Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Mengenang Keberadaan Gajah di Alun-alun Kidul Jogja, Sumber Kebahagiaan Warga dan Simbol Kebijaksanaan Sultan yang Hilang

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
24 April 2024
A A
eks kandang gajah alkid jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi eks kandang gajah Alkid Jogja (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kandang gajah di Alun-alun Kidul Jogja atau Alkid Jogja dulu merupakan sumber kebahagiaan sederhana warga. Kini, gajah yang juga jadi simbol Keraton Jogja itu sudah hilang meninggalkan kenangan manis di benak masyarakat.

***

Iklan

Saya merantau ke Jogja pada 2011 silam. Sebenarnya, saat itu tempat tinggal saya tak terlalu jauh dari Alun-alun Kidul Jogja. Namun, kedatangan saya agak telat. Tak sempat menyaksikan gajah-gajah yang kadung dipindah dari kandang dekat tanah lapang tempat berkumpulnya warga tersebut.

Bahkan, lokasi kandang atau Bangsal Gajahan pun tak saya ketahui persis letaknya di sebelah mana. Sampai akhirnya pada Rabu (24/4/2024) pagi saya coba untuk berkeliling Alkid Jogja mencari jejak-jejak fisik dan memori warga tentang kehadiran gajah itu.

Di sisi barat Alkid, saya mencoba bertanya kepada Siti Zumiatun (47), seorang penjual cilok yang sedang melayani pembeli. Ternyata, keberadaan kandang gajah itu persis ada di belakangnya.

“Lha itu, di situ yang sekarang jadi bangunan Paksi Katon,” cetusnya sambil melirik ke arah sebuah bangunan tua semi terbuka di belakangnya. Paksi Katon merupakan forum kemitraan polisi dan masyarakat sekitar Keraton Jogja.

Sepintas memang tak tampak jika bangunan itu adalah bekas kandang gajah Alkid Jogja. Namun, saat saya coba mengamatinya lebih detail masih ada sebuah besi memanjang yang tampak seperti tempat mengikat gajah.

“Itu di sebelah sana dulu tempat minum dan tempat memandikan gajahnya,” jelas Siti mencoba memberikan pencerahan kepada saya yang sedang menatap sudut-sudut area tersebut.

kandang gajah alkid jogja.MOJOK.CO
Penampakan tempat eks Bangsal Gajahan atau kandang gajah di Alkid Jogja yang kini berubah fungsi (Hammam/Mojok.co)

Siti, sudah sejak tahun 90-an berjualan jajanan di Alkid Jogja. Sehingga, ia cukup paham detail sudut-sudut dari area ini.

Kandang gajah dulunya jadi tempat anak-anak berkumpul saat sore hari. Para orang tua menemani mereka sambil menyuapi makanan. Pemandangan hangat yang sejak 2010 sudah tak bisa disaksikan lagi seiring dipidahnya gajah dari lokasi ini ke Kebun Binatang Gembira Loka.

Tak mau makan sebelum ke kandang gajah Alkid Jogja

Kenangan soal kandang gajah Alkid Jogja, sesekali, mencuat di media sosial. Menyiratkan kerinduan terhadap sumber kebahagiaan yang ramah kantong di masa-masa silam.

Fajar Ramadan (24) misalnya, lelaki yang semasa kecil tinggal di Samirono, Caturtunggal, Sleman ingat betul pernah merajuk minta ke kandang gajah. Kenangan indah sekitar 2006 silam itu masih lekat di memorinya.

“Masih ingat betul, sore-sore nggak mau makan sebelum ke Alkid. Minta ditemani bapak zaman itu,” kelakarnya.

Saat itu, seingatnya ada 2-3 gajah di kandang tersebut. Selepas gajah dipindah dari Alkid Jogja pada 2010, sempat ada rasa kehilangan. Namun, usia yang semakin bertambah membuatnya perlahan lupa pada kesenangan masa kecil itu.

Iklan

Kenangan indah bukan hanya ada di memori Fajar. Dimas Lingga (24) misalnya, semasa kecil saat tinggal di Deresan Jogja, ada kenangan manis saat datang ke kandang gajah Alkid Jogja bersama bapak dan dua saudaranya.

“Kami berempat naik motor Suzuki A100, dua anak duduk di bagian tangki depan dan satu di belakang pas perjalanan ke Alkid,” kenangnya.

Sambil menunggu gajah dimandikan, mereka bermain dulu di wahana yang ada di pinggiran Alkid. “Begitu gajahnya dimandikan, kami terus merapat ke dekat kandang,” tuturnya.

Menurutnya, kini Alkid memang tambah ramai. Namun, sudah terlalu padat. Selain suasana, tidak ada ikon yang jadi daya tariknya secara pribadi untuk kembali datang ke sana.

“Sekarang sudah terlalu ramai. Mungkin, untuk wisatawan menarik tapi bagiku pribadi sebagai orang Jogja sudah agak jarang dan malas berkunjung,” tuturnya.

Simbol kebijaksanaan Sultan yang hilang, dulunya selalu ada

Terakhir, di kandang gajah Alkid Jogja ada dua ekor gajah yakni Nyai Argo dan Kyai Gilang. Masing-masing dititipkan ke Kebun Raya dan Kebun Binatang Gembira Loka Jogja. Beberapa informasi menyebut, kepindahan mereka lantaran beratnya ongkos perawatan. Meskipun, tak ada keterangan soal biaya yang rutin dikeluarkan untuk perawatan tersebut.

Kepindahan gajah yang konon selalu ada di Bangsal Gajahan sejak Keraton Jogja berdiri tersebut memang sempat disayangkan oleh beberapa pihak. Termasuk, oleh adik Sri Sultan HB X yakni GBPH Yudhaningrat.

“Gajah itu lambang kebijaksanaan sehingga bisa memberi wacana kepada  Sultan untuk lebih bijaksana dalam memutuskan sesuatu,” ujar GBPH Yudhaningrat melansir Kompas.com.

alun alun kidul jogja.MOJOK.CO
Suasana alun-alun kidul Jogja saat siang hari (Hammam/Mojok.co)

Kini gajah memang tidak lagi mewarnai sudut barat Alkid Jogja. Namun, tempat ini masih ramai dengan hiruk pikuk manusia. Setiap malam, semua pedagang memadati setiap sisinya. Belum lagi, pengunjung yang terus datang yang rela berpadat-padatan saat akhir pekan.

Namun, bagi sebagian orang yang pernah merasakan suasana Alkid Jogja sebelum 2010, terasa ada yang hilang. Dan mungkin sulit untuk kembali lagi.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Kenangan Warga di Alun-Alun Utara Jogja, Hal-hal Indah yang Tak Bisa Terulang Kembali

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 24 April 2024 oleh

Tags: alkid jogjaalun-alun kidul jogjabangsal gajahangajah alkidJogjakeraton jogja
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO
Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO
Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO
Sosok

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Hadapi 777 cv lamaran kerja untuk 1 posisi. IPK dan nama besar kampus tak penting lagi di mata HR MOJOK.CO

Hadapi 777 CV Lamaran Kerja untuk 1 Posisi, HR Tak Peduli IPK-Asal Kampus karena Urusan di Atas Kertas Bukan Jaminan Etos Kerja

8 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.