MOJOK.CO – Saya dari Pakistan dan urusan agama itu nggak boleh santai. Saya terbiasa memisahkan dua hal, berdoa dan bergoyang. Di Indonesia, ternyata nggak perlu.
Tadi malam, sebuah video lewat di feed saya dan membuat saya tertarik menontonnya. Ada sesuatu yang terasa… tidak biasa di video itu.
Seorang ibu duduk di sebuah majelis. Tangannya terangkat, seperti yang biasa dilakukan seorang Muslim ketika berdoa, doa yang sunyi, langsung kepada Tuhan. Wajahnya penuh kesungguhan. Matanya sedikit memejam. Ia benar-benar sedang berdoa, bukan sekadar formalitas.
Beberapa detik kemudian, musik mulai terdengar. Tanpa jeda, perempuan yang sama mulai bergoyang ringan mengikuti irama. Wajahnya berubah. Dari tegang menjadi lebih hidup. Dari beban penuh menjadi ringan. Bahkan ada senyum kecil di ujung bibirnya.
Saya tertawa.
Bukan karena merendahkan. Tapi karena saya, orang Pakistan yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, masih belum sepenuhnya siap dengan adegan seperti itu.
Di Pakistan, urusan agama nggak boleh santai
Saya tonton ulang. Tiga kali. Empat kali. Dan setiap kali, saya semakin yakin pada satu hal: orang Indonesia adalah ras tersendiri di muka bumi ini.
Saya lahir dan besar di Pakistan. Di negara saya, ada satu aturan tidak tertulis yang semua orang tahu, tapi tidak pernah diucapkan: kalau sudah urusan agama, jangan santai.
Doa ya doa. Masjid ya masjid. Dua hal itu punya aura tersendiri: tenang, berat, dan serius. Sejak kecil saya diajarkan bahwa ketika memasuki masjid, ada mode tertentu yang harus diaktifkan. Suara dipelankan. Gerak diperlambat. Ekspresi disesuaikan.
Bukan berarti tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Tentu ada Idul Fitri, Idul Adha; momen-momen itu penuh sukacita. Tapi kegembiraan itu hadir pada tempatnya sendiri, pada waktunya sendiri. Ia tidak bercampur dengan hal-hal yang dianggap sakral. Ada garis yang tidak tertulis, tapi semua orang tahu di mana letaknya.
Di Pakistan, nggak mungkin ada musik di masjid
Musik di dalam masjid? Hampir tidak mungkin tanpa memicu perdebatan panjang. Perempuan bernyanyi di depan jamaah campuran? Saya bahkan tidak mau membayangkan reaksinya.
Maka bayangkan reaksi saya ketika menghadiri acara Sahur Bersama Ibu Dr. (HC) Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Laboratorium Agama (Masjid) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 3 Maret 2026.
Ketika saya tiba, saya langsung diarahkan masuk ke dalam masjid. Saya ikuti saja, sambil menyesuaikan diri dengan suasana sahur yang masih gelap dan sedikit dingin khas Jogja.
Tapi begitu masuk, saya berhenti.
Di sudut kanan, ada musik. Ada alat-alat musik yang sudah tertata. Di depan, ada seorang perempuan yang sedang bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Lagunya terdengar seperti doa yang dilagukan, tapi dengan melodi yang mengalir bebas.
Saya tidak mengerti liriknya. Tapi saya mengerti bahwa semua orang di ruangan itu mendengarkan dengan tenang. Tidak ada yang terganggu. Tidak ada yang berdiri dan berprotes.
Saya berbisik kepada teman saya: “Ini masjid, kan?”
Dia mengangguk. Santai sekali, seperti saya baru saja menanyakan arah toilet.
“Lalu kenapa ada yang nyanyi?”
“Lagu religi,” jawabnya pendek, lalu kembali memperhatikan penyanyi itu.
Perempuan itu menyanyikan tiga lagu. Saya duduk diam selama itu, mencoba memproses apa yang terjadi. Antara kagum, bingung, dan entah kenapa, saya merasa hangat. Semua orang di sekeliling saya terlihat biasa saja. Damai. Hadir sepenuhnya.
Di sinilah saya mulai menyadari bahwa mungkin bukan Indonesia yang aneh. Mungkin saya yang selama ini membawa kacamata yang terlalu sempit.
Hal yang tidak mungkin ada di Pakistan, tapi saya temukan di Indonesia
Indonesia selalu berhasil membuat saya heran. Ini negara yang serius, serius menghadapi kesulitan hidup, serius dalam ikatan keagamaannya. Tapi entah bagaimana, mereka tetap bisa menikmati hidup sepenuhnya. Dua hal yang di Pakistan terasa mustahil berdampingan; di sini hidup rukun seperti tetangga lama.
Saya melihat orang-orang tetap salat tepat waktu, tetap berpuasa, tetap berbicara tentang Tuhan dengan serius. Tapi di saat yang sama, ada tawa. Ada musik. Ada kebersamaan yang tidak terasa berat.
Agama di sini tidak tampil sebagai beban. Ia tampil sebagai bagian dari hidup yang dipeluk, bukan ditakuti.
Kesungguhan tidak selalu harus terlihat serius. Dan kedekatan dengan Tuhan tidak selalu harus sunyi.
Indonesia tampaknya menemukan cara untuk membuat agama terasa seperti rumah, bukan pos pemeriksaan. Alih-alih mendorong orang menjauh dengan aturan yang terlalu ketat dan wajah yang terlalu masam, pendekatan di sini justru membuat orang ingin dekat. Ingin datang lagi. Ingin ikut.
Kalau boleh jujur dari sudut pandang orang luar, membuat saya sedikit iri.
Jangan buat agama terlalu berat, tapi jangan biarkan terlalu cair
Saya tidak menulis ini untuk menghakimi siapa yang benar atau salah. Pakistan punya caranya sendiri yang lahir dari sejarah dan konteksnya sendiri. Pun halnya Indonesia. Saya tidak dalam posisi untuk memutuskan mana yang lebih baik, dan itu memang bukan urusan saya.
Saya perlu menambahkan satu hal, karena tanpa ini, esai ini tidak jujur sepenuhnya. Yang terbaik dari segalanya selalu ada di tengah-tengah. Jangan buat agama terlalu berat sampai orang kabur dan tidak mau kembali.
Namun juga, jangan biarkan ia menjadi begitu cair sampai kehilangan nilainya, bahkan orang tidak tahu lagi apa yang mereka pegang. Keseimbangan itu bukan kompromi yang lemah, tapi itu kebijaksanaan yang tidak mudah dicapai.
Dan kalau nenek dalam video itu bisa khusyuk berdoa dengan sepenuh hati, lalu goyang dengan sepenuh hati sesudahnya, mungkin dia sudah lebih paham keseimbangan itu daripada saya yang masih sibuk bingung melihatnya.
Penulis: Waleed Ahmad Loun
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Kisah Seorang Pengelana dari Pakistan yang Menemukan Indahnya Toleransi di Universitas Sanata Dharma dan pandangan menarik lainnya di Esai.














