Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mendengar Alasan Para Perempuan Belajar Muay Thai: Lebih Efektif Buat Bela Diri, Tanpa Perlu Gimik Tenaga Dalam Khodam

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Agustus 2024
A A
Mendengar Alasan Para Perempuan Belajar Muay Thai: Lebih Efektif Buat Bela Diri, Tanpa Perlu Gimik Tenaga Dalam Khodam.MOJOK.CO

Ilustrasi Mendengar Alasan Para Perempuan Belajar Muay Thai: Lebih Efektif Buat Bela Diri, Tanpa Perlu Gimik Tenaga Dalam Khodam (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Muay Thai sedang jadi tren di kalangan perempuan, khususnya di Jogja. Mereka menganggap, manfaat dari latihan bela diri asal Thailand ini sangat nyata. Setidaknya jauh lebih on point ketimbang bela diri lain yang mengandalkan gimik-gimik seperti ngasih khodam biar menjadi sakti.

***

Sejak enam bulan terakhir, story WA Radita (26) penuh dengan video-videonya yang sedang berlatih Muay Thai. Aktivitasnya itu juga beberapa kali ia bagikan ke Reels Instagram-nya.

Jujur, saya cukup kaget. Sebab, sejak mengenal alumnus PTS Jogja ini pada 2017 lalu, saya melihatnya sebagai pribadi yang tak terlalu menyukai olahraga. Buat jogging saja mager, apalagi buat menekuni olahraga keras seperti bela diri.

Namun, Radita yang dulu bukanlah yang sekarang. Perempuan asal Padang ini mengaku mengalami banyak masalah sejak dua tahun belakangan. Masalah-masalah itu pun lambat laun mengikis kesehatan mentalnya.

“Beberapa kali konsultasi dengan psikolog, aku disarankan buat mengubah gaya hidup. Terutama direkomendasikan buat rutin berolahraga,” ujarnya, saat Mojok wawancarai Selasa (7/8/2024) malam.

Awalnya, ia melakukan rutinitas olahraga ringan seperti jogging dan bersepeda. Akan tetapi, ketika teman-temannya banyak yang ikut latihan Muay Thai, ia penasaran buat gabung.

“Ya awalnya fomo, temen pada ikutan, aku juga gabung sama mereka. Tapi makin kesini, makin terasa manfaatnya,” kata lulusan perempuan yang kini bekerja di bidang media dan fotografi ini.

Muay Thai jadi stress release sekaligus latihan bela diri

Muay Thai adalah olahraga bela diri pertama yang pernah diikuti Radita seumur hidupnya. Alhasil, itu menjadi sesuatu yang asing. Bagaimana tidak, perempuan yang awalnya kalem dituntut untuk bisa punch, elbow, kick, sampai knee.

Teknik-teknik dalam Muay Thai tersebut membutuhkan kekuatan fisik dan menyebabkan benturan antarbadan.  Dua hal yang seumur hidup Radita tak pernah bayangkan.

“Aku yang orangnya nggak tegaan, kudu latihan mukul orang lain. Nggak sekadar mukul, tapi mukul pakai power. Itu aneh banget pada awalnya,” ungkap Radita.

Lama kelamaan, dia jadi menikmati setiap latihan yang diberikan sang pelatih. Baginya, memukuli samsak dapat menjadi stress release-nya saat terbebani banyak masalah.

“Misal lagi stres, lagi sebel sama orang. Itu abis mukul-mukul samsak rasanya jadi lega. Kayak ada yang dilampiaskan gitu,” jelas Radita.

Selain itu, belajar Muay Thai juga bikin Radita lebih merasa nyaman. Terutama saat berada di public space. 

Iklan

Oleh pelatihnya, ia diajari banyak teknik membela diri. Seperti bagaimana caranya menghindari serangan, menyerang balik, sampai mengunci lawan. Hal ini, menurut Radita, sangat bermanfaat. Khususnya bagi perempuan sepertinya yang rentan mengalami kejahatan jalanan.

“Sekarang ‘kan marak banget kasus pelecehan seksual di jalanan. Seenggaknya, aku merasa lebih safety. Amit-amit kalau kejadian, aku punya cara buat melawan balik.”

Lebih terasa manfaatnya daripada bela diri lain

Selain Radita, latihan Muay Thai juga sedang ditekuni Tara (25). Bedanya, Tara sudah belajar bela diri ini lebih lama ketimbang Radita. Kira-kira sejak satu setengah tahun yang lalu.

Awalnya, ia belajar Muay Thai di daerah asalnya, Bandung. Setelah pindah ke Jogja untuk urusan pekerjaan, rutinitasnya itu sempat ke-skip beberapa bulan. Namun, dua bulan ke belakang, ia kembali rutin berlatih.

