Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ditolak UB dan Terpaksa Kuliah di Kampus Tak Terkenal, Kini Malah Sukses: Dapat Kerja Gaji Dua Digit setelah Ratusan Lamaran Ditolak

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Juni 2025
A A
Universitas Brawijaya (UB) Malang.MOJOK.CO

Ilustrasi Ditolak UB dan Terpaksa Kuliah di Kampus Tak Terkenal, Kini Malah Sukses: Dapat Kerja Gaji Dua Digit setelah Ratusan Lamaran Ditolak (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Universitas Brawijaya (UB) Malang menjadi nama kampus yang selalu terngiang di benak ribuan calon mahasiswa di Indonesia. Konon, siapa pun yang berhasil kuliah di sini, merupakan “bibit-bibit unggul masa depan”.

Kalau menurut narasumber Mojok, Fanny (25), “satu kiki sudah melangkah ke arah kesuksesan,” ujarnya, Selasa (10/5/2025) malam.

Iklan

Anggapan tersebut wajar-wajar saja. Sebab, kampus ini memang terkenal mencetak lulusan yang “siap sukses” di masa depan. Mahasiswa UB Malang, memang terkenal dengan prestasinya.

Tiap gelaran Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), mahasiswa dari kampus ini selalu nangkring di jajaran atas podium kemenangan.

Maka, tak heran kalau animo calon mahasiswa buat daftar ke kampus ini begitu besar. Pada tahun 2025 saja, jumlah pendaftar SNBP adalah 35.919 orang–hanya 3.739 yang diterima. Sementara dalam UTBK, 20.859 calon mahasiswa tercatat mendaftar di UB Malang.

“Tapi, buat yang ditolak dari kampus ini pun, punya kans yang sama buat sukses. Nggak usah minder,” ujar Fanny. Ia memang satu dari sekian banyak orang yang tertolak dari UB Malang.

Ditolak UB Malang bagai mendapat “vonis mati”

Bagi Fanny, Universitas Brawijaya (UB) Malang adalah cinta pertamanya. Entah bagaimana mulanya, sejak SMA ia sangat mendambakan bisa kuliah di kampus negeri Malang tersebut.

“Nggak tahu kenapa, merasa dekat aja secara emosi dengan Brawijaya (UB). Mungkin juga salah satunya karena banyak siswa di sekolahku yang kuliah di sana, dan hampir semuanya sukses,” kata Fanny.

Maka dari itu, ia mempersiapkan segalanya setelah ditolak UB Malang pada jalur SNBP 2019 (dulu SNMPTN). Fanny begitu intensif mengikuti bimbel, jam tambahan yang diberikan sekolah, hingga aktif dalam kelompok belajar di kotanya.

Saat menjalani SNBT (dulu SBMPTN) pun, dia sangat percaya diri bisa lolos karena persiapannya sangat matang. Saat itu, ia meletakkan S1 Hubungan Internasional (HI) di pilihan pertama dan S1 Ilmu Pemerintahan.

Sialnya, realitas tak selalu sejalan dengan harapan. “Aku masih ingat betul ketika pengumuman SBMPTN keluar, rasanya jantung mau copot. Nggak sanggup bukanya,” kata dia.

“Pas aku beraniin buka, aku lihatnya sambil merem-melek. Waktu yang muncul tulisan ‘Tidak Lolos, kaki lemes banget. Rasanya seperti kena vonis mati.

Fanny begitu terpukul. Cukup lama ia terpuruk dalam kegalauannya. Bahkan, ketika mengikuti seleksi mandiri pun, mentalnya belum benar-benar pulih sehingga mengerjakan soal demi soal dengan kurang maksimal. Ia pun juga gagal di jalur seleksi ini.

Ditolak UB Malang, akhirnya menerima kenyataan kuliah di kampus kurang terkenal

Meski terpuruk, Fanny sadar bahwa hidup harus tetap berjalan. Setelah berdiskusi dengan orang tua, ia memutuskan untuk kuliah di kampus swasta Malang. Bagi Fanny, kuliah di PTS masih menjadi opsi yang lebih baik kala itu ketimbang gap year dan mendaftar lagi ke Universitas Brawijaya (UB) Malang tahun berikutnya.

“Kuliah di universitas kurang terkenal, jurusannya pun masih akreditasi B. Tapi memang ini dipilih karena sesuai passion dan biaya kuliah nggak terlalu mahal,” jelasnya.

