Indonesia // Harga murah nggak kalah mutunya // Aku cinta buatan Indonesia // tersedia di mana saja.”

Baiklah, sebentar. Ini kenapa lagunya harus diselesaikan dengan lirik “aku cinta buatan Indonesia” ya? Ya mau bagaimana lagi namanya juga lagu anak-anak. Kalau segala masalah mau ditautkan dengan Rezim Soeharto, itu kan sudah jadi jatahnya mas-mas atau mbak-mbak aktivis atau Mbah Iwan Fals.

Akan tetapi terlepas dari itu, lagu-lagu anak-anak ini bisa memberikan pengertian pada anak usia sekolah mengenai situasi yang terjadi di Indonesia pada era itu. Harga naik, orang tua pusing, lalu cuek saja! benar-benar sebuah pencerahan besar.

Sayangnya, meski sudah dicekoki lagu-lagu tersebut, ternyata keisengan berpikir khas anak SD era segitu belum juga bisa dikendalikan, contohnya?

“Soeharto gak bisa menurunkan harga Chiki ya? Oalah, ya pantes disuruh mundur.”