Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

Mita Idhatul Khumaidah oleh Mita Idhatul Khumaidah
21 Juli 2026
A A
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Ilustrasi Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Rasanya sungguh unik dan mendebarkan. Mengendarai, lalu mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih.

Kejadian-kejadian unik terkadang lahir dari ketidakmampuan untuk berkata “tidak”. Apalagi ketika kejadian tersebut melibatkan Kepala Desa, Babinsa, Koperasi Merah Putih dan mobil pick up Mahindra Scorpio.

Iklan

Sebagai seorang kader yang imut dan berbudi, saya selalu diserahi tugas pembacaan doa dalam pertemuan PKK. Itu tugas yang menyenangkan, tentu saja, karena saya merasa benar-benar payah dalam mengerjakan tugas yang lain.

Namun, Bu Kades punya pemikiran berbeda. Pada suatu siang yang berangin menjelang bubaran pertemuan PKK, Bu Kades menghampiri saya dengan langkah gegas. Beliau dibuntuti oleh seorang tentara yang tak pernah muncul pada pertemuan edisi mana pun.

“Saya tak menyangka, sampeyan ternyata seorang pengulas otomotif,” seloroh Bu Kades, dengan mimik heran. “Pak Babinsa bilang begitu. Beliau punya tugas buat sampeyan. Pastinya mau, kan?”

Pikiran saya macet seperti kambing yang diajari kalkulus. Apa lagi yang bisa saya lakukan, coba? Menjelaskan bahwa, secara definitif, saya bukanlah pengulas otomotif? Menuturkan kalau saya tak pernah punya kanal Youtube seperti Om Mobi dan Fitra Eri?

Keterdiaman saya dianggap sebagai persetujuan. Dengan senyum tulus dan lambaian tangan, Pak Babinsa mempersilakan saya dan Bu Kades untuk mengikutinya. Saat itu saya belum tahu akan diminta mengulas Mahindra Scorpio, mobil operasional Koperasi Merah Putih.

Sulit untuk berkata tidak

Ternyata Pak Babinsa mengajak kami ke Koperasi Merah Putih yang berjarak tiga puluhan meter dari balai desa. Koperasi Merah Putih itu belum beroperasi, sesuatu yang tak mengherankan bila kita mengingat bahwa calon manajernya masih belajar berbaris dan menembak di suatu tempat.

Namun, apa yang dibawa Pak Babinsa dari dalam gudang mengejutkan saya: sebuah mobil pick up. Dan bukan sembarang mobil. Ini adalah mobil pick up operasional Koperasi Merah Putih, dengan stiker nama koperasi dan pelbagai emblem di body-nya. Sebuah pick-up Mahindra Scorpio Single Cabin.

“Saya minta tolong Anda mengulas mobil ini. Untuk konten koperasi ini nanti. Mau kan, Mbak?” tanya Pak Babinsa.

Sulit untuk menolak suatu permintaan tolong yang tulus, terutama dari orang yang menyebut saya “Mbak” dan bukannya “Ibu”. Lagi pula, ini adalah kesempatan saya untuk menuntaskan pertanyaan yang terus membuat saya penasaran: 

Mengapa Mahindra Scorpio Single Cabin yang menjadi mobil operasional Koperasi Merah Putih? Mengapa bukan, misalnya, Isuzu Traga atau Suzuki New Carry?

Ukuran jumbo Mahindra Scorpio sebagai penegas citra

Satu hal yang langsung menyita perhatian adalah dimensi mobil ini yang lebih besar daripada mobil pick-up lain. Dari brosur yang saya unduh, saya mendapati ukurannya yang setara truk engkel: panjangnya 5,1 meter, lebarnya 1,8 meter, dan tingginya 1,9 meter.

Jika angka-angka itu sulit Anda konkretkan, maka bayangkanlah sebiji Innova Zenix. Generasi terbaru Kijang itu punya dimensi yang benar-benar besar, yang membuat Kijang Kapsul tampak seperti mobil berukuran normal dan Avanza RWD seperti mobil mainan. Mahindra Scorpio Single Cabin punya ukuran yang lebih besar lagi.

Iklan

Aspek ukuran ini penting untuk ditekankan karena, bagaimanapun, ia adalah mobil operasional Koperasi Merah Putih. Proyek kolosal ini membutuhkan simbol yang menegaskan citranya, dan sungguh sulit membangun citra apabila mobil operasionalnya berupa, katakanlah, Daihatsu Gran Max.