Jujur saja, Fanny mengakui bahwa selama empat tahun kuliah di sana, ia dihantui perasaan inferior. Terlebih, teman-teman dekatnya banyak yang lolos UB Malang atau PTN berkelas lainnya.

Tiap kali ngumpul bareng teman-temannya, perasaan rendah diri selalu muncul. Meskipun, ia juga paham bahwa teman-temannya baik; tak ada yang mengungkit atau membeda-bedakan status cuma gara-gara kuliah di kampus tak terkenal.

Fanny menjalani kuliah laiknya mahasiswa normal lainnya. Kuliah, nugas, ngambis, hingga akhirnya menyelesaikan studinya tepat 4 tahun pada awal 2023 dengan predikat cumlaude. “IPK-ku 3,6,” ujarnya.

Iklan

Ratusan lamaran kerja ditolak

Bagi Fanny, hidup yang sebenarnya baru saja dimulai setelah kelulusannya. Jujur, ia merasa makin inferior. Meskipun ijazahnya berpredikat cumlaude, ia merasa “kecil” karena cuma kuliah di kampus kurang terkenal.

Sementara bursa kerja di kotanya, sudah pasti diisi oleh mereka yang lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang–cinta pertamanya yang tak bisa ia miliki. “Setelah itu yang jelas hidup cuma penuh pengandaian. Ya ‘seandainya aku lolos UB Malang’, ‘seandainya ini, itu,” ujarnya.

Perasaan inferior itu berdasar. Sebab, selama nyaris setahun, Fanny belum mendapatkan kerja tetap. Lamaran-lamaran yang ia sebar melalui Linkedin maupun Glints dan dikirim langsung ke perusahaan, tak ada satu pun yang dibalas.

“Ada kali aku ngirim lamaran jumlahnya 100. Kalau dihitung beneran, mungkin malah lebih,” katanya.

Selama setahun itu juga Fanny kerja serabutan dengan mengerjakan proyek-proyek digital. Beberapa proyek ini ia dapat di situs seperti Fiverr, dan sebagian lagi diberikan oleh teman-teman serta relasinya.

“Namanya freelance, kadang dapat kecil dan besar. Kadang malah nggak dapat sama sekali karena nggak ada proyek.”

Kerja WFH bergaji dolar, dua digit per bulan

Awalnya, Fanny memang berpikir “kuliah di UB Malang adalah jalan menuju kesuksesan”. Makanya, ketika ditolak UB Malang dan berakhir di kampus tak terkenal, dunianya seperti runtuh.

Namun, ia menyadari bahwa Tuhan selalu punya rencana. Selalu ada jalan tak terduga untuk mencapai kesuksesan.

Pada pertengahan 2024 lalu, setelah lebaran, Fanny dihubungi oleh temannya. Teman bilang bahwa klien di luar negeri senang dengan proyek yang ia kerjakan dan hendak menawarinya kontrak kerja.

Awalnya, Fanny sempat ragu. Sebab, semua malah terkesan seperti penipuan.

“Banyak hal yang nggak masuk akal. Terutama soal gaji pakai dolar yang kalau di-rupiah-kan gede banget. Belum lagi kerjanya itu WFH, alias effortless banget.”

Namun, setelah melakukan rangkaian interview, ia yakin bahwa perusahaan tersebut serius meng-hire dia. Tanpa pikir panjang setelah menyelesaikan sejumlah persyaratan administrasi, Fanny resmi kerja di perusahaan asal Amerika Serikat tersebut per Juni 2024.

“Rasanya senang, karena ini seperti harapan banyak orang bisa kerja dengan gaji dua digit,” ujarnya. “Paling repotnya cuma kalau ada meeting aja sih, soalnya waktu sini sama di AS kan kebalik. Jadi sering banget meeting dini hari gitu.”

Fanny membuktikan, ditolak kampus idaman seperti UB Malang, bukan akhir dari segalanya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Cerita Lulusan S2 Kedokteran UB Malang Pilih Jualan Kambing: Karena Penghasilan Dokter Nggak Seberapa, Tapi Beban Kerja Luar Biasa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 24 November 2025 oleh

Tags: mahasiswa malangmahasiswa ubMalangpilihan redaksiub malangUniversitas Brawijaya
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.