Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 April 2026
A A
kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO

Ilustrasi - Tinggal di Kos Eksklusif (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa pasangan muda, seperti Huda (29) dan istrinya, memilih “kabur” dari desa dan memutuskan tinggal di kos eksklusif Jakarta demi mencari ketenangan batin. Sialnya, keputusan ini sama buruknya. Di kota, mentalnya tambah hancur.

***

Iklan

Banyak pasangan muda berpikir, obat terbaik dari lingkungan keluarga toksik adalah pergi sejauh mungkin. Lari ke kota besar, menyewa tempat tinggal berdua, dan memulai hidup baru, misalnya. 

Kedengarannya ideal dan menjanjikan kebahagiaan. Namun, ekspektasi seringkali tidak seindah kenyataan. Inilah yang dialami Huda.

Di bulan ketujuh pernikahan, ia dan istrinya memutuskan minggat dari rumah keluarga istri di desa. Alasannya, sebenarnya bisa dimaklumi: tekanan mental.

Jengah jadi bahan bacotan mertua, memutuskan pindah ke kos eksklusif di Jakarta

Huda baru saja resign dari pekerjaannya dan sedang mencoba peruntungan menjadi freelancer sambil mencari pekerjaan baru. Namun, di mata keluarga mertuanya, laki-laki yang kerjanya cuma menatap laptop seharian tak ada bedanya dengan pengangguran.

“Standard orang desa itu aneh. Kita kerja, tapi kalau nggak kelihatan keluar rumah, dianggap nganggur,” kata Huda, Senin (13/4/2026).

Di sisi lain, istrinya juga sudah jengah. Tiap kali kumpul keluarga atau sekadar duduk di ruang tamu, pertanyaannya selalu berputar pada urusan rahim.

“Kapan isi?”, “Kok belum ada tanda-tanda?”, atau “Makanya suaminya disuruh kerja di luar biar badannya gerak, jangan di kamar terus.”

Akhirnya, dengan sisa tabungan yang ada, Huda dan istrinya memutuskan pergi ke ibukota. Karena dana pas-pasan, menyewa rumah atau apartemen bukanlah pilihan. Solusi paling masuk akal adalah menyewa kos eksklusif yang memperbolehkan pasutri.

Ekspektasinya, mereka ingin mendapat privasi, bebas dari omongan tetangga desa, dan Huda bisa fokus mencari kerja. 

Ingin terlihat mandiri, malah jadi beban sendiri

Sialnya, penyakit pertama yang muncul dari pelarian ini adalah keharusan menjaga gengsi. Karena mereka pamit ke kota dengan narasi “ingin mandiri”, mereka pantang terlihat susah. Haram hukumnya mengeluh, apalagi sampai terdengar oleh telinga mertua dan tetangga di kampung.

Iklan

Alhasil, istri Huda harus rutin bikin “laporan” lewat Instastory. Misalnya, hanya bikin story yang asyik-asyik di kos eksklusif, jangan sampai ada keluhan, apalagi yang ada hubungannya dengan finansial.

“Pokoknya sekali kita kelihatan susah, mau ditaruh di mana muka kita,” kata Huda.

Bahkan, Huda pernah mengaku sengaja “pamer”. Ia menyuruh istrinya memotret sebuah invoice dari klien yang memiliki nominal Rp3 juta. Meski uang itu belum dibayarkan, setidaknya mertua dan tetangganya tahu kalau di kota, ia punya penghasilan besar.

“Padahal aslinya lagi pusing banget itu,” ujar Huda. “Tahu sendiri kan pencairan invoice itu kek gimana, sering molornya.”

Di kos eksklusif, menderita karena kelakuan tetangga di dapur bersama

Tak sampai di situ. “Konflik” lain datang dari fasilitas kos itu sendiri. Kos eksklusif memang menjanjikan AC hingga kasur empuk. Namun, ada satu area yang menjadi tempat paling menyebalkan: dapur bersama.

Istri Huda awalnya lega karena tidak ada lagi ibu atau kerabat yang mengomentari cara dia memasak. Namun, kelegaan itu menguap saat ia harus berbagi fasilitas dengan penghuni lain.

“Istri itu sering ngeluh sayur tiba-tiba ilang. Dapur kotor banget, orangnya jorok-jorok. Begitulah,” kata Huda.

Mengenai hal ini, saya jadi ingat keluhan banyak teman kantor yang tinggal di kos eksklusif. Ia pernah bercerita bahwa dapur bersama memang menjadi tempat yang kerap bikin muak.

Seperti misteri hilangnya bahan makanan. Telur, sosis, hingga susu kotak yang sudah diberi label nama besar-besar di dalam kulkas, perlahan tapi pasti selalu menyusut jumlahnya. Tidak ada yang pernah mengaku, tapi semua saling curiga.

Belum lagi soal alat masak. Niat hati ingin masak sendiri untuk berhemat, sampai di dapur malah melihat wajan dan panci penuh kerak mi instan yang direndam air begitu saja. Penghuni sebelumnya malas mencuci.

Karena sesama anak kos biasanya menghindari konflik terbuka, “perang” pun biasanya pindah ke medium lain. Mulailah muncul kertas sticky notes di pintu kulkas yang bertuliskan pesan dengan nada-nada sindiran. Pesan itu kadang difoto dan dikirim ke grup WhatsApp penghuni kos dan kerap bikin ribut.

Niat cari ketenangan batin di Jakarta, malah menghancurkan mental 

Puncak dari pelarian ini adalah ujian finansial. Huda yang bekerja freelance dari dalam kamar kos sering mengalami kebosanan. Batas antara tempat kerja, tempat makan, dan tempat tidur menjadi hilang. Semuanya dilakukan di atas kasur yang sama.

Saat kepala mulai penat dan dada terasa sumpek, mereka butuh keluar kamar kos eksklusif. Namun, di sinilah letak ironi terbesar hidup di kota. Di desa, kalau sedang pusing, mereka bisa berjalan-jalan ke sawah atau duduk di teras sambil mencari angin dengan biaya nol rupiah. 

Di Jakarta, keluar kamar berarti harus siap menguras isi dompet.

“Kalau di kota, healing ya kemana sih? Paling mal, kafe. Mahal juga kalau dipikir-pikir,” kata Huda.

Huda menyadari, di kota besar, ketenangan batin itu memiliki harga. Pada akhirnya, melarikan diri dari desa ke kota tak selalu menjadi cara terbaik buat lari dari masalah.

“Di desa, palingan musuh kita itu ekspektasi mertua sama mulut tetangga. Kalau di kota, musuhnya malah lebih banyak, jadi tambah stres. Tapi nggak mau pulang juga ke rumah.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 April 2026 oleh

Tags: Desakehidupan di desakehidupan di kos eksklusifKos Eksklusifkos eksklusif jakartakos jakartakotamental health
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di kos dekat kampus niat cari kemudahan di awal menjadi mahasiswa baru (maba), malah jadi pemicu konflik sosial yang merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Kos Dekat Kampus Memang Beri Kemudahan, Tapi Jadi Pemicu Rangkaian Konflik Sosial yang Merepotkan Diri Sendiri

10 Agustus 2026
Konferensi pers menuju lima tahun Cherrypop sebagai lebaran skena MOJOK.CO

Cherrypop 2026: 5 Tahun Lebaran Skena, Jeda, dan Cerita-cerita di Balik Panggung yang Ubah Jalan Hidup Banyak Orang

10 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun MOJOK.CO

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun

14 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.