Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cara Pikir dan Cara Kerja Lurah-Camat di Surabaya Perlu Diubah biar Nggak Repotkan Masyarakat

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 September 2024
A A
Cara Pikir Lurah dan Camat di Surabaya agar Tidak Repotkan Warga MOJOK.CO

Ilustrasi - Cara pikir lurah dan camat di Surabaya yang perlu diubah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mindset (cara pikir) sekaligus cara kerja lurah dan camat di Surabaya dalam pelayanan masyarakat agaknya perlu diubah. Itulah yang Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi tekankan dalam pengarahan di Graha Sawunggaling Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Senin (2/9/2024) lalu.

Cak Eri, sapaan akrab Eri Cahyadi, mendorong lurah, camat, dan perangkat-perangkat daerah (PD) di lingkungan Pemkot Surabaya agar mereka memberi pelayanan publik secara efektif dan efisien. Pelayanan yang praktisnya tidak membuat masyarakat repot, tapi justru memberi tawaran kemudahan.

“Salah satu contohnya adalah penerapan konsep pelayanan publik di balai RW. Setiap kelurahan dilengkapi dengan satu tenaga kesehatan dan satu kelurahan satu unit ambulans,” tutur Cak Eri seperti keterangan tertulis Humas Pemkot Surabaya.

Lurah dan camat Surabaya harus manfaatkan teknologi

Kepada lurah, camat, dan PD di Surabaya, Cak Eri menekankan betul agar mereka memanfaatkan teknologi dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat. Selain memudahkan, hal ini juga akan membuat masyarakat menjadi pintar dan terbiasa dengan teknologi.

“Misal pada waktu pegawai (keluarahan atau kecamatan) izin kerja, warga tidak perlu urus KTP datang ke kantor kelurahan. Dengan begini, maka tidak ada lagi pelayanan publik yang terhambat,” ucap Cak Eri.

Cara Pikir Lurah dan Camat di Surabaya agar Tidak Repotkan Warga MOJOK.CO
Eri Cahyadi dalam pengarahan terhadap lurah, camat, dan perangkat daerah di Surabaya, Senin (2/9/2024). (Dok. Humas Pemkot Surabaya)

Pemanfataan teknologi, kata Cak Eri, perlu dimassifkan karena sudah ada beberapa program pelayanan publik yang terbukti efektif dan efisien saat memanfaatkan perangkat teknologi. Misalnya dalam kasus penanganan stunting.

Dalam tiga tahun terakhir sejak mengoptimalkan teknologi berupa aplikasi Sayang Warga, angka (prevalensi) stunting Surabaya turun menjadi 1,6%, dari yang sebelumnya 28,95% di tahun 2021.

Begitu juga dalam urusan absensi pegawai di lingkungan Pemkot Surabaya. Teknologi bisa dimaksimalkan agar absensi pegawai menjadi lebih praktis dan efisien.

“Jadi absen bisa dilakukan di mana pun, yang terpenting adalah output dan outcome-nya per hari itu ada,” tegas mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya itu.

Bekerja untuk kepentingan dan kebahagiaan masyarakat

Cara pikir sekaligus cara kerja berikutnya yang Cak Eri tekankan pada lurah, camat, dan PD Surabaya adalah terkait orientasi pelayanan mereka terhadap masyarakat. Kata Eri, kerja lurah, camat, dan PD Surabaya harus berorientasi pada kepentingan penuh dan kebahagiaan masyarakat.

“Jadi saya ingin mengubah mindset camat dan lurah agar tidak bekerja dengan perintah otoriter, tetapi lebih kepada apa yang diinginkan warga, didiskusikan dan dijalankan. Itu yang saya bentuk hari ini,” jelas Cak Eri.

Misalnya dalam kasus peningkatan data warga miskin. Sering kali lurah atau camat di Surabaya merasa takut jika data warga miskin di tempatnya bertambah. Jika bertambah, ada ketakutan dari lurah atau camat itu kalau mereka bakal dicopot dari jabatannya.

Hal-hal semacam ini bisa menjadi pemicu terjadinya penyelewangan-penyelewengan data. Padahal, jika melihat data warga miskin bertambah, maka cara pikir lurah atau camat di Surabaya tersebut harusnya melihatnya sebagai sebuah peluang untuk meningkatkan pelayanan: peluang untuk memberikan bantuan yang lebih tepat sasaran.

“Jadi saya sampaikan, kerja ini untuk kebahagiaan warga. Maka saya minta camat dan lurah collect semuanya dalam satu RW itu, apa yang dibutuhkan warga. Misal paving atau apa? Nah, nanti kita buatkan prioritas,” beber Cak Eri.

Iklan

Lurah dan camat Surabaya harus bekerja dengan hati

Tak luput Cak Eri meminta (secara tak langsung) agar lurah dan camat di Surabaya menghapus perasaan pamrih: mendapat pengakuan atau pujian dalam kerja mereka melayani masyarakat. Cak Eri meminta para lurah dan camat di Surabaya bekerja dengan hati: tulus demi kepentingan masyarakat.

Sebab nyatanya, jika cara pikir sekaligus cara kerja lurah, camat, serta PD di Kota Pahlawan tak meninggalkan tiga aspek tadi (teknologi, orientasi pada kepentingan masyatakat, dan bekerja tanpa pamrih), perubahannya perlahan-lahan ternyata bisa terlihat dan dirasakan.

“Inilah yang saya ajarkan ke teman-teman (lurah, camat, dan PD Surabaya selama tiga tahun terakhir. Bagaimana dengan kemajuan teknologi, bekerja dengan hati, bisa mengubah semuanya,” tandas Cak Eri.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Sidoarjo 25 Tahun dalam Kebobrokan, Sudah Seharusnya Belajar pada Surabaya

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 10 September 2024 oleh

Tags: camat surabayaeri cahyadikecamatan di surabayakelurahan di surabayalayanan publik surabayapilihan redaksiSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co
Urban

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik

9 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.