Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Majid Si Manajer Makam

Hairus Salim oleh Hairus Salim
22 Mei 2018
A A
Majid Si Manajer Makam

Majid Si Manajer Makam

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seorang ulama miskin datang ke sebuah desa dan meyakinkan penduduk bahwa mereka akan terkena bencana karena mengabaikan makam keramat. Rasa tunduk dan takut warga pada agama menjadi jalan si ulama untuk kaya.

Bukit Garo adalah kawasan yang sangat kering dan miskin. Penghuninya padat dan lahan sangat terbatas. Tapi, penduduknya terkenal rajin beribadah, kontras dengan kemiskinan mereka. Sedemikian rajinnya, di kawasan itu ada “lebih banyak kopiah daripada jumlah ternak. Lebih banyak kopiah daripada ikatan padi.”

Iklan

Di sebelahnya Mahabbatpur, kawasan yang relatif lebih subur dan makmur. Lahan pertaniannya ditumbuhi padi dan jagung. Berbeda dengan masyarakat Bukit Garo, penduduk Mahabbatpur lebih banyak abai pada agama. Mereka lebih senang berpesta.

Ke sanalah Majid, lelaki miskin yang berasal dari Bukit Garo, datang. Berpakaian seorang ulama ia menyentak orang-orang Mahabbatpur, berkata bahwa mereka kelak akan dikutuk karena telah mengabaikan makam seorang wali keramat. Makam itu terbengkalai dan tak terurus. Padahal karena berkah makam itulah tanah mereka menjadi subur dan rezeki mereka melimpah.

Majid tahu bahwa itu makam keramat dari mimpinya. “Pergilah ke sana, pergi ke Mahabbatpur, karena penduduknya tidak tahu aku hidup di antara mereka, tidak diperhatikan dan dirawat. Katakan kepada mereka agar menghormatiku. Sampaikan kepada mereka aku akan berdoa bagi mereka dan memberikan kemakmuran dan kebahagiaan.”

Dengan tenang dan meyakinkan Majid menceritakan siapa dirinya. Kadang disertai air mata untuk menunjukkan penyesalan dan kesedihannya. Ia berasal dari Bukit Garo, hidup bahagia di sana membimbing umat yang meski serbaterbatas, tetap berhati emas. Umatnya bahagia dan ia juga bahagia. Namun, mimpi itu mendorongnya pindah dan datang ke sini.

Penduduk Mahabbatpur agak-agak ingat, di luar desa mereka memang ada makam tua yang tak mereka ketahui namanya. Itulah makam Wali Syah Sadig, kata Majid. Bagaimana bisa kalian menelantarkan makam seorang wali keramat? Penduduk Mahabbatpur yang lugu dan sederhana seperti disentak kesadarannya. Takut mendapat kutukan, mereka pun bergegas membersihkan dan memperbaiki makam tersebut. Makam itu kemudian dipenuhi lilin dan kemenyan serta ditutupi kain berwarna merah, tanda makam seorang wali.

Sejak itu, makam itu pun rutin diziarahi dan menjadi tempat bersyukur dan berdoa penduduk. Ketika mendapat anugerah apa pun, mereka akan mengucapkan syukur di makam tersebut. Ketika memohon apa pun, mereka akan datang berdoa di makam tersebut.

Majid sendiri menjadi penjaga makam tersebut. Ia mendirikan rumah kecil di samping makam, hadiah dari Khalik, pemilik lahan makam tersebut. Bahkan ia memberikan tanah kepada Majid untuk lahan berkebun.

Kehidupan Majid pun berubah. Ia kini menjadi orang yang sangat dihormati. Ekonominya sekarang jauh lebih makmur. Uang-uang sedekah yang disumbangkan untuk makam tersebut bahkan bisa ia gunakan untuk membeli lahan sawah. Ia kemudian menikah. Ia sadar apa yang dilakukannya adalah kebohongan. Menjaga makam orang yang tak dikenal. Tapi, ia yakin kasih Tuhan tak terhingga. Lagi pula apa salahnya berbohong dengan tujuan mendidik agama masyarakat? Jika kecemasan dan kekhawatiran karena berbohong itu datang menggelayuti hatinya, ia akan mengenangkan masa hidupnya yang penuh sengsara dan melarat di Bukit Gayo. Maka perasaan bersalah itu pun hilang

***

Ini terjadi jauh di Bangladesh sana. Novel Pohon tanpa Akar ditulis oleh pengarang terkemuka negeri tersebut, Syed Waliullah (1922-1971). Kalau ada tampak kesejajaran di dalam latar, tokoh, dan cerita dengan latar sosiokultural keagamaan di Indonesia, tentu itu kebetulan saja.

Demikianlah. Kepolosan dan kenaifan masyarakat dimanfaatkan dengan jitu oleh seorang Majid. Ia mengarang cerita tentang makam keramat yang pengabaiannya akan membuat masyarakat menjadi terkutuk. Dengan itu ia mengeruk keuntungan berlimpah: mulai dari yang bersifat kebutuhan dasar hingga kewibawaan dan penghormatan.

