Living together alias kumpul kebo bikin syok saat kuliah di Malang
Serupa dengan Pengki, Awalia yang lulus pada 2023 lalu mengaku merasa tersesat jauh selama kuliah di sebuah PTS di Malang.
Perempuan asal Lumajang, Jawa Timur, itu merupakan alumni pesantren. Tentu situasi pergaulan di Malang yang seperti itu membuatnya terkaget-kaget.
“Aku tahu, ada beberapa teman perempuanku yang living together,” ujarnya. “Beberapa di antaranya juga lulusan pesantren.”
Lulusan pesantren pun, dalam kesaksian Awalia, dibagi menjadi dua dalam menjalani living together alias kumpul kebo (lawan jenis tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan). Satu, benar-benar melepaskan segala hukum sosial dan agama, menjadi manusia bebas sebebas-bebasnya, menebus kekangan yang didapat di pesantren dan lingkungan masyarakat di rumah asal.
Sementara kategori nomor dua, yakni ia yang sekadar tinggal bareng, tapi menjalani kehidupan di kontrakan dengan diwajar-wajarkan.
“Simulasi rumah tangga, dalihnya itu. Jadi di kontrakan ya salat jemaah bareng, ngaji bareng, tapi belum berstatus suami istri,” beber Awalia.
Satu tahun terakhir, living together alias kumpul kebo di kalangan mahasiswa Malang memang tengah menjadi sorotan serius. Karena memang bertentangan dengan Peraturan Daerah (Perda).
Atas banyaknya aduan perihal kos atau rumah sewa yang menjadi tempat praktik kumpul kebo, Satpol PP Kota Malang bahkan menegaskan akan memperketat patroli dan pengawasan di tahun 2026 ini.
Terlebih, fenomena kumpul kebo dan bebasnya pergaulan di kalangan anak-anak muda di Malang berdampak pada tingginya angka HIV/AIDS. Merujuk data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, sepanjang 2025 tercatat ada 355 orang terdeteksi mengidap HIV/AIDS.
Di kampus syar’i, di luar berpakaian serba mini
Kekagetan berikutnya selama kuliah di PTS Malang adalah ketika hijab ternyata hanya sebatas atribut. Sementara, dari yang Awalia pelajari di pesantren, hijab adalah tuntutan seorang muslimah untuk menutup aurat.
“Jujur, aku pernah mencoba melepas hijab, pakaian ketat sedikit, waktu ikut teman-teman nge-camp di pantai. Kata mereka, terutama yang cowok-cowok, aku lebih cantik nggak pakai hijab,” kata Awalia.
Lebih-lebih, dari obrolan dengan sejumlah teman perempuan, itu adalah bentuk kebebasan dan otoritas diri. Tapi entah kenapa nurani Awalia seperti menolak.
Apalagi beberapa temannya ada yang benar-benar berani menurut ukuran lulusan pesantren: di kampus berpakaian full syar’i, tapi di tongkrongan berpakaian serba mini. Sampai ada istilah: “Jadi salehah biasa, jadi solehot bisa.”
Hidup lurus-lurus saja dianggap tidak asyik
Fenomena-fenomena tersebut bisa jadi terjadi di banyak kota lain yang memang menjadi jujukan pendatang. Dalam pengalaman Pengki dan Awalia kuliah di Malang, harus tahan-tahanan iman karena terlalu banyak bujuk rayu menyesatkan.
“Intinya, hidup cuma sekali, mending dinikmati. Jangan lurus-lurus amat,” tutur Pengki. Katanya, begitulah bujuk rayu yang ia dapat.
Sementara dari sudut pandang Awalia, selain narasi menebus kebebasan, ia juga mendapati, ketika ada seseorang yang mencoba hidup lurus-lurus saja, justru dianggap tidak asyik dan bahkan aneh.
Tidak heran jika akhirnya, demi label “asyik”, banyak orang memutuskan untuk mengikuti arus.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