“Dulu masih nyari-nyari, di mana tempat latihan di Jogja. Akhirnya setelah nemu ya cus aja, karena pada dasarnya memang suka bela diri,” ungkap Tara, Rabu (7/8/2024) pagi.

Bela diri, bagi Tara, bukanlah hal yang asing. Sejak SMP ia sudah aktif sebagai pesilat di salah satu perguruan silat. Bahkan, Tara pernah mewakili SMP-nya sebagai atlet kompetisi silat antarsekolah.

Namun, minatnya akan silat mulai redup saat SMA. Ia sepenuhnya tak pernah mengerti apa yang menyebabkan minatnya pada silat jadi memudar. Tapi yang jelas, ada rasa muak dan kecewa pada para pesilat di laur sana yang memanfaatkan seni bela diri untuk berlagak sok jago.

“Itu bikin semua pesilat jadi dipukul rata. Seolah-olah yang belajar silat itu suka bikin keributan di jalanan. Ya, baru-baru ini masih fresh banget kan, pesilat gebukin polisi,” ujarnya.

Makanya, buat menjaga kebugarannya, pada 2023 lalu ia mulai menekuni olah raga bela diri lain dalam bentuk Muay Thai. Bagi Tara, manfaat latihan bela diri ini jauh lebih bisa dia rasakan.

“Terutama banget buat kesehatan ya. Karena aku pernah punya masalah sama siklus tidur yang berantakan, bikin stres. Setelah latihan Muay Thai, semua balik normal.”

Tak ada gimik tenaga dalam isi khodam dalam Muay Thai

Saya juga meminta pendapat Tara, terkait apa yang bikin beda antara Muay Thai dengan bela diri lain. Sebagai orang yang pernah menekuni “bela diri lain”, tentu Tara punya pandangannya.

Bagi dia, jelas secara teknis ada perbedaan. Teknik dan jurus yang diajarkan beda. Dalam silat, misalnya, beda aliran saja jurus yang diajarkan tak sama, apalagi sudah beda olah raga.

Namun, secara lebih jauh, Tara juga menekankan padangannya bahwa Muay Thai adalah olahraga yang “on point”: fokus ke kata bela dirinya.

“Jadi istilah bela diri itu emang beneran buat membela diri. Teknik-teknik yang diajarkan, on point banget buat membela diri, bukan buat gegayaan. Itu yang aku rasain,” jelas perempuan asal Bandung ini.

“Apalagi, sepengamatan aku, belum lihat anak-anak Muay Thai pamer power atau engkol-engkolan di jalanan. Lebih well educated lah. Tapi bukan berarti yang lain nggak berpendidikan lho ya.”

Sambil tertawa, Tara juga berkelakar, dalam Muay Thai tak terlalu banyak gimik. Misalnya, yang diajarkan jelas: teknik memukul, menyiku, menendang, knee, sampai clinch. Kata dia, “tak ada gimik-gimik tenaga dalam seperti ngisi khodam biar sakti”.

“Aku dulu pernah punya teman, mengaku punya ‘isian’ macan kumbang di tubuhnya. Katanya dikasih guru. Ya aku sih percaya nggak percaya,” pungkasnya.

Soal gimik isi khodam dalam pencak silat, sebelumnya Mojok pernah mewawancarai Adri (21), pesilat PSHT yang menjadi narasumber liputan “Pencak Silat Tenaga Dalam Suka Kasih Isian Jin Khodam, Sebuah Tipuan yang Tak Bikin Sakti Malah Hanya Menyiksa Tubuh”.

Seperti rasa skeptis Tara, bagi Adri yang pernah diajari ilmu tenaga dalam pakai isian khodam, merasa itu hanya tipu-tipu saja. Kalau pun merasa benar-benar dihinggapi “makhluk tertentu”, semua cuma sugesti.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Curhat Guru Pencak Silat Kera Sakti: Seumur Hidup Belum Pernah Berkelahi, Tapi Tiap PSHT Kisruh Selalu Dibawa-bawa

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2024 oleh

Tags: bela dirimuay thaipencak silatPSHTthailand
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Atlet pencak silat Unair, Faryska Ozi Faradika. MOJOK.CO
Kampus

UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

20 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO
Ragam

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Atlet pencak silat asal Kota Semarang, Tito Hendra Septa Kurnia Wijaya, raih medali emas di SEA Games 2025 Thailand MOJOK.CO
Kilas

Menguatkan Pembinaan Pencak Silat di Semarang, Karena Olahraga Ini Bisa Harumkan Indonesia di Kancah Internasional

22 Desember 2025
Jadi manusia paling apes dan ironis: Punya kakak PSHT fanatik dan bapak kru sound horeg sampai batin tertekan MOJOK.CO
Ragam

Nasib Jadi Manusia Paling Apes dan Ironis: Punya Kakak Fanatik PSHT dan Bapak Kru Karnaval Sound Horeg, Hari-hari Batin Tersiksa

15 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.