Pak Babinsa menyerahkan kuncinya yang selebar kotak sabun, dan beliau mempersilakan Bu Kades duduk di kursi penumpang yang tak berkonfigurasi seperti lumrahnya mobil pick-up. Kursi Mahindra Scorpio cuma muat satu orang, sudah punya headrest yang layak, dan sandaran lengan.

Dengan penuh kesadaran, Pak Babinsa mendudukkan dirinya di bak belakang. Dan atas arahan bijak Bu Kades, melajulah kami berdua ke Gubuk Payung, tempat wisata di kecamatan tetangga yang berada di tengah hutan jati.

Fitur melimpah untuk kulakan Koperasi Merah Putih yang bergaya

Ruang kabin Mahindra Scorpio Single Cabin semakin membuktikan bahwa ia tak bisa disandingkan dengan mobil pick-up sejenis. Kualitas rancang-bangunnya solid, materialnya tak terkesan murahan, dan kelengkapan fiturnya mencengangkan sebagai mobil harian Koperasi Merah Putih.

Begini. Mobil pick-up biasanya mengutamakan durabilitas dan efisiensi, sesuatu yang, oleh pabrikan, diartikan sebagai “Mobil Miskin Fitur yang Kuat Diajak Bekerja Hingga Sehari Sebelum Kiamat”. 

Beberapa mobil pick-up tak punya AC atau sekadar airbag. L300 bahkan tak punya model baru sejak 4 dasawarsa.

Tapi, mobil pick up Mahindra Scorpio ada di semesta lain. Ia punya airbag, AC, dan speaker. Ia juga punya rem ABS, Electronic Brake-force Distribution (EBD), dan safety belt reminder. Ia bahkan punya, masyaallah, fitur cruise control!

Saya menoleh pada Bu Kades yang tak memahami ketakjuban saya. “Mobilnya kenapa, Mbak?” tanya beliau.

Ingin sekali saya memindahkan impresi yang saya alami pada Bu Kades tanpa melalui bahasa. Fitur cruise control memanglah fitur yang sudah jamak di mobil modern. Namun, keberadaan fitur ini di mobil pick-up kabin tunggal sama impresifnya dengan keberadaan Bill Gates di jalanan Magelang.

“Mobilnya terlalu bagus,” sahut saya, sembari membayangkan manajer Koperasi Merah Putih berseragam loreng dan berkaca mata hitam duduk bersila di belakang kemudi, membelah jalan tol demi kulakan barang di gudang Indomaret terdekat.

Mesin Mahindra Scorpio sangat bertenaga untuk berkendara santun

Dari beberapa aspek, karakter mesinnya terasa seperti Innova diesel. Ini mungkin karena kemiripan kapasitas mesin dan besaran output-nya. Mahindra Scorpio Single Cabin punya mesin sebesar 2200cc yang memuntahkan tenaga sebesar 140 hp dan torsi 320 Nm. 

Meski begitu, tetap ada perbedaan yang terasa pada rentang tenaganya. Mahindra Scorpio sangat cekatan di putaran bawah, sementara Innova diesel cocok ikut balap drag liar. Transmisi manual 6 percepatan miliknya memastikan ketercukupan tenaga di segala kebutuhan. Khususnya kulakan Koperasi Merah Putih with style.

Tenaga dan torsi mobil ini memang tak punya sesuatu yang spesial. Namun, bukan berarti mesinnya payah. Ia tetap andal mengangkut muatan sarat, bisa minum solar busuk layaknya mobil niaga sejati, dan konon relatif murah perawatannya.

Mesin Mahindra Scorpio Single Cabin hanya tak bisa kamu ajak pecicilan di jalan, dan ini bukanlah kekurangan. Lagi pula, setelah berbulan-bulan ditempa dalam metode yang sedemikian seriusnya, saya pikir tak ada manajer Koperasi Merah Putih yang cukup waras untuk melajukan mobil ini di jalan tol dan mengajak tanding cumi darat. 

Fitur kunci untuk berbagai kemungkinan lokasi

Tapi, bukan mesin yang menjadi nilai jual utama Mahindra Scorpio Single Cabin, melainkan tipe penggeraknya. Versi yang untuk operasional Koperasi Merah Putih ini berpenggerak 4×4, alias keempat rodanya bisa disuruh muter bareng.

Ini menjadikan mobil asal India tersebut sebagai mobil 4×4 dengan harga termurah di pasar Indonesia. Harga tertingginya ada di angka tiga ratus juta rupiah, lebih murah seratus juta ketimbang Toyota Hilux kabin tunggal 4×4 yang menjadi pesaing beratnya.

