Ketika sebagian mahasiswa ingin masuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) atau Himpunan Mahasiswa (HIMA), Randi Prayoga justru masuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci untuk belajar organisasi di Universitas Airlangga (Unair).
Tapak Suci menguatkan spiritualitas
Randi Prayoga berujar pernah mengikuti pencak silat di perguruan Tapak Suci sejak kelas 7 SMP, tapi kemudian vakum setahun setelahnya sebab tertarik dengan olahraga lain.
“Karena latar belakangku berasal dari keluarga yang rata-rata anggota Tapak Suci, jadi awalnya ikut-ikutan saja,” kata Randi saat dihubungi Mojok, Senin (20/4/2026).
Namun ternyata, setelah lama vakum, tambatan hatinya tetap ada di perguruan Tapak Suci terutama setelah dia diterima sebagai Mahasiswa Vokasi Unair Jurusan Perbankan dan Keuangan tahun 2024.
Randi yang tadinya ingin fokus ke dunia akademik kemudian berpikir untuk menambah prestasinya di bidang olahraga. Sebab, kata dia, dunia kerja sekarang tak hanya membutuhkan hard skill tapi juga soft skill. Terutama dalam hal mengontrol diri.
“Tapak Suci sendiri merupakan organisasi pencak silat yang tidak hanya mengajarkan bela diri, tapi juga mengajarkan spiritual yang kuat dalam ibadah,” ucapnya.
“Dan yang paling penting, Tapak Suci tidak pernah rasis atau tawuran di jalan. Fokusnya pada pengembangan prestasi,” lanjut Randi.
Berdasarkan pengamatan Randi, konflik antara perguruan pencak silat memang sering terjadi. Mulai dari tawuran antar perguruan lain hingga bikin rusuh warga. Namun, dari banyaknya berita yang ada, ia jarang menjumpai nama Tapak Suci sebagai biang onar.
Cara bagi waktu antara kuliah dan latihan
Oleh karena itu, di tengah banyaknya stigma soal anggota pencak silat yang suka tawuran, main keroyokan, atau bahkan buang-buang waktu, Randi bersyukur bisa mengenal Tapak Suci. Baginya, Tapak Suci bukan sekadar olahraga biasa tapi merubah hidupnya ke arah yang lebih baik.
“Aku pernah dapat beasiswa pendidikan berkat prestasiku di Tapak Suci dan dapat 2 gelar terbaik setiap tahunnya berkat prestasi tersebut,” ucap mahasiswa Unair itu.
Meski sibuk dengan jadwal latihan, Randi mengaku tak melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa. Guna mengatur waktu kuliah dan latihan, Randi membuat mapping kegiatan selama satu bulan.
Tak hanya dicatat, kata Randi, tapi harus direalisasikan. Ia juga belajar dari teori manajemen waktu yang berfokus pada skala prioritas, pengelolaan diri, dan keseimbangan antara tugas mendesak dan penting.
“Aku juga berusaha produktif 8 jam dalam sehari, sisanya bisa aku gunakan untuk hobi seperti latihan pencak silat dan juga bekerja atau mengikuti organisasi,” kata atlet Tapak Suci tersebut.
Memborong prestasi di luar Tapak Suci
Di perguruan Tapak Suci Unair, Randi tak hanya latihan fisik dan mental tapi juga belajar mengkoordinasi tim. Sebagai Wakil Ketua 2 Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Unair, Randi harus memantau latihan para atlet yang terdiri dari berbagai perguruan pencak silat. Mulai dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Merpati Putih, Perisai Diri, hingga Pagar Nusa yang merupakan UKM di Unair.
Salah satu tugasnya adalah menjadi manager di Indonesia Pencak Silat Paku Bumi Open 14th Championship 2026, hingga membawa timnya memperoleh juara umum di ajang internasional tersebut.
“Di sana, aku dan manajer lainnya sangat menjaga kondisi kesehatan atlet agar tetap prima saat bertanding,” kata Randi.
Dengan manajemen waktu yang tepat, Randi berhasil mewujudkan mimpinya, baik prestasi di bidang olahraga maupun akademik. Sebab menurutnya, cerdas di bidang akademik juga sama pentingnya. Dulu, saat Randi merasa putus asa karena takut tidak bisa kuliah, prestasi itulah yang menyelamatkannya.
“Aku masuk Unair jalur prestasi (SNBP) dengan melampirkan e-sertifikat nasional olimpiade ekonomi yang diadakan oleh beberapa universitas di Jawa Timur maupun nasional,” kata Randi yang rutin mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) saat SMA.
Di tahun 2024, ia berhasil mendapat beasiswa dari PT Petrokimia Gresik di tengah kesibukannya latihan bela diri dan kuliah. Di tahun yang sama, ia juga pernah meraih Juara 3 Kelas E Silat Dewasa Putra, Airlangga Championship Tapak Suci Open National 2024.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Tapak Suci Menyelamatkan Saya yang Nggak Jago Akademik hingga Bisa Kuliah di UNESA, meski Dulu Diremehkan karena Kurang Atletis dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














