Hingga akhir kuliah, Siham memulai merintis usaha ternak domba miliknya di kampung halaman. Baginya, peternakan selaras dengan kesehariannya di Jepara. Di sana, keluarganya telah beternak kambing dan domba sejak 2017.
Oleh karena itu, pada penelitian akhir ia memilih meneliti domba ekor tipis selama 30 hari berturut-turut. Dan berhasil merintis usaha sendiri sejak akhir kuliah.

“Iya, saya sekarang sedang mengembangkan usaha ternak domba di Jepara. Saat ini sudah ada 15 ekor dan rencana setelah lulus ini akan dikembangkan sampai besar. Target awal 100 ekor ke atas,” katanya penuh optimisme.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Dunia peternakan menjadi ruang yang membuat Siham merasa nyaman sekaligus produktif. Dari kandang sederhana yang dirintisnya juga, Siham ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mandiri dan berkarya.
“Saya berharap teman-teman disabilitas yang lain bisa memberi contoh bagi masyarakat, bahwa disabilitas sebenarnya nggak ada batasan. Walaupun secara fisik dan mental terbatas, tapi secara potensi tidak ada batasnya,” tegas Siham.
UGM fasilitasi seluruh potensi mahasiswa
Dosen pembimbingnya, Tri Satya Mastuti Widi berujar Siham cukup detail dalam penelitian.
“Mungkin (saat) teman-temannya tidak mengamati, dia mengamati. Itu mungkin memang kelebihan dari teman-teman yang punya different ability seperti Siham,” ujar Vitri.

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan UGM, Budi Guntoro menyampaikan bahwa keberhasilan Siham menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi harus memberi ruang bagi seluruh mahasiswa untuk berkembang sesuai potensinya.
Menurutnya, kampus tidak hanya berbicara soal capaian akademik, tetapi juga tentang bagaimana membangun ekosistem pembelajaran yang inklusif, suportif, dan manusiawi.
“Setiap mahasiswa memiliki proses dan perjuangannya masing-masing. Kami bangga karena Siham mampu menyelesaikan studinya dan kini mulai membangun usaha peternakan secara mandiri. Ini menunjukkan bahwa pendidikan harus membuka kesempatan bagi semua untuk bertumbuh dan berdaya,” ujarnya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Sukses Tuntaskan S1 Peternakan di UGM, Saya Pilih Abdikan Diri “Mengurus” Sapi di Papua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














