Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Putus Asa usai Ditolak Kerja Ratusan Kali, Sampai Dihina Saudara karena Hanya Jadi Sarjana Nganggur

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
12 Desember 2025
A A
Jadi omongan saudara karena sarjana nganggur. MOJOK.CO

ilustrasi - malu jadi sarjana nganggur lalu jadi bahan gosip keluarga besar. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Impian Putri Fateemah (28) seolah menguap begitu saja setelah lulus sebagai Sarjana Pendidikan Seni, sebab nyatanya mencari kerja di era sekarang begitu sulit. Sudah ratusan lamaran kerja ia kirim, tapi tak pernah diterima hingga dihina oleh saudara-saudaranya.

***

Barangkali, sama seperti anak kebanyakan, Putri, panggilan akrab Putri Fateemah, hanya menjawab asal saat ditanya soal cita-cita semasa anak-anak. Kala itu, ia ingin menjadi dokter gigi. Namun setelah lulus SMA, Putri malah masuk Jurusan Pendidikan Seni.

Keinginannya pun berubah menjadi seorang filsuf. Inspirasi itu datang saat ia membaca salah satu syair karya Jalaluddin Rumi dan Kahlil Gibran. Nyatanya, segala mimpi itu sirna saat Putri lulus kuliah di tahun 2019.

Sebagai Sarjana Pendidikan Seni, Putri mengaku sulit mencari kerja. Ratusan lamaran kerja sudah ia kirim, baik melalui email maupun secara langsung. Perusahaan yang ingin ia masuki pun tak muluk-muluk, asal dirinya memenuhi kriteria yang diinginkan.

“Aku nggak pernah pilih-pilih perusahaan karena waktu itu yang penting aku kerja, bisa bantu orang tua,” ucap Putri saat dihubungi Mojok, Kamis (11/12/2025).

Tapi dari ratusan perusahaan yang ia lamar, sebagian menolak, sebagiannya lagi bahkan tak menjawab. 

“Daftar kerja memang gampang karena era digitalisasi, cuman keterimanya nggak mudah,” keluhnya.

Pengalaman menyebalkan saat wawancara kerja

Karena tak diterima di perusahaan mana pun, Putri akhirnya mencari kerja freelance. Yang penting pada saat itu, ia bisa mengurangi beban keluarganya. Di sisi lain, ia masih ingin mencari pekerjaan dengan gaji yang aman dan stabil. Oleh karena itu, dia tak berhenti menyebar CV.

Pada suatu hari, Putri akhirnya mendapat panggilan wawancara di salah satu perusahaan lembaga kursus bahasa. Namun ia bimbang karena wawancara harus dilakukan secara offline, padahal di hari itu Putri masih berkabung.

“Nenekku baru meninggal 5 hari dan aku harus ke luar kota untuk wawancara,” kata Putri.

Namun, karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Putri akhirnya pergi berkendara dengan motor sendirian. Ia nekat berangkat mulai dari pukul 05.30 WIB meski cuaca gerimis. Bagi Putri, gerimis hanyalah tantangan kecil sampai kemudian ia menjumpai masalah yang lebih besar.

“Baru setengah jam aku berkendara, ada trafo di kanan jalan yang meledak di depanku,” ujar Sarjana Pendidikan Seni tersebut.

Beruntung, kejadian itu tak melukai dirinya. Putri tetap tancap gas menuju lokasi wawancara sehingga tetap bisa tiba tepat waktu. Eh tidak tahunya, di sana ia masih di ghosting. Putri di minta menunggu selama satu setengah jam–lebih dari jadwal yang ditentukan.

Iklan

“Wawancaraku akhirnya selesai sore. Akhirnya aku sampai di rumah sekitar pukul 20.00 WIB. Aku jadi harus melewati hutan-hutan yang gelap sendirian,” kata Putri.

