Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: ‘Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku’

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 November 2025
A A
Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'.MOJOK.CO

Ilustrasi - Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'(Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Aku Marsinah. Aku bukan suara masa lalu. Aku adalah peringatan dari masa depan, bahwa keadilan yang tidak ditegakkan akan terus menggali kuburannya sendiri.

***

8 Mei 1993. Aku masih ingat bau tanah malam itu. Basah, dengan aroma amis darah tubuhku yang mulai mengering. Di sebuah gubuk tua di Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk, tangan-tangan yang tak kukenal meletakkan tubuhku begitu saja, lalu pergi. Saat itu tubuhku sudah kaku, dengan tulang iga yang patah, leher memar, dan wajah lebam tak karuan. Bahkan, kemaluanku juga robek.

Sialnya, tak ada doa malam itu. Tak ada lampu penerang. Hanya ada desir angin yang lewat di antara batang-batang pohon dan suara makhluk malam yang pelan-pelan menelan tubuhku.

Keesokan harinya, orang-orang menemukanku dalam keadaan mengenaskan. Tubuhku beku membiru. Mataku tertutup rapat, tapi cerita tentangku langsung menyebar cepat. Mereka mengenaliku sebagai Marsinah, buruh perempuan dari PT Catur Putra Surya, Porong, Sidoarjo, yang dianggap berani menuntut hak dan menolak ketidakadilan.

Setelah dimakamkan dengan layak, orang-orang datang membawa bunga dan air mata. Namaku disebut di koran, diteriakkan di jalanan, dijadikan lagu perjuangan. Aku yang dulu hanya ingin upah layak, tiba-tiba jadi simbol perlawanan.

Bertahun-tahun berlalu. Aku kira dunia di atas tanah sudah berubah. Namun, dari dalam kuburku, aku mendengar kabar yang membuat dada yang remuk ini seolah bergetar lagi. Ada yang ingin memberi Suharto gelar Pahlawan Nasional.

Iya, Suharto!

Bayangkan, lelaki yang memerintah rezim yang membunuhku kini disucikan, dipuja, dan disebut penyelamat bangsa. Katanya, jasa-jasanya melampaui segala dosa. Mungkin, di negeri ini, darah buruh dan air mata rakyat memang tak pernah punya nilai.

Dan yang paling lucu, aku mendengar namaku disebut dalam upacara yang sama. Aku, yang mati di bawah bayang-bayang Orde Baru, dijadikan pahlawan bersama sang penguasa yang menanam teror itu. Dunia benar-benar pandai bercanda.

Ketika menuntut hak dianggap memberontak

Aku lahir di Nglundo, Nganjuk, 10 April 1969. Hidupku sederhana, dengan rutinitas bangun pagi, berangkat ke pabrik arloji PT Catur Putra Surya di Porong, dan bekerja delapan hingga dua belas jam sehari. Di pabrik ini, mesin berdentum lebih keras daripada suara manusia. Setiap hari kami berdiri berjam-jam menatap arloji yang kami rakit, seolah waktu bukan milik kami sendiri.

Aku mulai bekerja di sana sejak 1990. Upahku dua ribu lima ratus rupiah per hari. Cukup untuk makan seadanya, membayar sewa kos, dan sedikit menabung untuk keluarga. Namun, ketika harga kebutuhan naik, upah kami tetap. Maka kami pun mulai bicara, pelan-pelan, dari meja ke meja, dari ruang istirahat ke gerbang pabrik.

Tuntutan kami sebenarnya sederhana: naikkan upah sesuai ketetapan pemerintah, kurangi jam kerja yang melampaui batas, dan hentikan intimidasi terhadap buruh perempuan. Sederhana!

