MOJOK.CODalam novel Amin Maalouf berjudul Leo The African yang berlatar waktu abad ke-16, potret pertentangan agama melawan ilmu pengetahuan tampaknya masih persis dengan yang kita hadapi saat ini.

Dari sejumah novel Amin Maalouf (1949), jurnalis dan pengarang Prancis kelahiran Lebanon, yang saya sukai selain Rock of Tanios adalah Leo The African. Leo the African merupakan fiksi historis dari perjalanan hidup seorang diplomat, geograf, dan pengelana terkenal abad ke-16, Hasan bin Muhammad al-Wazzan al-Fasi alias Giovanni Leone alias Joanes Leo de Medice dalam gemuruh pertukaran sosial politik keagamaan pada abad pertengahan. Ia masyhur melalui karya The Description of Africa.

Ketika Granada terkepung dan kemudian diambil alih oleh pasukan Kristen, untuk menghindari inkuisisi Hasan yang saat itu berusia tiga tahun dibawa keluarganya mengungsi ke Kota Fez, Maroko. Harapan keluarga dan komunitasnya untuk bisa kembali ke Granada tidak pernah terwujud.

Hasan tumbuh menjadi seorang petualang. Dari Granada ke Fez, ia lanjut ke Kairo dan Roma dengan status bermacam-macam: sebagai pedagang, budak, tawanan musuh, penerjemah, juga diplomat. Tentu saja ia terus mengenang dan merindukan Granada. Ia berkonversi ke Kristen, tapi kemudian diyakini balik lagi ke Islam. Ia mengenal banyak tempat dan cakap banyak bahasa. Kulitnya tidak putih juga tidak hitam. Hidup berpindah-pindah dengan identitas yang berubah-ubah membuatnya merasa tidak memiliki identitas. Mungkin dialah makhluk hybrid pertama di dunia.

Tapi sebentar, bukan tema besar ini yang ingin saya bagikan. Itu terlalu berat. Saya ingin cerita yang lain dari novel ini.

Baca juga:  Dawam Rahardjo dan Anjing yang Masuk Surga

Salah satu tokoh yang menempel lekat dalam ingatan dari novel ini adalah Syekh Astagfirullah. Ya, julukannya Syekh Astagfirullah. Ia imam dan pengkhotbah di masjid besar Granada. Tak banyak yang tahu nama aslinya. Konon ibunya sendiri yang menamainya Astagfirullah karena sedari kecil ia selalu melafalkan kalimat itu setiap kali menyaksikan benda atau kejadian yang tidak patut.

Sedemikian seringnya ia mengucapkan kata itu, sampai-sampai menjelang salat Jumat para anak muda membuat taruhan berapa kali Syekh akan mengucapkan kata itu dalam khotbahnya. Angka yang muncul berkisar antara 15 dan 75 kali dan sepanjang khotbah mereka akan menghitung dengan saksama sembari saling melempar senyum nakal.

“Tidakkah mereka yang datang ke kedai-kedai itu sudah diajari sejak kecil bahwa Tuhan mengutuk semua orang yang menjual anggur dan semua orang yang membelinya? Tidakkah mereka telah diajari bahwa Dia mengutuk orang yang minum dan yang menyuguhkan minuman itu? Mereka tahu! Tapi, mereka lupa sehingga mereka lebih memilih minuman yang bisa membuat orang membabi buta seperti hewan daripada firman Tuhan yang bisa membawanya ke surga. Salah satu kedai itu adalah milik wanita Yahudi, tapi tiga yang lainnya—astagfirullah—dibuka oleh orang-orang muslim. Dan pengunjungnya bukan cuma orang Yahudi atau Yahudi, itu aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Beberapa dari pengunjung itu mungkin ada di tengah-tengah kita pada hari Jumat ini…. Astagfirullah.”

Demikian misal salah satu khotbahnya seperti diceritakan Muhammad Al-Wazzan kepada Hasan, anaknya, suatu kali di pengungsian, 10 tahun setelah Granada jatuh. Ketika itu, Syekh Astagfirulllah sudah meninggal, tapi orang-orang masih sering mengenangnya.

