Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Lulusan S2 IT, Rela Tinggalkan Gaji 2 Digit demi Jadi Peternak di Bogor untuk Wujudkan Ketahanan Pangan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
3 Maret 2026
A A
lulusan s2 pilih slow living untuk wujudkan ketahanan pangan. MOJOK.CO

ilustrasi - Dewi Apriani pilih resign dari dunia IT dan menjadi peternak di Bogor. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lulusan S2 IT belajar ternak secara mandiri

Berangkat dari diskusi panjang di atas, Dewi mulai mempelajari soal teknik beternak ayam selama 3 bulan, sebelum akhirnya resign di bidang IT. Salah satu alasannya memilih beternak ayam, karena selama ini bahan pangan untuk menopang keluarganya tak jauh dari telur dan daging sebagai sumber protein.

Pada akhirnya, pembelajaran soal beternak ayam itu merembet pada pembelajaran bertani. Misalnya, dengan memanfaatkan daun pepaya tua untuk dijadikan pakan ayam sementara daun mudanya bisa dijadikan tumisan, atau memanfaatkan daun pisang muda serta azolla sebagai pakan ternak alami.

Tak hanya itu, Dewi juga memanfaatkan sampah daun yang banyak berserakan di sekitar rumahnya untuk deep litter. Deep litter atau alas kandang dari sampah daun bisa mengurangi bau amonia pada ayam sera meminimalkan pembersihan kandang.

“Rasanya kayak nemu harta karun. Sampai aku mikir gimana caranya bisa bangun ekosistem ini biar bisa muter dan qadarullah aku nemu jalan dengan membangun DeW Farm,” kata Dewi yang pernah berkecimpung di dunia IT selama 8 tahun termasuk kuliah S2 di bidang IT.

Cara lulusan S2 slow living di tengah kota

Pada akhirnya, DeW Farm yang mulanya didirikan Dewi sebagai pasokan pangan pribadi justru berpeluang sebagai ladang bisnis, karena hasil produksi yang meningkat. Dari yang mulanya 9 ekor ayam menjadi ratusan. 

Alhasil, kelebihan hasil produksinya itu ia jual ke orang-orang terdekatnya lewat WhatsApp.

“Ternyata banyak yang minat. Akhirnya orang tua dan keluarga ikut bergabung,” ucap Dewi.

Telur ayam kampung ia jual seharga Rp10 ribu untuk 3 butir telur, telur fertil atau bibit seharga Rp5 ribu per butir, ayam pullet umur 4,5-5 bulan yang siap bertelur ia jual seharga Rp100 ribu per ekor.

Siapa sangka, DeW Farm kini membantu lulusan S2 tersebut untuk slow living di tengah kota usai resign di bidang IT. Sebagai perempuan atau ibu rumah tangga pemula yang ingin menjaga ketahanan pangan keluarga seperti dirinya, Dewi menyarankan untuk menanam kangkung, bayam, singkong, cabai, dan tomat. Sementara untuk beternak bisa dimulai dengan merawat 2 ayam jantan dan 7 betina ayam kampung asli.

“Segala sesuatu yang hidup tidak akan punah. Maka saya memilih fokus pada hal yang berkelanjutan: pangan,” ucap lulusan S2 IT tersebut.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 18 Maret 2026 oleh

Tags: jurusan sistem informasiKetahanan Pangankuliah s2peternak ayamresigns2slow living
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker MOJOK.CO
Sekolahan

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker

24 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO
Catatan

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living
Catatan

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO
Sekolahan

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

23 April 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Tukang pijat.MOJOK.CO

Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja

24 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.