Luka yang tak pernah hilang

Setelah melewati perjuangan tersebut, Putri malah tak diberi kabar sama sekali. Apakah ia diterima atau ditolak? Hingga saat ini, hasilnya masih tanda tanya. Tapi tentu saja, karena sudah beberapa bulan berlalu, Putri sudah bisa menyimpulkannya sendiri.

“Itu terakhir kalinya aku daftar kerja karena aku sudah benar-benar capek. Aku nggak habis pikir, apakah HR sesulit itu mengirim email balasan?” tanya Putri.

Setelah kejadian itu, Putri akhirnya kerja freelance kembali sebagai seorang content writer. Beberapa tahun kemudian, Putri kembali harus menerima duka. Di awal tahun 2025, ayah Putri meninggal.

“Kepergian ayah mengubah banyak hal dalam hidupku. Sekarang aku harus ikut andil melakukan pekerjaan berat yang dulu beliau lakukan. Seperti ngasih makan kambing, ngarit rumput untuk pakan, sama bantuin ibu. Singkatnya, aku menggantikan peran ayahku yang dulu,” tutur Sarjana Pendidikan Seni tersebut.

Tak sampai di situ, 100 hari setelah ayahnya meninggal, Putri kembali mendapat kabar buruk.

“Aku dipecat one monetize dari agensi freelance-ku, karena mereka juga kesulitan finansial,” ucap Putri.

Dihina karena sarjana nganggur

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, bukannya mendapat dukungan dari keluarga besar, Putri justru menjadi bahan omongan oleh tante dan pamannya. Mereka mulai mengungkit-ungkit gelar sarjana kuliah Putri, tapi belum dapat pekerjaan yang mapan.

“Seolah-olah aku hina banget karena sarjana tapi nggak jadi pegawai malah ikut-ikutan bertani kayak orang tuaku dulu. Seolah-olah aku ini contoh yang buruk untuk anak-anak mereka,” ujar Putri.

Padahal, untuk bertahan hidup satu hari saja, Putri mesti berjuang mati-matian. Ia pun tak berdiam diri di rumah dan tetap melakukan aktivitas ayahnya dulu sambil membuka usaha kecil-kecilan. Misalnya, menjual jilbab sembari membuat beauty content. 

Saat Putri berjuang dalam senyap, pamannya justru ingin mengirim Putri ke mantan bosnya yang ada di Bogor untuk bekerja.

“Aku suruh sendiko dawuh ke mantan bos pamanku. Dia bilang, kalau disuruh apapun, entah itu bantuin ngepel, nyapu, nyuci, aku harus mau,” cerita Putri. 

Tekanan dari saudara-saudara Putri selepas ayahnya meninggal, membuat dia malas untuk pergi keluar rumah selama dua tahun lamanya. Hingga ia mendatangi psikolog untuk mengatasi masalah tersebut. Kini, Putri mengaku jauh lebih baik dari biasanya. 

“Hal pahit yang aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa menolong kalian tuh ya diri kita sendiri, walaupun sekarang mungkin kita belum tahu caranya. Yang penting kalian jangan pernah berhenti untuk melangkah dan tetap fokus apa yang ada di depan kalian.” Kata Putri.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Ditolak UB dan Terpaksa Kuliah di Kampus Tak Terkenal, Kini Malah Sukses: Dapat Kerja Gaji Dua Digit setelah Ratusan Lamaran Ditolak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Desember 2025 oleh

Tags: kuliah s1S1sarjanasarjana nganggurSarjana Pendidikan Senisulit cari kerja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO
Edumojok

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO
Urban

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Lulusan UT, Universitas Terbuka.MOJOK.CO
Edumojok

Diremehkan karena “Cuma” Lulusan UT, Tapi Bersyukur Nasib Lebih Baik daripada S1-S2 PTN Top yang Menang Gengsi tapi Nganggur

3 Maret 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO
Edumojok

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
Gen Z rela sise hustle

Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan

30 Maret 2026
Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.