Baca juga:  Teori Konspirasi soal Suku Presiden Indonesia

Singkatnya, ia akan dan selalu mengucapkan astagfirullah ‘semoga Tuhan mengampuni aku’ ketika melihat perempuan-perempuan tidak berkerudung kelayapan di tengah jalan, orang-orang minum anggur di kedai dan meninggalkan salat, dan ketika mendengar berita pembunuhan. Syekh Astagfirullah adalah polisi moral bagi setiap penyakit masyarakat yang melanda kehidupan muslim Granada saat itu. Para pengikutnya berkeliaran di jalan dengan membawa tongkat untuk menghukum orang yang melakukan kemaksiatan dan merazia buku-buku yang dipandang tidak sesuai dengan ajaran agama serta kemudian membakarnya di depan masjid besar.

Yang menarik, Syekh Astagfirullah adalah anak seorang Kristen yang masuk Islam. Tidak diragukan lagi, hal inilah yang diyakini membuatnya jauh lebih berapi-api dalam beragama. Gaya beragamanya tentu lebih lugas dan sederhana. Ia sama sekali tidak suka ide-ide baru. Baginya, ide-ide baru adalah dosa besar. Ia tidak pernah percaya bahwa kekalahan Islam di Granada karena tidak memiliki meriam. Baginya, kekalahan itu merupakan laknat Tuhan karena ajaran Islam diabaikan dan karena tidak ada prajurit pembela iman yang tangguh.

Inilah yang membedakannya dengan tokoh lain yang menjadi lawannya, Abu Amar, ayahnya si Amar, yang dijuluki Syekh Astagfirullah dan kawan-kawannya sebagai Abu Khmar (ayah si khamar). Sementara Syekh Astagfirullah sosok populis, Abu Amar orang yang elitis. Abu Amar adalah anak seorang kadi (hakim). Ia belajar agama sejak kecil dan menggemari buku-buku dan gagasan-gagasan baru. Ia flamboyan dan berpikiran merdeka. Ketika Granada menjelang jatuh, dua figur ini saling bersaing, dan masing-masing memiliki pendukung. “… Yang Mahatinggi tampaknya telah membuat lelucon dengan menciptakan makhluk yang bertolak belakang satu sama lain.”

Baca juga:  Kolom: Membaca Ulang ‘Hujan Kepagian’

Granada jatuh dan 10 tahun sesudahnya di pengungsian, dengan harapan yang masih menyala bisa kembali ke Granada, ayah Hasan, seperti banyak kaum muslim saat itu, tidak pernah bisa menentukan siapa yang benar antara Syekh Astagfirullah dan Abu Amar.

Di satu sisi, mereka menganggap “Syekh Astagfirullah selama ini benar belaka dan bahwa Tuhan telah berbicara lewat mulutnya.” Mereka mengenang Syekh Astagfirullah dengan hormat dan takzim. Di sisi lain, mereka juga menyesalkan mengapa dulu tidak bisa membuat meriam sendiri dan menggunakannya untuk pertahanan diri.

Amin Maalouf memberi porsi satu bab untuk tokoh Syekh Astagfirullah dan Abu Amar pesaingnya ini. Amin yang banyak menulis novel sejarah dengan latar belakang Islam ini tampaknya hafal tabiat sosiologis masyarakat muslim dari zaman ke zaman. Karakter keduanya komikal dan karikatural. Saling nyinyir mereka pun tipikal. Kehadiran, pandangan, dan kemudian perdebatan dan pertengkaran antara keduanya membingkai cerita tentang suatu krisis keagamaan di masa akhir Granada Islam. Keseimbangan dan keselarasan roboh. Spiritualitas dan intelektualitas berada dalam tegangan yang tinggi dan saling meniadakan.

Rasanya, kini wajah Syekh Astagfirullah dan Abu Amar masih menghiasi langit-langit kehidupan keagamaan kita. Atau bisa jadi situasinya jauh lebih mencemaskan lagi. Entahlah.

Baca edisi sebelumnya: Tuhan Tahu, tapi Ia Menunggu dan tulisan di kolom Iqra lainnya.