Pada 1 Mei 1993, di Hari Buruh Internasional, kami melakukan mogok kerja. Seratusan buruh berdiri di halaman pabrik, menolak mesin berputar sebelum upah kami disesuaikan dengan SK Gubernur Jawa Timur No. 50/1992. Aku ikut menulis dan membacakan tuntutan itu di depan manajemen. Isi tuntutan kami jelas:

Iklan
  • Kenaikan upah sesuai kebutuhan buruh
  • Asuransi tenaga kerja yang ditanggung perusahaan
  • Penghitungan lembur sesuai keputusan menteri
  • Jaminan kesehatan karyawan
  • Kenaikan uang makan dan transport
  • THR satu bulan gaji sesuai imbauan pemerintah
  • Penyesuaian cuti haid dengan upah minimum
  • Tunjangan cuti hamil yang tepat waktu
  • Upah karyawan baru disamakan dengan yang sudah setahun bekerja
  • Peniadaan pencabutan hak karyawan yang sudah diberikan
  • Larangan mutasi, intimidasi, atau PHK bagi karyawan yang menuntut hak
  • Bubarkan SPSI

Tak ada yang kasar. Tak ada yang ingin menghancurkan apa pun. Kami hanya ingin hidup lebih manusiawi.

Namun, di masa itu, berserikat di luar Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dianggap makar. Serikat yang diakui negara itu lebih sering jadi corong pengusaha ketimbang suara buruh. Kami yang menolak tunduk dianggap melawan sistem. Dalam bayang-bayang Orde Baru, mogok kerja tak beda dengan pemberontakan. Aku tahu risikonya: dicatat, diintai, mungkin dihilangkan. Namun, aku tak pernah membayangkan harga dari tuntutan sesederhana itu adalah nyawaku sendiri.

Pada 4 Mei, setelah aksi mogok, tiga belas buruh dipanggil ke Koramil Porong dan dipaksa menandatangani surat pengunduran diri. Aku datang ke sana keesokan harinya untuk menanyakan nasib mereka. Itulah hari terakhir orang melihatku hidup.

Tiga hari kemudian, jasadku ditemukan di Wilangan, sekitar 80 kilometer dari pabrik tempatku bekerja–dengan kondisi persis seperti yang aku ceritakan di awal. Para aktivis, pengacara, dan jurnalis berjuang mengungkap pelakunya, tapi kasus itu segera ditutup dengan alasan “tidak cukup bukti.” Komnas HAM mencatat adanya keterlibatan militer dalam interogasi para buruh, tapi negara menolak mengakui.

Sejak itu, dari dalam kubur, aku mendengar bahwa diriku “menjadi simbol”. Simbol betapa murahnya nyawa seorang buruh di negeri yang katanya sedang “membangun”.

Jasad lain yang ikut terkubur

Dari bawah tanah ini, aku mendengar banyak jeritan lain yang terkubur bersama namaku. Jauh sebelum jasadku dibuang, ada malam-malam di mana orang hilang tanpa kabar, dan mayat ditemukan di kali, sawah, atau selokan. Mereka menyebutnya penembakan misterius atau Petrus.

Aku ingat kabar samar yang sampai ke telinga kami, para buruh, bahwa ada banyak lelaki-lelaki muda ditemukan terikat, dadanya bolong, tubuhnya dibuang begitu saja di jalan. Kata orang, itu peringatan dari negara agar rakyat takut. Kata penguasa, Suharto, itu cara menertibkan negeri. Tapi bagaimana bisa ketertiban lahir dari peluru di kepala anak muda yang bahkan tak diadili?

Aku sering membayangkan, mungkin di antara mayat-mayat itu ada yang juga buruh atau pedagang kecil. Mereka mati bukan karena jahat, tapi karena negara ingin terlihat kuat. Suharto pernah berkata di televisi, dengan nada datar: “Kalau tidak jahat, ya tidak akan ditembak.”

Lihat betapa mudahnya nyawa manusia digantikan kalimat. Betapa murahnya hidup di bawah tangan seorang “Bapak Pembangunan.”

Beberapa tahun setelahnya, suara takbir menggema di Tanjung Priok. Tahun 1984, warga hanya ingin protes karena tentara memaksa mereka menurunkan spanduk keagamaan dari masjid. Namun, tentara datang membawa senjata, bukan dialog. Puluhan, bahkan ratusan orang ditembak. Suharto bilang hanya dua lusin yang mati, tapi warga menyebut ratusan. Di tengah asap dan darah itu, Suharto masih enteng berpidato tentang “stabilitas nasional.”