Saya menjajal mekanisme penggerak empat roda tersebut saat memasuki kawasan Gubuk Payung. Objek wisata ini sudah ada sejak era kolonialisme, dan mungkin pada saat itu pula ia mengalami renovasi yang terakhir. Sejauh bentangannya, hanya ada debu dan batu yang melapisi jalan.

Untuk mengaktifkan fitur penggerak empat roda, terdapat tombol putar serupa kenop kompor gas pada konsol tengah. Saya tak perlu memberhentikan laju mobil untuk berpindah ke mode 4H. Cukup berjalan pelan, putar kenop ke mode tersebut, angkat kaki sejenak dari pedal gas, lalu tunggu lampu indikatornya menyala.

Hasilnya, gejala oversteer alias ngepot gara-gara selip pada ban belakang bisa lenyap. Pada medan berdebu dan berkontur perbukitan, fitur 4×4 pada Mahindra Scorpio Single Cabin adalah fitur yang vital. Ia sangat berguna untuk mengurangi risiko petaka yang mungkin mengadang manajer Koperasi Merah Putih di jalan.

Kita tahu, manajer Koperasi Merah Putih tak butuh tambahan daftar masalah lagi.

Alasan pasti mengapa Mahindra Scorpio dipilih untuk Koperasi Merah Putih

Sembari menyendoki isi es campur dari satu-satunya kedai yang buka di Gubuk Payung siang itu, saya melamunkan jawaban atas dua pertanyaan ini.

Pertama, apakah Mahindra Scorpio Single Cabin adalah mobil yang bagus?

Jawabannya sudah pasti iya. Mobil ini memberikan sesuatu yang tak konsumen dapatkan dari mobil pick-up lain di rentang harga yang sama. Dimensi yang besar, fitur yang lengkap, mesin yang dapat diandalkan, dan mode penggerak empat roda yang memberikan ketenangan.

Tak ada mobil pick-up sekelas yang bisa memberi penawaran selengkap Mahindra Scorpio Single Cabin.

Kedua, mengapa Mahindra Scorpio Single Cabin yang dipilih sebagai mobil pick up kendaraan operasional Koperasi Merah Putih?

Jawaban dari pertanyaan tersebut tak memiliki korelasi dengan kualitas intrinsik mobilnya sendiri. Penggerak empat rodanya memang sesuai untuk beberapa lokasi Koperasi Merah Putih yang tampaknya ditentukan melalui metode lempar dadu. 

Ukuran bak belakang yang lebih kecil ketimbang pick-up lain juga pas betul dengan kemampuan finansial sebagian Koperasi Merah Putih dalam kulakan barang.

Namun, bukan itu semua yang menjadi alasan terpilihnya Mahindra Scorpio sebagai mobil operasional.

Saya memiliki satu dugaan. Hanya satu dugaan. Dan dugaan ini saya dapatkan dari simpulan berita. Juga dari pola-pola yang memiliki kemiripan. 

Bagaimanapun, setiap tindakan memiliki jejak, dan tiap jejak mempunyai pola.

Satu-satunya alasan pemilihan Mahindra Scorpio Single Cabin adalah ….

Ah, Pak Babinsa sudah mengajak pulang. Beliau menyerahkan dua bungkus es campur kepada saya disertai senyuman yang sungguh tulus. Saya tak sampai hati untuk mengatakan bahwa saya bukanlah pengulas yang tepat bagi mobil operasional Koperasi Merah Putih ini.

Dan di jalan pulang, saya kepikiran untuk menyerahkan tugas menyenangkan tersebut kepada Pandji Pragiwaksono saja.

Penulis: Mita Idhatul Khumaidah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Koperasi Merah Putih Diluncurkan di Jateng: Bikin Desa Tak Ketergantungan dan Kembangkan Potensi Desa dan analisis menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2026 oleh

Tags: babinsaIndomaretkoperasi merah putihmahindra scorpiomobil koperasi merah putihmobil pick up
Mita Idhatul Khumaidah

Mita Idhatul Khumaidah

Staf pengajar dan pelapak daring paruh waktu, ibu rumah tangga penuh waktu.

Artikel Terkait

Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO
Kilas

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO
Kabar

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
Catatan

Beras Porang Indomaret, Makanan Aneh yang Saya Sesali untuk Sahur padahal Menu Favorit Orang Jepang

3 Maret 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO
Sehari-hari

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.