Tentu tidak mudah membangun kebohongan ini. Tapi, Majid adalah seorang yang mengerti agama dengan baik, pandai bersilat lidah, pintar mencipta kata-kata, terampil bersandiwara, canggih membangun reputasi, hebat memoles citra diri, dan tentu saja: sangat percaya diri. Itulah sebabnya, tak butuh waktu lama untuk meyakinkan penduduk Mahabbatpur. Majid meraih kuasa dan wewenang berbicara atas nama sang wali—sekaligus berarti atas nama Tuhan. Tapi, tak bisa dibantah, kemiskinan, kepolosan, dan kenaifan adalah latar yang mendukung semua ini.

Iklan

Pasti tidak mudah juga mempertahankan kebohongan ini. Dalam suatu episode, diceritakan bagaimana Majid merasa cemburu dan terancam dengan kehadiran kunjungan tahunan seorang ulama yang diyakini sebagai seorang wali ke Mahabbatpur. Umatnya hampir semua tersedot mengunjungi dan meminta berkah sang wali tersebut, tak terkecuali Amera, istri pertama Khalik yang mandul dan ingin didoakan punya anak. Melalui rekayasa yang canggih, Amera urung mendatangi sang wali karena menurut suaminya yang sudah di bawah kuasa Majid, ia cukup ke makam dan lewat Majid saja.

Majid pun mengarang cerita bahwa perempuan menjadi mandul karena ada lilitan di perutnya. Karena itu, yang dilakukan cukup mengetahui berapa banyak lilitan di perut seorang perempuan. Kalau lilitan itu cuma sedikit, berkah sang wali, mandul itu akan bisa disembuhkan. Karena itu digelarlah ritual doa di makam sang wali. Tapi, Amera tak berhasil melalui ritual itu dan menurut Majid itu karena ia memiliki dosa. Amera akhirnya dihukum dua kali. Pertama karena mandul, kedua karena berdosa. Ia akhirnya jadi gila dan kemudian dikembalikan ke orang tuanya. Ini adalah bagian paling menyayat dari novel ini. Bagaimana mulut beracun Majid bisa menghancurkan hidup seorang perempuan yang lugu dan lemah.

Tetapi, kebohongan demi kebohongan menjadikan makam itu seperti rumah pasir bagi Majid. Ia terjebak sendiri dalam dustanya. Ketika banjir besar akan menimpa kawasan Mahabbatpur, tak terkecuali makam yang telah membuatnya makmur, terkenal, dan dihormati itu, ia memutuskan untuk tetap berada di makam tersebut.

“… ia telah menemukan begitu banyak alasan untuk tinggal sekalipun air bah telah mencapai rumahnya. Ini adalah rumahnya, yang ia peroleh setelah sekian tahun penuh perjuangan yang gigih, kelaparan, dan putus asa. Ia adalah juru kunci makam yang apabila meninggalkannya, ia akan kehilangan kepercayaan dari rakyatnya.”

Bukankah ia yang mengatakan berkah sang wali akan memberi perlindungan?

***

Bertahun lalu ketika membaca novel ini saya merasa ditampar. Tiba-tiba saja apa yang dikemukakan Syed Waliullah ini seolah terjadi di lingkungan sekitar saya sini. Ini seperti sebuah sindiran yang tajam pada gaya keagamaan populer di mana makam dan wali menjadi orientasi kegiatan keagamaan yang penting.

Tetapi, saya mencoba menghibur diri. Barangkali Syed Waliullah seorang penulis modernis yang memang punya kecenderungan tidak suka pada bentuk-bentuk keagamaan populer yang dipandang tidak masuk akal. Namun, tetap hal ini tidak menutupi kenyataan yang diungkapkan novel ini bahwa kemiskinan dan kebodohan sering berhubungan dekat, bahkan tak jarang tumpang tindih. Di antara keduanya menyelip kesadaran beragama yang bukannya menghapuskan kebodohan dan kemiskinan, malah semakin memapankan dan mengukuhkannya.

Dan Majid. Syed Waliullah melukiskan tokoh ini dengan sangat kuat, mulai cara berpakaiannya, cara berbicara, dan hasrat-hasrat kuasanya yang dibungkus dan dikemas bahasa-bahasa keagamaan. Ketika agama dipakai, segera para penduduk yang polos itu tunduk dan takluk.

Tanpa terasa saya menggeser tafsir saya. Ini bukan cerita tentang makam, tapi tentang sosok (seperti) Majid. Dengan keterampilan dustanya yang luar biasa, di balik hasrat kuasa ekonomi dan keagamaannya, ia bisa menciptakan makam yang sebenarnya tidak ada.

Makam dengan demikian hanya sarana. Sekarang ia bisa digantikan oleh misal partai, organisasi, media, dan lain-lain. Di tangan tokoh semacam Majid, partai, organisasi, media, seperti makam tersebut, bisa diubah menjadi aparatus kuasa. Menjadi alat manipulasi semata-mata. Menjadi sarana mengeruk untung saja. Syaratnya satu: tambah bumbu agama.

Majid, karena itu, adalah kunci.

Baca edisi sebelumnya: Syekh Astaghfirullah vs Abu Amar, Agama Melawan Ilmu Pengetahuan dan tulisan di kolom Iqra lainnya.

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2018 oleh

Tags: #iqraAgamabangladescerpenmakamnovelpohon tanpa akarresensisyed waliullahulama
Hairus Salim

Hairus Salim

Research Consultant, Writer, Trainer at Yayasan LKiS

Artikel Terkait

buku remy sylado.MOJOK.CO
Seni

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO
Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.