Aku, dari dalam tanah, mendengar semua itu seperti dengung serangga di telingaku. Setiap kali ada pembantaian, bumi bergetar sedikit, lalu diam lagi.

Setelah Tanjung Priok, ada Santa Cruz di Dili. Dua ratus tujuh puluh satu, ya: 271 orang ditembak di pemakaman karena menuntut kemerdekaan Timor Timur. Sebelumnya, ada Aceh, yang dijadikan Daerah Operasi Militer sejak 1989, di mana perempuan diperkosa dan desa-desa dibakar. Lalu Papua, di mana rakyat dipaksa memilih bergabung dengan Indonesia di bawah bayonet.

Jujur, aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak tanah di negeri ini yang basah oleh darah rakyat. Tahun-tahun berganti, tapi polanya sama: siapa pun yang melawan akan dibungkam. Pers ditutup, kampus diawasi, mahasiswa dipukul di jalan.

Bahkan setelah aku mati, banyak aktivis lain menyusulku: Wiji Thukul yang hilang, buruh-buruh yang ditangkap, mahasiswa Trisakti yang ditembak di siang bolong. Setiap nama baru di berita seperti gema dari nasibku sendiri.

Lalu datang Mei 1998. Aku tak melihatnya, tapi aku bisa merasakan panasnya. Kota terbakar, rakyat lapar, mahasiswa turun ke jalan, dan akhirnya lelaki yang dulu disebut “Bapak” itu jatuh juga. Dunia pun sempat bersorak.

Suharto, di kemudian hari, memang akhirnya mati. Sialnya, ia mati tanpa pernah diadili. Aku sendiri heran, bagaimana seorang penjahat HAM bisa hidup dengan tenang sampai ajal menjemputnya, bahkan masih dipandang luhur.

Bagaimana bisa aku disandingkan dengan pemimpin rezim yang membunuhku?

Setiap kali nama Suharto disebut dengan hormat, tanah di sekitarku bergetar. Seolah ada yang menendang dari bawah. Seolah ribuan korban yang marah, tapi tak bisa bicara. Kami tak butuh balas dendam. Kami hanya ingin diakui bahwa kami pernah ada, dan apa yang dilakukan negara kepada kami adalah kejahatan.

Kini kudengar kabar yang lebih gila. Pada Hari Pahlawan, 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto, mantan menantu Suharto, menandatangani keputusan yang memberi gelar Pahlawan Nasional kepada mertuanya. Di hari yang sama, katanya, aku juga diberi gelar serupa. 

Bayangkan, aku yang dibunuh oleh tangan rezimnya, kini dipaksa berdiri sejajar dengannya di prasasti negara. Aku tak tahu harus tertawa atau menangis. Barangkali inilah ironi paling sempurna dari negeri yang begitu pandai melupakan; korban dan pelaku disucikan dalam satu upacara, satu penghormatan, satu lagu kebangsaan.

Dari bawah tanah, aku bertanya: apa arti kata pahlawan bagi bangsa yang tak pernah berani menatap sejarahnya sendiri? Bagaimana bisa negeri ini memuja orang yang menembak warganya, menutup mulut persnya, dan menggantungkan masa depannya pada rasa takut? Bagaimana bisa lelaki yang membangun negeri ini di atas tulang-tulang kami, kalian sebut sebagai pahlawan?

***

Aku Marsinah. Aku bukan suara masa lalu. Aku adalah peringatan dari masa depan, bahwa keadilan yang tidak ditegakkan akan terus menggali kuburannya sendiri.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Alkisah Suharto, Prabowo, dan Swasembada Pangan Ilusif yang Mengancam Petani atau Liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 10 November 2025 oleh

Tags: marsinahOrde Barupahlawan nasionalpenjahat ham. kejahatan hampilihan redaksiSoehartoSuharto
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
Tukang pijat.MOJOK.CO

Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja

24 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.