Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Wonocolo: Daerah Terbaik di Surabaya yang Ternyata Bikin Penjual Ayam Geprek Nelangsa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 Maret 2024
A A
Wonocolo Surabaya Tak Ramah Penjual Ayam Geprek MOJOK.CO

Ilustrasi - Wonocolo Surabaya tak ramah penjual ayam geprek (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Wonocolo bisa dibilang adalah salah satu daerah terbaik di Surabaya, Jawa Timur. Namun, siapa nyana, kalau Wonocolo justru menjadi daerah yang paling tidak ramah dengan penjual ayam geprek.

***

Iklan

Selama enam tahun tinggal di Surabaya, saya berani mengatakan kalau Wonocolo adalah daerah terbaik yang ada di Kota Pahlawan. Bagi saya, Wonocolo adalah daerah yang sangat ramah pendatang.

Harga-harga di Wonocolo terbilang masih murah ketimbang daerah-daerah lain di Surabaya. Entah harga sewa kos atau harga makanan. Selain itu, Wonocolo menjadi daerah kecil dengan sarana-prasarana penunjang kebutuhan sehari-hari cukup lengkap.

Tak hanya warung makan, minimarket, atau bahkan toko Madura yang berjejer di setiap gang, Wonocolo juga dekat dengan salah satu mal terkenal di Surabaya, Royal Plaza. Pokoknya akses untuk segala sesuatu sangatlah mudah di sini.

Sebagai perbandingan, teman saya, Ilham (24) pernah tinggal di dua daerah di Surabaya. Semasa kuliah (2017-2022) ia tinggal di Wonocolo. Lalu saat ini ia tinggal di Gayungsari, memilih kos yang tak jauh dari tempatnya bekerja.

“Lebih enak Wonocolo. Keluar kos sedikit sudah tinggal milih (mau makan apa). Di Gayungsari susah pol cari warung makan. Warteg aja susah,” katanya saat saya hubungi, Selasa (12/3/2024) siang WIB.

“Nyari warkop yang tempatnya enak kayak di Wonocolo juga susah. Ada pun harus muter dulu. Sementara di Wonocolo, jalan kaki sudah enak,” sambungnya.

Namun, ada desas-desus menarik perihal Wonocolo. Yakni bahwa Wonocolo sangat tidak ramah dengan penjual ayam geprek.

Persaingan terjadi terang-terangan

Dalam beberapa tahun terakhir, entah kenapa persaingan penjual ayam geprek di Wonocolo terasa sangat kenceng. Padahal di awal-awal saya kuliah (2017) tak begitu terasa.

Saya menyadarinya saat Covid-19 berangsur mereda pada akhir tahun 2021. Saat kembali ke Surabaya setelah hampir satu tahun berdiam di Rembang, Jawa Tengah, saya cukup kaget mendapati dua kios ayam geprek yang buka berjejeran.

Sementara di seberang jalannya sudah ada warung ayam geprek yang sudah ada di sana sejak saya tinggal di Wonocolo pada 2017. Ibu-ibu pemilik warung tersebut tampak lesu bertopang tagu, karena semalaman hanya satu dua orang saja yang mampir ke warungnya.

“Cuma pelanggan-pelanggan lama yang datang,” ujar Mirah (38), bukan nama sebenarnya, saat saya ajak berbincang pada awal 2022 silam.

Saya termasuk salah satu pelanggan lama Mirah. Saya sering makan di warungnya karena murah. Itu pertama. Kedua, letaknya berdempetan dengan warkop langganan saya. Jadi sekalian nongkrong di warkop, biasanya saya memilih memesan ayam geprek dari warung Mirah.

Iklan

“Kalau mau marah, ya marah lah, Mas, dalam hati. Maksudnya sudah tahu di sini ayam geprek, kok buka geprek juga di situ. Mematikan rezeki orang itu namanya,” gerutu Mirah.

Hanya saja, Mirah tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa terus buka sambil pasrah. Kalau ada pembeli syukur alhamdulillah, kalau nggak ada blas ya mau bagaimana lagi.

Desas-desus pelet dan penglaris

Di awal 2022 itu pula, satu ayam geprek yang kiosnya berdekatan tutup. Sehari-hari kios tersebut sepi pembeli. Beda dengan kios sebelahnya yang pembelinya selalu antre, bahkan hingga pantauan terakhir saya pada Januari 2024 lalu. Sementara Mirah masih tak berubah; masih nelangsa menunggu pembeli.

Kasus di atas hanyalah satu contoh saja dari sekian kasus persaingan ayam geprek di Wonocolo, Surabaya. Masih ada beberapa yang lain.

Menimbang kerasnya persaingan penjual geprek di Wonocolo yang sedemikian itu, teman saya, Dika (24), mengurungkan niatnya untuk membuka usaha ayam geprek.

“Ada lah desas-desus yang menyebut kalau nggak cuma ayam geprek, banyak usaha-usaha kuliner di Wonocolo ini pakai pelet atau penglaris,” ungkap Dika saat kembali saya hubungi, Selasa, (12/3/2024) siang WIB.

“Tapi kasus ayam geprek memang paling mencolok,” sambungnya.

Penglaris maksudnya agar dagangannya laris. Hanya sebatas itu. Sementara untuk pelet lebih ekstrem, yakni bagaimana membuat usaha orang lain tutup.

Baik Dika maupun saya sendiri tak bisa mengonfirmasi kebenaran tersebut. Hanya saja, dari pengamatan Dika, indikasi-indikasinya memang cukup kentara.

“Bayangkan, dua kios berjejeran, dengan rasa, marketing, dan harga yang sama, tapi hasilnya jomplang banget. Yang satu rame banget, yang satu bener-bener blas nggak ada pembeli,” ujar Dika.

Dika menekankan, pendapatnya bisa saja salah karena mungkin lahir dari kecurigaan dan kebencian. Akan tetapi, kira-kira seperti itulah gambaran persaingan ayam geprek di Wonocolo.

Baca halaman selanjutnya…

Siasat jualan ayam geprek di Wonocolo agar tak mati

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 13 Maret 2024 oleh

Tags: ayam geprekJawa Timurpilihan redaksiSurabayawonocolowonocolo surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Mahasiswa KKN UGM dan LPS berkolaborasi hadirkan edukasi literasi keuangan di desa terluar Mentawai MOJOK.CO

Literasi Keuangan untuk Desa Terluar di Mentawai: Jadi Bekal Masyarakat Desa Hadapi Ragam Persoalan Finansial

10 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.